Jumat, 03 April 2026

Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film siap hadir di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 April 2026. Menghadirkan kisah yang dekat dengan pergulatan hidup manusia tentang keyakinan, kehilangan, dan pencarian makna hidup, Yohanna menawarkan pengalaman menonton yang emosional sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. 

Dibintangi oleh Laura Basuki, Yohanna mengisahkan seorang biarawati muda yang dikirim ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, untuk menjalankan misi kemanusiaan pasca bencana Badai Tropis Seroja. Ketika truk berisi donasi yang ia bawa dicuri, misi yang tampak sederhana itu membawanya masuk ke dalam realitas Sumba yang keras: kemiskinan yang mencengkeram, aparat yang korup, dan anak-anak yang terpaksa bekerja di usia yang seharusnya mereka habiskan untuk bermain. 
Di tengah kenyataan yang berat, ia juga harus berhadapan dengan krisis keyakinan dan identitas dirinya sebagai seorang biarawati. Melalui sudut pandang karakter Yohanna, penonton diajak menyelami perjalanan batin yang dekat dan relevan dengan kehidupan banyak orang.

"Saya pastikan Yohanna bukanlah film tentang agama apalagi cerita satu agama tertentu. Saya ingin membuat film dengan pesan universal. Yohanna mengalami apa yang kita semua pernah rasakan, titik di mana kita bertanya, apakah semua yang kita yakini selama ini benar adanya. Itu bukan pertanyaan milik seorang biarawati saja. Itu pertanyaan kita semua. Jadi saya bisa pastikan Yohanna akan meninggalkan kesan menonton yang mendalam dan berbeda dari film Indonesia kebanyakan." ujar Razka Robby Ertanto, Sutradara dan Penulis Skenario Yohanna.

Hal senada juga disampaikan oleh Laura Basuki, yang berkat penampilannya di film Yohanna dinobatkan sebagai Best Actress di Asian Film Festival 2025. Laura mengungkapkan bahwa kisah dalam film ini terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup banyak orang, dan karakter Yohanna memberinya banyak pelajaran hidup.

"Yang membuat saya sangat terhubung dengan Yohanna adalah karena pergulatan yang ia alami sebenarnya sangat manusiawi. Kita semua pernah berada di titik mempertanyakan hidup, keyakinan, bahkan diri sendiri. Karena itu saya percaya film ini akan terasa dekat bagi banyak orang." ujar Laura Basuki, Pemeran Yohanna

Penonton bioskop Indonesia akan menyaksikan Yohanna dalam versi yang sedikit berbeda dari yang tayang di festival internasional. Jika versi festival dibangun dengan pendekatan yang lebih eksperimental, penuh lompatan waktu dan ruang interpretasi terbuka, maka versi bioskop hadir dengan alur yang lebih kronologis dan mengalir.

Penyesuaian ini dilakukan bukan untuk menyederhanakan, melainkan untuk memastikan pesan utama film dapat menjangkau penonton seluas-luasnya dari berbagai latar belakang
"Kami ingin pesan dan emosi yang dirasakan penonton di berbagai festival internasional juga bisa sampai dengan hangat kepada penonton di Indonesia. Strukturnya kami rapikan, tetapi roh ceritanya tidak kami sentuh. Terlebih, film ini juga telah mendapatkan klasifikasi SEMUA UMUR dari Lembaga Sensor Film (LSF)" tambah Robby.

Sebelum tiba di bioskop Indonesia, Yohanna telah membuktikan dirinya di berbagai festival film. Film ini meraih lima penghargaan dalam Indonesian Screen Awards JAFF 2024, yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Storytelling Terbaik, Akting Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.
Film ini juga dinobatkan sebagai Film Pilihan Tempo 2024, serta mengantarkan Laura Basuki meraih Best Actress di Asian Film Festival 2025 di Roma, Italia. Sebelumnya, Yohanna memulai debut dunia di Rotterdam International Film Festival ke-53, dan terpilih sebagai Official Selection Adelaide Film Festival 2025, Australia.
Selain dibintangi Laura Basuki, film Yohanna juga menghadirkan Jajang C. Noer, Kirana Grasela, dan Iqua Tahlequa, serta melibatkan anak-anak Sumba sebagai bagian penting dari cerita. Informasi terbaru mengenai film Yohanna bisa diakses melalui kanal Instagram resmi Summerland di @summerland.films.

Cr 📸 : Arman Febryan 

Film Empat Musim Pertiwi Mengumumkan Jajaran Kolaborator di JAFF Market 2025: Riri Riza hingga Ernest Prakasa Jadi Produser Eksekutif

Yogyakarta, 29 November 2025 Forka Films mengumumkan detail terbaru dari film Kamila Andini mendatang, Empat Musim Pertiwi di JAFF Market 2025. Forka Films mengumumkan jajaran kolaborator yang menjadi mitra produser eksekutif di film ini. Mereka adalah: Miles Films, Imajinari, Trinity Optima, Jagartha, Navvaros, dan TEAMUP. Pengumuman tersebut dilakukan di Plaza Stage JAFF Market 2025, yang menjadi sorotan utama dari berbagai rangkaian.

Produser Empat Musim Pertiwi Ifa Isfansyah mengungkapkan antusiasmenya dalam mengumumkan jajaran kolaborator yang turut mendukung perjalanan film ini. Menurut Ifa, dengan dukungan jajaran kolaborator ini menjadi film dengan skala terbesar yang pernah ditangani Ifa.
"Senang sekali karena ini adalah film terbesar dari Kamila Andini yang selama ini saya produseri. Melibatkan banyak mitra, dengan dukungan pendanaan yang besar, namun tetap memberikan ruang kemerdekaan. Film Empat Musim Pertiwi membawa suara yang penting dari Kamila Andini, yang juga penting untuk didengar oleh banyak penonton," kata produser Empat Musim Pertiwi Ifa Isfansyah.

"Melalui karakter Pertiwi, yang ingin dibicarakan di film ini adalah kekuatan kolektif perempuan," tambah penulis dan sutradara Empat Musim Pertiwi Kamila Andini.

Salah satu yang mendasari keterlibatan Miles Films di film Empat Musim Pertiwi adalah karena kesamaan visi yang dimiliki. Bagi Riri, Kamila Andini memiliki visi dan suara yang luar biasa.

"Miles Films sudah berteman lama dengan Ifa dan Kamila Andini. Film ini memiliki cara pandang khusus, dengan kelompok pembuat film yang luar biasa, memberikan keyakinan akan menjadi film yang istimewa," ujar Riri Riza mengenai kolaborasi Miles Films di film Empat Musim Pertiwi.

Produser dan Co-Founder Imajinari, Ernest Prakasa mengungkapkan, sejak tahun ini Imajinari mulai memberikan dukungan dan menjalin kolaborasi dengan berbagai judul-judul film dan rumah produksi lain.

"Saat membaca naskah Empat Musim Pertiwi, sebagai penonton film-film Kamila Andini, saya merasa naskahnya ada sentuhan yang berbeda. Saat membacanya, ada ketegangan. Namun, ada satu hal yang menjadi benang merah dari karya-karya Kamila Andini, yakni urgensi dalam membuat filmnya menjadi penting," ujar Ernest Prakasa.

Sebelumnya, Empat Musim Pertiwi telah mengumumkan jajaran lengkap pemainnya. Film ini dibintangi oleh Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Totos Rasiti, Maryam Supraba, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradyana, Donikus, Shofia Shireen, dan Hana Aretha.

Putri Marino sebelumnya pernah bekerja sama dengan Ifa Isfansyah dan Kamila Andini dalam serial hit Gadis Kretek. Bagi Putri, kolaborasi terbarunya bersama Ifa dan Kamila di Empat Musim Pertiwi menjadi sebuah proses yang menyenangkan.

"Saat diceritakan naskahnya, dan kemudian membacanya, seru sekali. Menurut saya ini cerita yang penting. Saya memerankan karakter perempuan yang berada di lingkungan yang tidak mendengarkan apa yang ingin disuarakan," ujar Putri Marino.

Empat Musim Pertiwi yang memiliki judul internasional Four Seasons In Java merupakan ko-produksi antara Indonesia, Belanda, Norwegia, Prancis, Jerman, dan Singapura.

Sebelumnya, film ini telah terpilih untuk mengikuti berbagai program pendanaan internasional seperti Berlinale Co-production Market 2025, Tokyo Gap Financing Market 2025, dan Venice Gap-Financing Market 2025.

Dalam ajang Tokyo Gap-Financing Market (TGFM) 2025 yang menjadi bagian dari Tokyo International Film Festival (TIFF), Empat Musim Pertiwi memenangkan dua penghargaan, yaitu Tokyo Project Award dan Kongchak Studio Award.

Tokyo Project Award diberikan oleh komite seleksi kepada proyek paling menonjol berdasarkan pertemuan langsung dengan para perwakilan proyek. Sementara Kongchak Studio Award merupakan dukungan dari studio berbasis di Kamboja, berupa layanan sound post-production.
Ikuti perkembangan terbaru film Empat Musim Pertiwi melalui akun media sosial Instagram @forkafilms dan saksikan filmnya di bioskop pada tahun 2026!

Tentang FORKA FILMS

Forka Films, sebelumnya dikenal sebagai Fourcolours Films, adalah perusahaan produksi film berbasis di Indonesia yang dipimpin oleh sutradara dan produser Ifa Isfansyah. Sejak didirikan pada tahun 2001, Forka Films secara konsisten memproduksi karya-karya yang mendapatkan pengakuan di berbagai festival film internasional.

Beberapa karya terkemuka Forka Films antara lain:

  • Siti (Eddie Cahyono, Telluride 2015)
  • Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Film Resmi Indonesia untuk OSCARS 2018)
  • The Seen and Unseen (Kamila Andini, Toronto 2017)
  • Memories of My Body (Garin Nugroho, Venice Orizzonti 2018)
  • Yuni (Kamila Andini, Platform Prize Toronto 2021)
  • Before, Now & Then (Kamila Andini, Silver Bear Berlinale 2022)
  • Cigarettes Girl [Ifa Isfansyah & Kamila Andini, Best Mini Series Seoul International Drama Awards 2024)

Forka Films terus berkomitmen untuk mendukung keberagaman sinema Indonesia serta mengembangkan talenta baru, dengan visi menghadirkan karya-karya berkualitas yang relevan di tingkat global.

AKUN MEDIA SOSIAL

Instagram: @forkafilms
Tiktok: forka.films
YouTube: @forkafilms
Hashtag: #ForkaFilms

EMPAT MUSIM PERTIWI MERILIS FIRST LOOK RESMI SETELAH MENYELESAIKAN COLOR GRADING DI AMSTERDAM

Jakarta / Amsterdam, 2026 Forka Films merilis first look resmi Empat Musim Pertiwi (Four Seasons In Java), film terbaru karya sutradara Kamila Andini, menandai selesainya salah satu tahap akhir produksi: color grading di Storm Post Production Studio, Amsterdam.

Tahap color groding menjadi proses krusial dalam membentuk nuansa visual dan atmosfer emosional sebuah film. Untuk Empat Musim Pertiwi, proses ini dipercayakan kepada koloris internasional Peter Bernaers, yang dikenal melalui karya-karyanya dalam film What Happened to Monday, Raw, Mandy, Annette, dan Bergman Island. Bernaers juga merupakan koloris di balik Titane karya Julie Ducournau yang meraih penghargaan tertinggi Palme d'Or di Festival Film Cannes 2021, serta Annette karya Leos Carax yang membuka kompetisi festival tersebut di tahun yang sama.
Keterlibatan Bernaers menjadi bagian dari upaya Forka Films untuk menghadirkan standar sinematik. kelas dunia, sekaligus memperkuat kualitas visual dan pengalaman sinematik yang menjadi ciri khas. karya-karya Kamila Andini.
Empat Musim Pertiwi sendiri telah melalui perjalanan pengembangan di lebih dari enam project market internasional termasuk Berlinale Co-Production Market, CineMart Rotterdam, Venice Gop-Financing Market, dan Tokyo Gap Financing Market, dan mendapatkan dukungan dari tujuh pendanaan global diantaranya Hubert Bois Fund, CNC Cinema du Monde, Sørfond, Kementerian Kebudayaan Ri, dan Vision Sud Est, mencerminkan kuatnya posisi film ini dalam ekosistem perfilman internasional.
Empat Musim Pertiwi adalah ko-produksi internasional antara Indonesia, Perancis, Belanda, Norwegia, Singapura dan Polandia. Film ini dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim, dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah dari Forka Films bersama Anthony Chen dari Giraffe Pictures (Singapura).
Empat Musim Pertiwi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2026.

Tentang FORKA FILMS

Forka Films, sebelumnya dikenal sebagai Fourcolours Films, adalah perusahaan produksi film berbasis di Indonesia yang dipimpin oleh sutradara dan produser Ifa Isfansyah. Sejak didirikan pada tahun 2001, Forka Films secara konsisten memproduksi karya-karya yang mendapatkan pengakuan di berbagai festival film internasional.

Beberapa karya terkemuka Forka Films antara lain:

  • Siti (Eddie Cahyono, Telluride 2015)
  • Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Film Resmi Indonesia untuk OSCARS 2018)
  • The Seen and Unseen (Kamila Andini, Toronto 2017)
  • Memories of My Body (Garin Nugroho, Venice Orizzonti 2018)
  • Yuni (Kamila Andini, Platform Prize Toronto 2021)
  • Before, Now & Then (Kamila Andini, Silver Bear Berlinale 2022)
  • Cigarettes Girl [Ifa Isfansyah & Kamila Andini, Best Mini Series Seoul International Drama Awards 2024)

Forka Films terus berkomitmen untuk mendukung keberagaman sinema Indonesia serta mengembangkan talenta baru, dengan visi menghadirkan karya-karya berkualitas yang relevan di tingkat global.

AKUN MEDIA SOSIAL

Instagram: @forkafilms
Tiktok: forka.films
YouTube: @forkafilms
Hashtag: #ForkaFilms

Palari Films Rayakan 10 Tahun Perjalanan di Industri Film Indonesia, Memperkenalkan 7 Judul Film Terbaru: Monster Pabrik Rambut, Desember Jani, Menari dengan Bayangan, Baju Tebal, I Wanna Dance with Myself, Goldfish, dan Strange Root

Jakarta, 2 April 2026 Rumah produksi Palari Films merayakan 10 tahun perjalanannya di industri perfilman Indonesia, A Decade of Voyage! Dalam perjalanannya, rumah produksi yang didirikan produser Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, dan sutradara Edwin ini telah menapak jejaknya sebagai salah satu rumah produksi yang sukses di berbagai ajang penghargaan dan melahirkan karya-karya film berkualitas.
Perjalanan awal Palari Films dimulai dengan film panjang garapan sutradara Edwin, Posesif (2017), yang berhasil memenangkan 3 Piala Citra FFI 2017 untuk Sutradara Terbaik (Edwin), Pemeran Utama Perempuan Terbaik (Putri Marino), dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru). Selama 10 tahun, Palari Films telah melahirkan 10 karya baik film, series, dan antologi film pendek, yang setiap tahunnya selalu mendapat tempat di penonton Indonesia, ajang penghargaan FFI, dan di dunia.

Prestasi dan Perjalanan Sedekade Palari Films

Palari Films membuktikan sebagai rumah produksi yang melahirkan karya berkualitas ditunjukkan dengan film berikutnya, Aruna & Lidahnya (2018). Film yang disutradarai Edwin ini juga mendapat pengakuan secara kritis dengan memenangkan Piala Citra FFI 2018 untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (Titien Wattimena) dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Nicholas Saputra). Film tersebut juga tayang di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2019 dalam program Culinary Cinema.

Salah satu prestasi paling prestisius yang pernah diraih oleh Palari Films adalah melalui karya ketiga mereka yang juga disutradarai Edwin, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Film ini memenangkan penghargaan utama di festival film internasional yang juga menjadi salah satu festival film tertua di dunia, Locarno.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas berhasil membawa pulang piala utama, Golden Leopard. Ini adalah pertama kalinya film Indonesia berhasil memenangkan penghargaan utama dalam ajang festival film internasional. Film ini juga berkeliling di berbagai festival film internasional lainnya, termasuk Toronto International Film Festival (TIFF) dan Busan International Film Festival (BIFF).

Sebagai rumah produksi yang terus bertumbuh, Palari Films juga menggandeng para sineas terbaik Indonesia untuk melahirkan karya-karya yang beragam. Termasuk bersama sutradara Lucky Kuswandi untuk menggarap Ali & Ratu Ratu Queens (2021), yang juga menjadi salah satu film Indonesia paling banyak ditonton di Netflix dan Top Search Google Indonesia 2021, serial Ratu Ratu Queens: The Series (2025), dan Yosep Anggi Noen melalui horor Tebusan Dosa (2024).

"Sepuluh tahun dan setiap cerita yang menemukan jalannya. Kami menoleh ke belakang sebelum melangkah maju, menghormati semua yang membuat dekade ini berarti. Peta ini ada karena tangan-tangan yang menggambarnya bersama kami. Kini, Palari Films berlayar menuju cakrawala yang lebih luas," ujar produser dan Co-Founder Palari Films Muhammad Zaidy.

7 Judul Film Terbaru Palari Films

Tahun ini, menandai marka 1 dekade berkarya Palari Films, karya-karya baru terus dilahirkan. Menggandeng para kolaborator sineas dan talenta terbaik Tanah Air. Dalam perayaan 10 Tahun Palari Films, diumumkan tujuh judul baru yang akan dirilis mendatang.
Ketujuh judul tersebut adalah Monster Pabrik Rambut yang disutradarai Edwin dan akan tayang 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia dan telah world premiere di Berlinale 2026, Desember Jani (sutradara Ariani Darmawan), Menari dengan Bayangan (sutradara Edwin, produser eksekutif Baskara Putra), Baju Tebal, I Wanna Dance with Myself (Khozy Rizal), Goldfish (Aditya Ahmad), dan Strange Root (Lam Li Shuen dan Mark Chua).

Monster Pabrik Rambut dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan memperkenalkan Kev. Film ini sekaligus menjadi kolaborasi kedua Iqbaal bersama Palari Films setelah Ali & Ratu Ratu Queens (2021). Di film Monster Pabrik Rambut, Iqbaal juga bertindak sebagai produser eksekutif.
"Senang rasanya menjadi bagian dari satu dekade Palari Films. Monster Pabrik Rambut adalah proyek kolaborasi kedua saya dengan Palari Films setelah Ali & Ratu Ratu Queens. Dan kali ini, keterlibatan saya bisa lebih mendalam. Bagi saya, Palari Films adalah rumah produksi yang selalu mendorong batas kreativitas dan memberikan kesempatan berkarya seluas mungkin bagi para sineas dan talenta baru di perfilman Indonesia," ujar Iqbaal Ramadhan.

Palari Films dan Para Sineas Terbaik Tanah Air dan Internasional

Sutradara dan visual artist perempuan Ariani Darmawan, pendiri Kineruku di Bandung, akan bekerja sama dengan Palari Films lewat film panjang perdananya, Desember Jani. Sebelumnya, Ariani dikenal dengan film-filmnya yang banyak berkeliling festival film internasional seperti The Anniversaries (2006) yang tayang di Busan International Film Festival 2007, serta Sugiharti Halim (2008) yang berkompetisi di Clermont Ferrand Short Film Festival 2009. Desember Jani akan menjadi film panjang pertamanya sekaligus menjadi momen comeback-nya setelah sepuluh tahun hiatus.
Film Desember Jani akan dibintangi oleh Sigi Wimala, Chempa Putri, Hyori Mika, dan aktris senior Tutie Kirana. Ini akan menjadi film yang ini dibintangi, disutradarai, ditulis, dan diproduseri, semuanya oleh perempuan (all women project).

Film ini sebelumnya telah terseleksi untuk program Work-in-Progress di Hong Kong - Asia Film Financing Forum 2026 (HAF24), sebuah forum yang mempertemukan dengan para calon mitra kolaborator internasional.
Baskara Putra akan menandai debutnya di perfilman Indonesia sebagai produser eksekutif di film Menari dengan Bayangan. Menari dengan Bayangan merupakan album debut Hindia yang dirilis pada 2019, dan kini akan diadaptasi menjadi film layar lebar dengan sutradara Edwin.
"Perjalanan baru bagi karya Menari dengan Bayangan yang akan hadir dalam medium baru bersama Palari Films. Bagi saya, Palari Films adalah salah satu rumah produksi yang mampu menciptakan karya-karya yang selalu inovatif, relevan, dan membicarakan apa yang tengah terjadi di masyarakat, merasa terhormat menjadi bagian dalam perjalanan tonggak penting satu dekade Palari Films," ujar Baskara Putra atau Hindia.

Selain Ariani Darmawan yang akan mempersembahkan film panjang debutnya, Palari Films juga bekerja sama dengan dua sutradara muda asal Makassar untuk film panjang debut mereka, Khozy Rizal dan Aditya Ahmad.

Film pendek Khozy, Basri & Salma in a Never-Ending Comedy (2023) menjadi film pendek Indonesia pertama yang berkompetisi untuk Short Film Palme d'Or, Cannes. Pada tahun 2024, film pendeknya Little Rebels Cinema Club memenangkan Crystal Bear untuk Film Pendek Terbaik di Generation Kplus Berlinale 2025. Bersama Palari Films akan menggarap I Wanna Dance with Myself. Film tersebut sebelumnya terseleksi dalam program ScriptLab di Torino Film Lab tahun ini.

Aditya Ahmad, yang sebelumnya sukses dengan film-film pendeknya seperti Sepatu Baru (2014) yang memenangkan Special Mention di program Generation KPlus Berlinale 2014 hingga Kado (2018) yang memenangkan Venice Horizons Award di Venice Film Festival, kini akan bekerja sama dengan Palari Films.

Sebelumnya, Adit menggarap film pendek (S)aya yang tergabung dalam antologi Piknik Pesona (2022) bersama Palari Films. Kini, ia akan kembali bekerja sama untuk film panjang debutnya berjudul Goldfish. Film Goldfish sebelumnya telah mengikuti program residensi (the Résidence) pengembangan naskah Cinema de Demain Cannes Film Festival 2024, serta Script Lab di Torino Film Lab 2025.

Sementara itu, Palari Films juga tetap menjalin ko-produksi internasional seperti yang telah dilakukan dalam perjalanan 10 tahun pertama mereka. Kali ini, melalui proyek film Strange Root (Keinginan), Palari Films bekerja sama dengan sutradara Lam Li Shuen dan Mark Chua. Film ini merupakan ko-produksi dengan 13 Little Pictures, Singapura, dengan Indonesia, Jerman, Belanda, dan Filipina.

Merchandise dan Pameran Satu Dekade Palari Films

Dalam momen perayaan 10 Tahun Berkarya Palari Films, juga dirilis koleksi merchandise eksklusif yang bekerja sama dengan Goods Dept. Merchandise tersebut akan tersedia di seluruh gerai Goods Dept dan berbagai kanal penjualan daring Goods Dept.

Sebelumnya juga telah digelar rangkaian pemutaran film-film produksi Palari Films dan karya sutradara Edwin di Krapela, Jakarta Selatan dalam program bertajuk Eyes Wide Club. Program tersebut menjadi kerja sama Palari Films dengan Krapela dan Whiteboard Journal, berlangsung selama tiga hari pada 30 Maret-1 April 2026, yang juga menjadi bagian perayaan Hari Film Nasional.

Perjalanan 10 Tahun Berkarya Palari Films juga ditampilkan dalam sebuah pameran yang digelar di Museum MACAN, Jakarta Barat. Di pameran ini, pengunjung dapat menikmati memorabilia film-film persembahan Palari Films.
"Membuat film itu bagaikan sebuah perkawinan. Proses development-nya terasa seperti masa pacaran, lalu syuting yang terasa seperti wedding party, dan melahirkan anak saat filmnya rilis. 10 tahun 10 karya adalah masa mengumpulkan kepercayaan. Terima kasih untuk para penonton film Indonesia dan para kolaborator industri film baik dari para investor, mitra kolaborator, hingga pemeran dan kru. 10 tahun ke depan adalah harapan dan tantangan keberlanjutan lewat ko-produksi sesama rumah produksi, kerja sama talenta muda, dan mengasah kreativitas. Palari Films akan terus berlayar melahirkan karya-karya yang mampu menjadi refleksi zaman, dan kami mengundang para partner baru untuk berlayar bersama. Jangan kapok nonton film Indonesia," tutup produser dan Co-Founder Palari Films Meiske Taurisia.

Tentang Palari Films
Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah “Kabut Berduri” (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya “Dear David” (2023), omnibus “Piknik Pesona” (2022), “Ali & Ratu-Ratu Queens” (2021), “Aruna & Lidahnya” (2018), “Posesif” (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Film Na Willa Telah Menghangatkan Hati 1 Juta Penonton, Sutradara Ryan Adriandhy Jamin Ada Sekuelnya!

Jakarta, 3 April 2026-Film persembahan Visinema Studios dari sutradara Ryan Adriandhy, Na Willa kini telah sukses meraih 1 juta penonton lebih di bioskop Indonesia. Membuktikan banyak hati keluarga dan anak Indonesia yang telah merasakan kehangatan cerita dari Dunia Na Willa yang membuat bahagia.

Raihan 1 juta penonton sekaligus menjadi catatan positif bagi Visinema Studios bersama trio kreator, sutradara Ryan Adriandhy dan duo produser Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai pencetak film blockbuster. Ini menjadi film kedua dimana ketiganya sukses mencetak blockbuster secara berturut setelah JUMBO.

"Bersyukur tanpa libur. Terima kasih kepada para penonton yang sudah membuka hati dan memberi ruang bagi Na Willa untuk hadir dalam perjalanan mereka. Bagi kami, Na Willa bukan hanya sebuah film, tapi sebuah ruang sederhana yang mengajak kita pulang kembali merasakan dunia dari sudut pandang seorang anak, dengan kejujuran, kehangatan, dan rasa ingin tahu yang mungkin pernah kita tinggalkan, karena Na Willa adalah kita.
Capaian 1 juta penonton ini bukan sekadar angka, tapi sinyal bahwa keluarga Indonesia merindukan cerita yang dekat, yang relevan, dan yang bisa dirasakan bersama. Ini menjadi pengingat sekaligus komitmen bagi kami di Visinema Studios untuk terus menghadirkan cerita keluarga dan anak yang bermakna untuk kita, untuk anak-anak kita, dan untuk anak-anak di dalam diri kita." ujar Chief of Content Officer Visinema Studios dan produser Na Willa Anggia Kharisma.

Raihan 1 juta penonton juga menjadi bukti bahwa kini penonton Indonesia telah mengenal Dunia Na Willa. Sutradara Ryan Adriandhy pun memastikan terkait kelanjutan sekuel Na Willa, yang akan segera hadir.

"Film Na Willa yang sekarang masih tayang di bioskop adalah awal. Dan masih akan ada kelanjutan ceritanya di film keduanya. Sekarang sudah masuk draft skenario untuk film kedua," ujar Ryan Adriandhy.

"Terima kasih kepada 1 juta penonton yang telah percaya dengan cerita Na Willa. Saya sangat senang melihat banyak orang dewasa bersukacita atas film yang dianggap 'sangat anak-anak'. Terima kasih juga untuk penonton yang sudah berbahagia selama dua kali Lebaran, sejak JUMBO hingga Na Willa," ujar Ryan Adriandhy.

Beberapa penonton dewasa yang juga bersukacita menonton Na Willa adalah aktor dan komika Ardit Erwandha, yang menonton bersama istri dan anaknya. "Senyumku mengembang besar sekali melihat Na Willa sampai rumah langsung baring di lantai menikmati ademnya keramik. Terima kasih Ryan Adriandhy beserta cast dan crew yang sudah bekerja keras untuk Na Willa," kata Ardit Erwandha.

Produser, penulis, dan sutradara Ernest Prakasa juga menyampaikan kesannya setelah menonton film Na Willa. "Buat gue Na Willa ini film yang luar biasa, yang bagus banget. Nggak bakal nyesel deh lo nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

1 juta orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop. Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #Bahagia Bareng Na Willa.

Sinopsis
Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.

Catatan Produksi:
Judul Film : 
Na Willa
Genre : 
Drama, Keluarga
Sutradara : 
Ryan Adriandhy
Produser Eksekutif : 
Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem
Produser : 
Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari
Ko-Produser :
Mia A. Santosa
Produser Lini : 
Tersi Eva Ranti
Asisten Sutradara : 
Mizam Fadilah Ananda
Unit Manajer Produksi : 
K. Dwi Prasetya
Sinematografer : 
Yadi Sugandi
Desainer Produksi : 
Sri Rini Handayani
Penata Busana :
Astrid Rosiana Ishak
Penata Rias :
Notje M. Tatipata
Penata Suara : 
Siti Asifa Nasution
Penyunting : 
Teguh Raharjo
Komposer : 
Ofel Obaja
Pemeran : 
Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

TENTANG VISINEMA GROUP
Didirikan pada tahun 2008 oleh sineas Indonesia, Angga Dwimas Sasongko, Visinema Group (Visinema) memiliki visi untuk menjadi center of excellence dalam setiap bentuk storytelling di Indonesia dengan ekosistem storytelling yangkomprehensif. Visinema berkomitmen untuk senantiasa mengembangkan dan melahirkan konten, cerita, serta film yang menarik untuk dapat dinikmati oleh para pecinta film dan publik di berbagai saluran dan platform.

Visinema memiliki Visinema Pictures yang menghasilkan film-film layar lebar yang menghadirkan cerita-cerita yang menarik dan impactful serta memberikan pengalaman sinematik terbaik bagi para pecinta film; Visinema Studios yang fokus menghadirkan konten berkualitas untuk anak dan keluarga, serta animasi dan puppet show; dan Skriptura yang memberikan layanan script development dan scriptwriting.

Visinema sudah melahirkan sejumlah portofolio IP (Intellectual Property) yang telah dinikmati oleh publik, diantaranya adalah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, Surat Dari Praha, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, Keluarga Cemara, Generasi 90an: Melankolia, Nussa, Mencuri Raden Saleh, 13 Bom di Jakarta, Heartbreak Motel dan sejumlah IP box office lainnya yang telah ditayangkan di layar bioskop, Nussa Official Series dan Domikado yang dapat dinikmati di kanal YouTube, serta Pertunjukkan Panggung Musikal Keluarga Cemara yang telah mendapatkan sambutan hangat dari publik. Visinema semakin memperkuat posisinya dalam industri film dan kreatif Indonesia untuk menjadi center of excellence dalam setiap bentuk karya yang dihasilkan.

Visinema
Email : 
info@visinemapictures.com
Instagram : 
@visinemaid
@nawillaofficial
TikTok : 
@visinemaid
X : 
@VisinemaID

Kamis, 02 April 2026

Viu Hadirkan OTW Halal, Kisah Romansa tentang Rahasia dan Transformasi Diri

JAKARTA, 3 April 2026 — Viu kemarin mengumumkan drama original terbarunya, OTW Halal, yang akan tayang perdana pada 3 April 2026. Serial ]8 episode ini menghadirkan kisah romansa yang emosional tentang identitas, rahasia, dan transformasi diri.

Dibintangi oleh Fadly Faisal dan Maudy Effrosina, bersama Hannah Al Rashid, Dahlia Poland, Alif Rivelino, serta Jeremie J. Tobing, OTW Halal menangkap keresahan yang semakin dekat dengan generasi muda hari ini: tentang pencarian jati diri dan pergulatan antara masa lalu dengan sosok yang ingin dibangun di masa depan.

Serial ini mengangkat pertanyaan yang dekat dengan banyak orang: bisakah seseorang benar-benar memulai kembali, ketika masa lalu terus membayangi?

Cerita berpusat pada Renata (Maudy Effrosina), yang sebelumnya dikenal sebagai “ratu nightlife” Jakarta. Kehidupan glamornya runtuh dalam semalam, dan memaksanya membangun kembali hidup dengan identitas baru, bernama Elsi. Saat pindah ke rumah kos sederhana khusus perempuan, Renata harus beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali asing—mengenakan hijab dan mengikuti pengajian mingguan demi bertahan—sembari menyembunyikan masa lalu yang terus menghantuinya. 
Namun, tanpa Renata sadari, tempat yang ia anggap sebagai awal baru justru menyimpan kenyataan yang jauh lebih mengguncang: Renata ternyata pernah menjadi wanita simpanan suami sang pemilik kos dan membawa urusan masa lalu yang belum selesai.

Bagi Maudy, karakter yang ia perankan menjadi salah satu elemen paling menarik dalam OTW Halal karena menyimpan lapisan identitas yang perlahan terbuka seiring perkembangan cerita. “Ada tantangan tersendiri saat memerankan dua karakter, karena masing-masing punya lapisan dan dinamika yang berbeda. Di episode awal, penonton akan lebih dulu melihat sosok Renata, tetapi seiring berjalannya cerita, akan terungkap siapa sebenarnya karakter yang mereka lihat dan alasan di balik itu semua,” ujarnya dalam Press Conference Viu Original OTW Halal kemarin di Jakarta (2/4/2026)

Perjalanan Renata kemudian bersinggungan dengan Rafi (Fadly Faisal), pria muda yang tenang, berprinsip, dan berasal dari latar belakang religius, yang tengah meniti jalan menjadi ustaz. Pertemuan dua dunia yang kontras ini memunculkan ketegangan emosional, kecurigaan, dan tarik-menarik nilai yang membawa keduanya ke dalam dinamika hubungan yang kompleks, dipenuhi rahasia, luka, dan kemungkinan untuk berubah.
Fadly menilai Rafi justru terasa kuat karena ia bukan karakter yang hadir sebagai sosok ideal. “Rafi ini belum jadi ustaz, dia masih dalam proses, masih OTW. Dia masih banyak salahnya, ilmunya juga belum tinggi, jadi justru itu yang membuat perjalanannya terasa manusiawi dan dekat dengan kehidupan nyata,” katanya.

Menurut Fadly, sisi paling menarik dari Rafi terletak pada proses batin yang ia jalani saat berhadapan dengan orang-orang yang sangat berbeda dari dirinya. “Yang menarik dari Rafi adalah dia bukan sosok yang sudah selesai. Dia masih belajar, masih berproses, lalu dipertemukan dengan orang-orang yang berbeda dari dirinya. Dari situ, penonton bisa melihat bagaimana dia mencoba memahami banyak hal, termasuk tentang dirinya sendiri,” lanjutnya.

Sementara itu, Maudy menambahkan bahwa perkembangan identitas karakternya akan menjadi salah satu kekuatan utama yang mendorong rasa penasaran penonton dari episode ke episode. “Yang menarik dari karakter ini adalah penonton tidak langsung diberikan semua jawabannya di awal. Sedikit demi sedikit, mereka akan melihat mana karakter aslinya, bagaimana perbedaannya, dan mengapa itu menjadi bagian penting dari perjalanan cerita,” ungkapnya.

Dengan menempatkan dua individu dari latar belakang yang sangat berbeda sebagai pusat cerita, OTW Halal menghadirkan potret hubungan modern yang segar dan relevan, dibentuk oleh pergulatan batin, ekspektasi sosial, dan upaya untuk menemukan makna hidup yang lebih utuh. Melalui kisah yang personal namun dekat dengan realitas banyak orang, serial ini menawarkan romansa yang tidak hanya manis, tetapi juga penuh pertanyaan, risiko, dan proses pendewasaan.
OTW Halal tersedia di Viu mulai 3 April 2026. Aplikasi Viu dapat diunduh secara gratis melalui App Store, Google Play, tersedia di berbagai smart TV, serta dapat diakses melalui www.viu.com.


Jelang Ending Walid, Olla Ramlan Bongkar Nikah Batin: Eksploitasi Berkedok Spiritualitas?

JAKARTA, 3 April 2026 — Menjelang dua episode terakhirnya, serial Viu Original Walid semakin memanas dengan konflik yang menegangkan dan memantik perhatian karena menyentuh isu sensitif. Salah satu sorotan terkuat datang dari penampilan Olla Ramlan, yang dalam episode-episode terbaru mulai tampil semakin vokal dalam mempertanyakan praktik nikah batin di dalam kelompok Jihad Ummah.

Di tengah atmosfer cerita yang makin gelap dan penuh intrik, karakter yang diperankan Olla Ramlan menghadirkan suara yang berani terhadap aturan kelompok yang selama ini berjalan tanpa banyak perlawanan. Lewat dialog-dialog yang tajam, ia mulai mempertanyakan dasar moral dari hubungan yang diklaim sebagai ikatan spiritual tersebut. Dalam perkembangan terbaru cerita, praktik nikah batin tidak lagi hanya digambarkan sebagai aturan internal kelompok, tetapi mulai terlihat jelas sebagai bentuk relasi timpang yang merugikan perempuan.

Inilah yang membuat kehadiran Olla Ramlan menjadi semakin penting menjelang akhir serial. Saat karakter lain masih bergerak di bawah bayang-bayang kekuasaan Walid, Olla justru mulai menunjukkan keberanian untuk membongkar sisi paling problematis dari sistem yang dijalankan kelompok tersebut. Ia menyoroti bahwa hubungan tanpa kejelasan status dan perlindungan hanya meninggalkan kerugian bagi perempuan yang terjebak di dalamnya.
Peran Olla Ramlan dalam serial Malaysia ini juga berada di posisi yang sangat strategis. Ia bukan orang luar, melainkan istri dari Habiburrahman, sosok penting yang memimpin jemaahnya sendiri dan memiliki kedekatan dengan Walid dalam upaya memperluas pengaruh mereka. Posisi ini membuat karakter Olla berada tepat di pusat lingkaran kekuasaan, sekaligus menjadi saksi dari berbagai pembicaraan internal yang bersifat rahasia.

Justru karena kedekatannya dengan pusat kekuasaan itulah, perubahan sikap Olla Ramlan terasa semakin signifikan. Jika sebelumnya ia tampak masih sejalan dengan langkah suaminya, kini ia mulai berdiri di sisi yang berbeda. Perlawanan yang ia tunjukkan bukan hanya membuka celah konflik baru, tetapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan di dalam kelompok itu sendiri.
Menjelang episode terakhir, keberanian Olla Ramlan untuk bersuara membuat tensi cerita naik drastis. Sikapnya yang semakin tegas berpotensi memicu keretakan dari dalam, terutama ketika ia mulai menentang cara berpikir yang selama ini dijaga ketat oleh lingkaran kelompok. Dalam dunia yang tertutup, kaku, dan dibangun di atas kepatuhan, satu suara yang menolak bisa menjadi ancaman besar.

Risikonya pun tidak kecil. Ketika seorang perempuan mulai mempertanyakan struktur yang selama ini menekan, ia tidak hanya berhadapan dengan aturan, tetapi juga dengan orang-orang yang diuntungkan oleh aturan tersebut. Inilah yang membuat perjalanan karakter Olla Ramlan menjelang akhir Walid terasa semakin menegangkan: apakah keberaniannya akan membuka jalan pada kebenaran, atau justru menempatkannya dalam bahaya yang lebih besar?
Dengan sorotan yang kini tertuju pada praktik nikah batin, perebutan pengaruh antar pemimpin kelompok, dan keberanian Olla Ramlan menolak diam, dua episode terakhir Walid dipastikan menjadi babak penentuan yang paling panas. Bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa yang akhirnya berani melawan.

Jangan lewatkan momen-momen paling menentukan dari Walid dalam dua episode terakhirnya, tayang Kamis dan Jumat, hanya di Viu.

Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film ...