Jumat, 12 Juni 2026

MAGMA Entertainment Umumkan Proyek Horor-Komedi Terbaru "Jump Scare", Siap Syuting Tahun Ini Bersama Dion Wiyoko Segera Tayang 2027

Jakarta, 11 Juni 2026 - Setelah sukses menggebrak industri perfilman Indonesia lewat deretan karya horor box office yang solid seperti Qodrat 1 & 2, Pemukiman Setan, dan yang teranyar Badut Gendong, rumah produksi MAGMA Entertainment siap kembali menyapa para pencinta sinema. Tahun ini, MAGMA mengumumkan proyek film layar lebar terbaru mereka yang diberi judul resmi Jump Scare.

Berbeda dari karya-karya menegangkan sebelumnya, melalui Jump Scare, MAGMA Entertainment akan mengeksplorasi ramuan menyegarkan yang memadukan atmosfer mencekam dengan sentuhan komedi spontan.

Film ini mengangkat premis tentang empat sekawan dengan ambisi untuk membuat sebuah film impian mereka. Setelah mendapatkan warisan sebuah rumah tua, mereka berdebat untuk menjual rumah tersebut demi mendanai mimpi. Namun, rencana tersebut berubah menjadi malapetaka ketika mereka justru menemukan sesuatu yang tak diduga-duga di dalam rumah: sesosok mayat tentara kekaisaran Cina yang telah tersegel selama berabad-abad yang kemudian bangkit meneror.

Dibangun di atas atmosfer ketegangan konstan dan rasa ketakutan yang mendalam, penonton akan diajak menyaksikan bagaimana para karakter utama harus mengandalkan keahlian seadanya serta aksi konyol yang spontan demi bertahan hidup sekaligus menjaga impian mereka tetap hidup.

Bertabur Bintang Lintas Generasi

Proses produksi Jump Scare dijadwalkan akan memulai masa syuting pada tahun ini. Untuk menghidupkan dinamika cerita yang kaya akan ketegangan dan tawa, MAGMA Entertainment resmi menggandeng jajaran aktor serta aktris papan atas, di antaranya: Dion Wiyoko, Ardit Erwandha, Yono Bakrie, Faris Fadjar, Jenny Zhang, dan memperkenalkan Angie Marcheria dalam debut peran utama layar lebar pertamanya.

Dion Wiyoko (Sore: Istri Dari Masa Depan, Cek Toko Sebelah) membagikan antusiasmenya terhadap project terbarunya ini bersama MAGMA Entertainment. "Saya excited sekali bisa ikut bergabung film ini. Saya yakin Jump Scare akan membawa angin segar untuk genre horor-komedi yang sangat dicintai penonton Indonesia, ini adalah film yang sangat unik!" Ujar aktor peraih tiga kali nominasi Piala Citra.

Kekuatan akting dalam proyek terbaru ini juga semakin lengkap dengan keterlibatan bintang senior dan aktor karakter berbakat yaitu Chew Kin Wah, Mike Lucock, Ira Maya Sopha, serta Verdi Solaiman. Jajaran pemain lintas generasi ini dipercaya akan memberikan performa yang kuat dalam memadukan ketegangan horor dengan elemen komedi yang segar.

"Lewat Jump Scare, kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda kepada penonton setelah pencapaian dari karya-karya kami sebelumnya seperti Qodrat, Pemukiman Setan, dan Badut Gendong. Kami mengeksplorasi bagaimana legenda klasik dapat berpadu apik dengan humor situasi yang organik. Kami sangat antusias memulai proses produksi tahun ini bersama jajaran pemeran luar biasa yang kami percaya mampu menghidupkan jiwa dari film ini," ungkap sutradara Charles Gozali dari MAGMA Entertainment.

Proses produksi akan segera dimulai dalam waktu dekat, dan Jump Scare direncanakan untuk "meloncat" ke layar bioskop Indonesia 2027 nanti. Ikuti terus perkembangan tentang film ini di media sosial @magmaent.

Selasa, 09 Juni 2026

Sukses Menembus Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026, MD Pictures Rilis Final Poster & Trailer "402 Rumah Sakit Angker Korea": Ketika Mistis Lokal Meneror Koridor Dunia‎

Jakarta, 9 Juni 2026 – MD Pictures bersama Umbara Brothers Film menggelar acara konferensi pers yang dihadiri oleh jajaran pemain dan filmmakers. Pertemuan ini menandai perilisan Final Poster dan Final Trailer dari film horor lintas negara yang dinanti-nantikan perilisannya tahun ini, "402 Rumah Sakit Angker Korea". Perilisan menuju tayang di bioskop ini menyajikan lapisan teror yang jauh lebih pekat, dan penuh teka-teki dibanding materi promosi sebelumnya.
‎Dalam Final Poster yang diluncurkan, sentuhan estetika Korea berpadu dengan atmosfer mistis yang sangat kental terasa begitu mencekam. Sorotan utama tertuju pada hadirnya sebuah boneka misterius berbaju tradisional Korea (Hanbok) dengan noda darah di sekitarnya, sebuah visual kuat yang langsung menjanjikan misteri kelam dari dalam koridor rumah sakit terbengkalai.
‎Sementara itu, Final Trailer yang ditayangkan berhasil membuka satu tabir baru yang mengejutkan. Meski penelusuran tim kreator konten Indonesia ini dilakukan di sebuah rumah sakit angker di Korea Selatan, film ini secara berani menyisipkan unsur mistis lokal yang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia: permainan Jelangkung. Apakah kehadiran ritual pemanggilan arwah khas Nusantara di tanah asing ini akan menjadi puncak plot twist yang disiapkan?
‎Sutradara Anggy Umbara mengungkapkan bahwa perpaduan budaya horor ini adalah keputusan kreatif yang matang untuk memberikan kejutan baru bagi para penggemar film originalnya, Gonjiam: Haunted Asylum karya Jung Bum-Sik.
‎“Kami tidak ingin sekadar memindahkan cerita. Kehadiran boneka ber-hanbok dan ritual Jelangkung di dalam Rumah Sakit Yongwon adalah jembatan kultural yang membuat terornya terasa dekat sekaligus tak tertebak. Ini adalah eksperimen horor paling ambisius yang pernah saya arahkan,” jelas Anggy Umbara.
‎Aktor utama Arbani Yasiz juga membagikan pandangannya mengenai bagaimana karakter yang ia mainkan harus menghadapi teror psikologis yang bertingkat di dalam film ini.
‎Di final trailer ini penonton bisa melihat kalau taruhannya sudah bukan lagi soal views atau popularitas, tapi bertahan hidup. Karakter Juna yang saya mainkan bakal membawa penonton merasakan langsung kepanikan saat sadar bahwa ritual lokal yang kita bawa justru memicu sesuatu yang jauh lebih gelap di sana. Tekanannya benar-benar terasa nyata sampai ke lokasi syuting,” ujar Arbani Yasiz.
‎Melanjutkan hal tersebut, Saputra Kori menambahkan betapa intensnya atmosfer yang dibangun demi menjaga kualitas remake yang tetap menghormati materi aslinya. “Setiap sudut Rumah Sakit Yongwon di film ini hadir untuk meneror mental. Visual boneka hanbok berdarah itu baru sebagian kecil; ketakutan saat adegan Jelangkung itu dimulai adalah momen di mana kami semua, bahkan sebagai aktor, merasa merinding beneran. Penonton bioskop harus bersiap untuk sebuah pengalaman yang sangat emosional,” ungkap Saputra Kori.
‎Prestasi Internasional: Tembus Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026 
‎Kabar yang tak kalah membanggakan datang dari panggung sinema internasional. Sebelum resmi meneror bioskop tanah air, "402 Rumah Sakit Angker Korea" dinyatakan berhasil lolos Official Selection di ajang bergengsi Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026 dan akan diputar dalam program bergengsi, Gala Presentation.
‎Untuk di kancah internasional, film ini akan menggunakan judul global Korean Haunted Hospital, sedangkan untuk penayangan di Korea Selatan akan menggunakan judul resmi 폐병원 402 (Pye-byeong-won 402). Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kualitas dan standar teror yang disajikan mampu bersaing di level sinema dunia.
‎Martin Lee, Programmer BiFan menyampaikan catatan di balik alasan lolosnya film ini di perhelatan bergensi tersebut. "Tanpa menghilangkan esensi premis dan ketegangan dari versi orisinalnya, film ini dengan cermat mengangkat fenomena budaya streaming dan pola konsumsi konten modern, membawa sebuah pengalaman baru yang relevan dengan masa kini. Karya ini menghadirkan keseruan baru bagi para penggemar lama, sekaligus menyuguhkan sensasi ketegangan dan ketakutan yang mendalam bagi penonton yang baru pertama kali menyelami kisahnya."
‎Jangan Sampai Ketinggalan Fenomenanya!
‎Ketika ritual lokal bertemu dengan tempat paling terkutuk di Korea, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Siapkan nyalimu, ajak teman-teman terdekat, dan pastikan kamu menjadi bagian dari saksi mata teror Ruangan 402 di Rumah Sakit Angker Korea yang siap menjadi perbincangan nasional. 
‎"402 Rumah Sakit Angker Korea" siap membuka gerbang mistisnya secara serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026!
‎***
‎TENTANG MD PICTURES
‎MD Pictures adalah salah satu rumah produksi film dan konten hiburan terbesar di Indonesia yang didirikan oleh Manoj Punjabi. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen berbagai film box office, serial televisi, serta konten digital yang sukses menarik jutaan penonton di dalam maupun luar negeri.
‎Sejak berdiri pada tahun 2002, MD Pictures telah memproduksi banyak film populer dari berbagai genre, mulai dari drama keluarga, komedi, hingga horor. Beberapa karya mereka bahkan mencetak rekor jumlah penonton di bioskop Indonesia dan menjadi bagian penting dari perkembangan industri perfilman nasional.
‎CONTACT MD PICTURES
‎Instagram : @mdpictures_official @md_entertainment
‎TikTok : @mcentertainmentofficial
‎Twitter : @MDEntertainment

Minggu, 07 Juni 2026

90% Practical Effects, Tanpa CGI: Cara Edwin Membangun Horor Fantasi di Monster Pabrik Rambut. Ajaib, Gila dan Kreatif

Jakarta, 7 Juni 2026 —  Di tengah dominasi efek visual digital dalam film modern, sutradara Edwin justru mengambil jalan berbeda untuk film terbarunya, Monster Pabrik Rambut. Hampir 90 persen adegan fantasi dan horor dalam film ini dibangun menggunakan practical effects, meminimalisasi penggunaan CGI, dan mengandalkan teknik produksi yang mengingatkan pada film-film fantasi era 1980-an.
‎Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Monster Pabrik Rambut terasa berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia saat ini. Film produksi Palari Films yang sedang tayang di bioskop ini menghadirkan dunia yang absurd, ajaib, sekaligus mengganggu, dengan pengalaman visual yang dibangun langsung di depan kamera.
‎“Hampir 90% practical. Untuk monsternya misalnya, itu ada orang di dalamnya. Lalu kami juga banyak menggunakan teknik sling. Rambut-rambut yang bergerak itu juga direkam di dalam air agar pergerakannya lebih halus. Penggunaan komputer sifatnya lebih pada penggabungan semuanya untuk membuatnya menjadi lebih organik,” terang Edwin.
‎Mulai dari monster raksasa, rambut yang bergerak sendiri, hingga berbagai elemen fantasi dalam film, sebagian besar diciptakan secara fisik selama proses produksi. Pendekatan ini memberi tekstur dan kehadiran visual yang lebih nyata dibandingkan efek digital sepenuhnya.
‎Menciptakan Nuansa Retro Lewat Teknologi Film Analog
‎Eksperimen visual film ini tidak berhenti pada practical effects. Untuk memperkuat nuansa retro yang menjadi bagian penting dunia Monster Pabrik Rambut, Palari Films juga menggunakan teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD).
‎Melalui proses ini, gambar yang awalnya direkam secara digital dicetak ke pita seluloid, kemudian dipindai kembali ke format digital. Teknik tersebut menghasilkan tekstur grain, warna, dan karakter visual yang mengingatkan pada film-film klasik, sekaligus memberikan kesan organik yang sulit ditiru secara digital.
‎Dari Komik Petruk Gareng hingga Imajinasi Horor Fantasi 
‎Dalam berbagai kesempatan, penulis Eka Kurniawan mengungkapkan bahwa sosok monster dalam film ini terinspirasi dari makhluk-makhluk grotesk yang sering muncul dalam Komik Petruk Gareng karya Tatang S.
‎Monster yang lucu namun menyeramkan, sekaligus menyeramkan karena kelucuannya, menjadi titik awal yang memantik imajinasi Edwin dalam membangun dunia horor fantasi yang unik.
‎Hasilnya adalah sebuah film yang tidak mengikuti formula horor konvensional. Alih-alih mengandalkan jump scare atau mitologi populer, Monster Pabrik Rambut membangun ketegangan melalui visual absurd, dunia kerja yang menekan, dan karakter-karakter yang hidup di antara realitas dan fantasi.
‎Ketika Film Bertemu Bahasa Komik
‎Eksperimen Edwin juga terlihat pada bagian akhir film. Jika sebagian horor Indonesia memilih penyelesaian yang realistis atau supranatural, Monster Pabrik Rambut justru memadukan bahasa sinema dengan estetika komik.
‎Warna-warna cerah, komposisi visual yang ekspresif, dan pendekatan penceritaan yang menyerupai panel komik menciptakan pengalaman menonton yang terasa segar sekaligus tidak biasa. Kombinasi antara horor, fantasi, dan komik tersebut menjadikan film ini memiliki identitas visual yang jarang ditemui dalam perfilman Indonesia.
‎Kolaborasi Kreatif Edwin, Eka Kurniawan, dan Akiko Ashizawa
‎Untuk mewujudkan visi visual tersebut, Edwin kembali bekerja sama dengan sinematografer Jepang, Akiko Ashizawa, yang sebelumnya terlibat dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Akiko dikenal luas melalui kolaborasinya dengan maestro horor Jepang Kiyoshi Kurosawa dalam sejumlah film seperti Tokyo Sonata dan Journey to the Shore, dimana ia mengembangkan pendekatan visual yang peka terhadap ruang, atmosfer, dan ketegangan yang muncul dari keseharian.
‎Dalam Monster Pabrik Rambut, Akiko membawa sensibilitas sinematik tersebut ke dunia yang dibangun Edwin. Melalui pendekatan visual yang berani namun terukur, ia membantu menerjemahkan dunia absurd ciptaan Edwin menjadi pengalaman sinematik yang kaya detail, menghadirkan perpaduan antara realitas sehari-hari dan elemen fantastis yang terasa ganjil sekaligus memikat.
‎Di sisi lain, Edwin juga kembali berkolaborasi dengan novelis ternama Eka Kurniawan dalam penulisan skenario. Melalui kisah tentang pekerja pabrik rambut dan monster yang lahir dari dunia kerja yang eksploitatif, keduanya menyisipkan kritik sosial terhadap budaya kerja berlebihan dan sistem yang memandang manusia hanya sebagai mesin produksi.
‎Mendapat Sambutan Positif dari Penonton
‎Sejak tayang di bioskop, Monster Pabrik Rambut mendapat beragam respons positif dari penonton yang menilai film ini menghadirkan pengalaman horor yang berbeda.
‎Penulis Ika Natassa menyebut film ini berhasil menawarkan kejanggalan yang tidak biasa ditemukan dalam film horor pada umumnya.
‎“Jujur, ini bukan jenis tontonan horor yang gampang ditelan, namun berhasil menghadirkan kejanggalan-kejanggalan yang nggak biasa ditemui di sajian horor lain.”
‎Banyak penonton juga menangkap lapisan kritik sosial yang disampaikan film ini.
‎“Monster Pabrik Rambut punya ide jelas dengan mengkritik apropriasi kultur kerja
‎berlebihan dan memandang manusia hanya sebagai mesin,” tulis akun film @ulasinema.
‎Sementara sebagian lainnya melihat film ini sebagai refleksi kondisi ekonomi dan dunia kerja modern yang semakin menekan.
‎Melalui perpaduan practical effects, visual retro, bahasa komik, dan kritik sosial yang tajam, Monster Pabrik Rambut menawarkan sesuatu yang jarang hadir dalam horor Indonesia: sebuah horor fantasi yang absurd, unik, dan sangat personal.
‎Monster Pabrik Rambut kini tayang di seluruh bioskop Indonesia.
‎Ikuti informasi terbaru melalui Instagram @palarifilms dan situs resmi Palari Films.
‎***
‎Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
‎***
‎Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah “Kabut Berduri” (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya “Dear David” (2023), omnibus “Piknik Pesona” (2022), “Ali & Ratu-Ratu Queens” (2021), “Aruna & Lidahnya” (2018), “Posesif” (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Jumat, 05 Juni 2026

Monster Pabrik Rambut Bukan Sekadar Film Horor Ketika Layar Lebar Mencerminkan Realita Kerja Gen Z dan Milenial Saat Ini

Jakarta, 5 Juni 2026 - Resmi meluncur di bioskop sejak 4 Juni 2026, Monster Pabrik Rambut membuka diskusi mendalam dengan mengangkat kengerian dari fenomena sehari-hari: budaya kerja toksik yang kian dianggap normal. Horor fantasi ini secara tajam mengeksplorasi praktik eksploitasi di dunia kerja yang ternyata lebih mencekam dibandingkan teror makhluk gaib.
‎Realitas yang ada ternyata lebih kuat dibandingkan fiksi apa pun.
‎Berdasarkan Survei Global 2025 Gen Z and Millennial dari Deloitte, 77% Gen Z dan 74% milenial di Indonesia menyebut pekerjaan sebagai sumber utama stres mereka. Tercatat 57% responden tertekan oleh lingkungan kerja beracun, sementara durasi kerja yang berlebihan membebani 56% Gen Z dan 51% milenial.
‎Statistik tersebut tercermin nyata dalam perjuangan Putri, Ida, Bona, Rudi, dan Tohar dalam film Monster Pabrik Rambut.
‎"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah 'monster' yang sebenarnya. Ada pihak yang mengeksploitasi demi laba pribadi, dan ada yang melanggengkannya dengan membiarkan lembur yang tak wajar terus terjadi. Keduanya membentuk sistem yang harus kita kritisi," tutur Edwin selaku sutradara.
‎Secara umum, sebuah film mungkin tidak menawarkan solusi instan bagi masalah tersebut. Namun, Monster Pabrik Rambut hadir demi memantik hal yang jauh lebih krusial: sebuah diskusi yang kerap kita hindari mengenai sistem kerja yang telah sekian lama dianggap wajar.
‎"Di bidang apa pun kita bekerja, situasi seperti atasan yang keras, persaingan antar-kolega yang tidak sehat, hingga beban ekspektasi yang mengorbankan kesehatan fisik dan mental adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Inilah monster yang sesungguhnya," ungkap Iqbaal Ramadhan, aktor sekaligus Produser Eksekutif. "Tidak ada ruang bagi kami untuk berpura-pura. Tubuh kami harus merespons tentang apa yang terjadi di depan mata kami." ujarnya.
‎Lima alasan mengapa Monster Pabrik Rambut patut Anda tonton:
‎Horor Indonesia pertama tanpa hantu. Alih-alih setan, Edwin menghadirkan sistem kerja tidak manusiawi sebagai sumber kengerian.

‎Kolaborasi internasional lima negara. Melibatkan Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis dalam salah satu proyek sinematik paling ambisius.

‎Skenario kolaboratif bersama Eka Kurniawan. Ditulis bersama salah satu novelis sastra Indonesia paling berpengaruh di tingkat global.

‎Penggunaan efek praktikal sepenuhnya. Tanpa CGI, setiap adegan membutuhkan persiapan hingga 30 menit agar elemen visual tersaji sempurna.

‎Rambut sebagai simbol tekanan. Edwin menjadikan rambut representasi fisik dari stres kerja, seperti kerontokan atau perubahan warna yang mendadak.

‎Segera pesan tiket untuk Anda dan tim lembur Anda. Monster Pabrik Rambut kini tersedia di seluruh jaringan bioskop Indonesia.
‎Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com.
‎***
‎Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona.
‎Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
‎***
‎Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah “Kabut Berduri” (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya “Dear David” (2023), omnibus “Piknik Pesona” (2022), “Ali & Ratu-Ratu Queens” (2021), “Aruna & Lidahnya” (2018), “Posesif” (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

‎UFO Jatuh ke Bumi, Tretan Muslim Berteman dengan Alien di Official Teaser Trailer & Poster Film Foufo

Jakarta, 5 Juni 2026 - Setelah kehebohan yang menggemparkan Indonesia dan media sosial adanya kejatuhan UFO di Madura, kini gebrakan fenomenal dihadirkan oleh Skak Studios dan Sinemart, dengan menghadirkan film komedi sci-fi berjudul Foufo karya sutradara Bayu Skak. Dalam official teaser trailer yang dirilis, memperlihatkan UFO yang jatuh ke Bumi, dan membuat Tretan Muslim berteman dengan Alien.
‎Teaser trailer Foufo menampilkan benturan yang sangat lucu, saat alien berada di tengah-tengah keluarga Madura. Muslim sedang berusaha mendapat pinjaman bank untuk melunasi biaya haji ibunya.
‎Di tengah keterdesakan itu, Muslim diajak temannya, Kacung, untuk mencuri rel kereta. Suatu malam, keduanya bersama ipar Muslim, Ipul pun melancarkan aksi mereka.
‎Namun, di tengah aksi pencurian, tiba-tiba benda asing jatuh dari langit. Ketiganya pun lalu membawa pulang benda yang penuh besi tersebut dan gagal mencuri rel kereta. Saat di rumah, benda asing itu ternyata membawa penumpang yang membuat kaget seluruh anggota keluarga besar Muslim. Apa yang akan terjadi berikutnya?
‎Sementara itu, dalam official teaser poster Foufo, menampilkan fokus terhadap sosok Foufo–sang alien yang jatuh ke Madura, dengan kepala bulatnya yang besar berantena, serta wajahnya yang berbinar tersenyum lugu. Di sebelahnya, hadir Tretan Muslim, yang akan menjadi kawan si alien tersebut.
‎Film Foufo disutradarai oleh Bayu Skak, dengan produser eksekutif David Suwarto, dan produser Bayu Skak bersama Ricky R. Setiawan. Film ini menggabungkan elemen animasi dan live action, dan hampir 80% dari para pemerannya adalah casting saat di Madura.
‎“Kami ingin membawa sesuatu yang baru di perfilman Indonesia, yakni komedi sci-fi. Cerita awalnya adalah sangat sederhana, bagaimana jika alien jatuh di Madura, dan dia bertemu dengan keluarga Madura? Itu menjadi sesuatu yang unik,” ujar produser dan sutradara Bayu Skak.
‎Keterlibatan Sinemart berkolaborasi dengan Skak Studios sendiri sudah dilakukan sejak awal proyek ini berjalan. Saat itu dimulai di JAFF Market 2024, di mana Sinemart dan Skak Studios mengumumkan kerja sama untuk memproduksi film Foufo.
‎“Kami melihat ide dan cerita yang unik yang dibawa Bayu Skak, yang membuat Sinemart yakin untuk turut berkolaborasi di film Foufo. Film ini juga akan menjadi penawaran baru yang segar di perfilman Indonesia, dengan mengangkat cerita keluarga Madura, serta balutan komedi sci-fi yang menjadikannya unik,” ujar produser eksekutif David Suwarto.
‎Selain Tretan Muslim, film ini turut dibintangi di antaranya oleh Habib Jafar, Benedictus Siregar, Mieke Shahir, dan Siti Kamariyah. Foufo juga menjadi film pertama Tretan sebagai pemeran utama.
‎“80% pemain film Foufo itu casting, bahkan ada yang tidak punya latar belakang sebagai aktor. Dan ini yang menjadikan filmnya menarik, karena Bayu Skak tidak mau menjadikan orang Jakarta sebagai orang Madura, tapi memang orang Madura yang menjadi orang Madura di filmnya. Foufo akan menjadi film yang unik karena mempertemukan alien dengan keluarga Madura,” ujar Tretan Muslim.
‎Film Foufo akan tayang di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Ikuti informasi terbaru mengenai perkembangan film Foufo melalui akun Instagram resmi @filmfoufo, @skakstudios, dan @sinemart_ph.
‎***
‎Tentang Skak Studios
‎Skak Studios adalah IP Studio Company yang mengusung konsep Hyper lokal lewat konten kreatif film hingga lokadrama yang menggunakan pemain putra-putri daerah atau kita menyebutnya dengan lokatalenta. Kini, Skak Studios dengan para foundernya yaitu Bayu Skak dan Ricky Ramadhan Setiyawan telah menghasilkan beberapa produk IP Character & Story dan berkolaborasi dengan beberapa Production House menelurkan karya-karya fenomenal dalam industri film seperti Yowis Ben, Lara Ati, Lokadrama Lara Ati dan Lokadrama Rujak Cingur Lek Har.
‎Lokadrama Lara Ati yang ditayangkan di OTT, telah merebut hati penonton hingga 50 juta penonton dari seluruh Indonesia, ini menorehkan penonton terbanyak sepanjang sejarah OTT. Begitu pula Yowis Ben yang lebih dahulu mencatat sebagai film terlaris Indonesia sepanjang tahun 2018-2021. Yowis Ben juga masuk nominasi film favorit pada Indonesian Movie Actor Awards (2018), Pemenang Film Favorit Remaja pada Festival Film Bandung (2018), dan masuk nominasi Piala Maya untuk kategori Skenario Asli dan Pemain Pendatang Baru Terpilih (2019). Semua film dan lokadrama yang telah mendapatkan apresiasi ini semuanya menggunakan hampir 100% bahasa daerah dan talenta daerah.
‎Tentang Sinemart
‎Sinemart, yang diambil dari 3 kata ‘Sinema’, ‘Art’, dan ‘Mart’, menggambarkan secara tepat apa visi dari perusahaan kami ini. Kami berusaha menciptakan sebuah campuran sempurna antara ‘seni’ dan ‘dagang’ melalui medium film. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kerinduan akan menyampaikan cerita-cerita yang inspirasional merupakan fondasi kami untuk mengembangkan sebuah serial televisi atau film layar lebar.
‎Sebuah cerita inspirasional tentunya subjektif dengan selera orang, namun cara kami menceritakan adalah yang membuat kami beda dari yang lain. Gaya cerita kami bisa digambarkan sebagai kombinasi dari artistik dan komersil, yang menurut kami sangat tepat sebagai penarik perhatian untuk berbagai umur dan latar belakang.

Monster Pabrik Rambut Tayang Mulai Hari Ini di Bioskop! Membawa Horor yang Berani, Mengkritisi Dunia Kerja yang Eksploitatif

Jakarta, 4 Juni 2026 Film terbaru persembahan Palari Films, karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut mulai tayang hari ini di bioskop Indonesia. Film horor fantasi yang berani mengkritisi tentang dunia kerja yang eksploitatif.
‎Film yang dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev ini ditujukan untuk menghibur penonton Indonesia melalui kemasan horor fantasinya yang ajaib dengan latar di sebuah pabrik rambut. Namun juga tak meninggalkan sisi kritisnya terhadap isu sosial yang saat ini perlu dibicarakan bersama.
‎"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monsternya. Yang mengeksploitasi mengeruk keuntungan pribadi, sementara yang dieksploitasi turut melanggengkan kondisi ini dengan menormalisasi lembur yang tidak manusiawi. Keduanya saling menopang sistem yang perlu kita kritisi," ujar sutradara Edwin.
‎Monster Pabrik Rambut membawa kritik itu dalam balutan horor yang campy dan menghibur.
‎Setelah press screening media yang digelar Senin lalu di Jakarta, akhirnya seluruh penonton Indonesia bisa menyaksikan sendiri Monster Pabrik Rambut di bioskop Indonesia hari ini. Film yang sudah lebih dulu mendunia lewat world premiere di Berlinale 2026 (Special Midnight), dan disambut antusias oleh penonton dan sinefil di berbagai penjuru dunia. Monster Pabrik Rambut segera berkompetisi di Fantasia, Montreal, 16 Juli-2 Agustus 2026.
‎Di Letterboxd, para penonton menyebut film ini sebagai karya yang menggabungkan horor, thriller, surealisme, dan absurditas komedi menjadi sesuatu yang benar-benar milik sendiri. Di X, satu penonton menulis bahwa Monster Pabrik Rambut berhasil mengembalikan harapan dan optimisme pada era sinema Indonesia yang nyentrik dan hidup.
‎Rachel Amanda, yang memerankan Putri, mengaku tema film ini sangat dekat dengan dirinya. "Dulu, saya pun belum sadar bahwa kondisi kerja seperti itu adalah eksploitasi. Karena sistemnya sudah begitu, semua orang mewajarkan. Sama seperti di film ini, lembur dan begadang dianggap normal, padahal tidak," ungkap Amanda.
‎Karakter Putri adalah cerminan nyata perempuan pekerja Indonesia. "Saya paham rasanya tidak punya pilihan selain bertahan di tempat yang tidak nyaman, demi menanggung keluarga. Itu dialami banyak perempuan, termasuk mereka yang sedang hamil atau punya kondisi khusus, dan film ini mengajak kita bertanya: apakah ini sudah adil?" tambahnya.
‎Lutesha, yang memerankan Ida, mengingatkan bahwa kelelahan kerja bukan hanya soal buruh pabrik. "Dampaknya sama saja, di mana pun kita bekerja. Kerja sampai sakit karena stres itu nyata dan tidak bisa dianggap sepele," ujarnya..
‎Iqbaal Ramadhan, yang hadir sekaligus sebagai aktor dan Produser Eksekutif, melihat film ini sebagai cerminan pengalaman yang dirasakan hampir semua pekerja. "Kita mungkin sama-sama bisa mengamini, mau bekerja di lini apa pun, situasi-situasi horor itu sangat mungkin terjadi. Bisa jadi karena atasan yang killer, kolega yang saling tusuk dari belakang, atau ekspektasi yang dibebani secara berlebih sehingga kita harus mengorbankan kesehatan mental atau bahkan kesehatan fisik sebagai pekerja," ungkapnya.
‎Kev, yang menjadikan Monster Pabrik Rambut sebagai debut aktingnya di layar lebar, menemukan kedekatan personal lewat karakternya sebagai Tohar, buruh pabrik yang kehilangan arah. "Tohar sampai lupa tujuannya di sini untuk apa, karena dia berada di dalam sistem yang sudah lama berjalan dan semakin hari semakin buruk. Dan ya, itu juga banyak dirasakan oleh teman-teman, atau mungkin saya pribadi pun merasakannya," ungkapnya.
‎Sal Priadi, yang memerankan Rudi, buruh pabrik yang bekerja keras demi menghidupi keluarganya, mengaku keterlibatannya dalam proyek ini terasa lebih dari sekadar akting. Dari pengalaman itulah lahir OST "Kepala, Pundak, Kerja Lagi, sebuah lagu yang menggambarkan kelelahan kerja yang sudah terlalu lama dinormalisasi. "Dipanggil Palari itu kayak dipanggil pemerintah pusat, jadi kita selalu siap untuk bergabung di proyek ini," ujarnya.
‎Lima fakta yang membuat Monster Pabrik Rambut sulit untuk dilewatkan:
‎Film horor Indonesia pertama tanpa setan. Edwin memilih "monster" berupa sistem kerja yang tidak manusiawi, bukan hantu. Kengerian datang dari realita sehari-hari.
‎Ko-produksi lima negara. Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, menjadikannya salah satu proyek film Indonesia paling ambisius secara internasional.
‎Skenario ditulis bersama novelis Eka Kurniawan, salah satu penulis sastra Indonesia paling diakui secara global.
‎Semua efek dibuat secara praktikal, tanpa CGI. Setiap pengulangan adegan bisa memakan waktu hingga 30 menit karena seluruh elemen harus disiapkan ulang dari awal.
‎Rambut bukan sekadar latar. Edwin memilih rambut sebagai simbol tekanan kerja secara sadar: "Ketika kita stres, rambut rontok, tiba-tiba memutih. Respons tubuh itu langsung kelihatan dari rambut."
‎Nonton Monster Pabrik Rambut bareng geng lembur kamu hari ini. Tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.
‎Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
‎Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok osok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan ida menyelamatkan Bona?
‎Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif" (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Kamis, 04 Juni 2026

‎Di Luar Nurul, Drama Remaja tentang Ambisi, Persahabatan, dan Pencarian Jati Diri

‎Jakarta, 3 Juni 2026 Original Series terbaru berjudul Di Luar Nurul, sebuah serial bergenre teen comedy drama yang mengangkat dinamika kehidupan remaja, perjuangan mengejar mimpi, pencarian jati diri, hingga lika-liku cinta di masa sekolah. Diproduksi oleh Screenplay Films dan disutradarai oleh Angling Sagaran dan Adis Kayl, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian generasi muda dengan balutan komedi yang ringan, hangat, dan menghibur. Mengawali bulan Juni, Vidio kembali menghadirkan tayangan
‎Dibintangi oleh Nayla Purnama, Gabriel Harun Giroux, Rayensyah Rassya, Lea Ciarachel, Keysha Angelica, Ghina Sungkar, dan sederet bintang muda berbakat lainnya, Di Luar Nurul siap mengajak penonton mengikuti perjalanan seorang remaja yang harus keluar dari zona nyamannya demi meraih cita-cita besar.
‎Dunia Baru di Balik Mimpi Besar Kania
‎Di Luar Nurul bercerita tentang Kania (Nayla Purnama), siswi cerdas dan ambisius yang memiliki Impian untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Oxford. Bersama sahabat-sahabatnya di geng The Centils, Jihan (Keysha Angelica) dan Aisyah (Ghina Sungkar), Kania menjalani masa remaja yang penuh warna. Ketiganya kerap diasosiasikan dengan sosok "Nurul", istilah yang lekat dengan remaja perempuan Gen Z yang autentik, ekspresif, penuh rasa ingin tahu, serta menemukan kebahagiaan dalam momen-momen sederhana masa remaja.
‎Di balik mimpinya yang besar, Kania tetaplah remaja pada umumnya. la senang menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya, berburu jajanan favorit sepulang sekolah, hingga menikmati live music. Kania tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri, tanpa merasa perlu mengubah siapa dirinya demi mengikuti standar orang lain.
‎Kehidupan yang selama ini terasa nyaman mulai berubah ketika Kania mendapat kesempatan untuk bersekolah di SMA Galaxy, sekolah internasional bergengsi yang dikenal memiliki program akademik unggulan. Kesempatan tersebut membawanya selangkah lebih dekat dengan impian untuk berkuliah di luar negeri, namun juga mempertemukannya dengan dunia yang sama sekali baru.
‎Di SMA Galaxy, Kania mengalami culture shock karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda dari sekolah lamanya. Dari kantin yang menyajikan. menu-menu yang tidak familiar baginya hingga teman-teman yang datang ke sekolah dengan mobil pribadi, Kania merasa seperti memasuki dunia baru.
‎Jika sebelumnya Kania selalu menjadi salah satu murid paling pintar di sekolahnya, di SMA Galaxy keadaan justru berbalik, la mendapati dirinya harus berjuang mengejar ketertinggalan di tengah lingkungan yang dipenuhi siswa-siswo berprestasi. Pengalaman tersebut membuat Kania untuk pertama kalinya menghadapi rasa tidak percaya diri dan keraguan terhadap kemampuannya sendiri.
‎Perbedaan latar belakang, tekanan akademis, hingga stigma terhadap siswa sekolah negeri membuat Kania harus bekerja lebih keras untuk membuktikan dirinya. Tantangan itu semakin besar ketika ia berhadapan dengan Lily (Lea Ciarachel), siswi populer yang berada dalam lingkaran pertemanan Gus Ammar (Rayensyah Rassya) dan Bagas (Gabriel Harun Giroux). Lily memandang Kania sebagai sosok yang berbeda dari lingkungan SMA Galaxy, sehingga hubungan mereka pun tidak langsung berjalan mulus.
‎Di tengah berbagai tantangan tersebut, Kania juga harus menghadapi dinamika perasaan yang tak kalah membingungkan. Ada Gus Ammar, sosok siswa teladan yang selama ini menjadi idolanya, dan Bagas, laki-laki yang dijodohkan dengannya yang perlahan mulai membawa warna baru dalam kehidupannya.
‎Membuktikan Bahwa Mimpi Tidak Ditentukan oleh Latar Belakang
‎Bagi Kania, bersekolah di SMA Galaxy bukan hanya tentang mengejar impian untuk kuliah di luar negeri, tetapi juga membuktikan bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh asal sekolah maupun latar belakangnya. Perjalanan Kania pun menjadi upayanya untuk mematahkan stigma sekaligus membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita.
‎Menghidupkan karakter Kania, Nayla Purnama melihat sosok yang diperankannya sebagai representasi banyak anak muda yang berani keluar dari zona nyaman untuk mengejar Impian yang lebih besar.
‎"Yang aku suka dari Kania adalah dia nggak gampang minder. Walaupun sering dipandang sebelah mata karena berasal dari sekolah negeri, dia tetap fokus sama tujuannya dan nggak mau membatasi dirinya karena omongan orang lain. Menurut aku, itu pesan yang relatable banget buat anak-anak muda yang mungkin pernah merasa diremehkan atau dianggap nggak mampu," ujar Nayla.
‎Menghadapi Perbedaan dan Menemukan Jati Diri
‎Selain perjalanan Kania, Di Luar Nurul juga menghadirkan karakter Lily yang memiliki dinamika menarik sepanjang cerita. Di balik kesan populer dan percaya diri yang ditampilkan di awal, Lily sebenarnya merupakan remaja yang masih mencari jati diri dan berusaha menemukan tempatnya sendiri.
‎Menurut Lea Ciarachel, salah satu hal yang membuat karakter Lily menarik adalah perjalanan emosional yang dialaminya sepanjang cerita.
‎"Lily adalah remaja yang sedang berada dalam fase mencari jati diri dan mencoba memahami dunia di sekitarnya. Di awal cerita, dia cukup arogan dan sering memandang rendah orang lain karena terbiasa berada di lingkungan seperti itu. Namun seiring berjalannya cerita, Lily menghadapi berbagai pengalaman yang membuat cara pandangnya perlahan berubah. Menurut aku, lewat karakter Lily, penonton bisa melihat bahwa kita nggak bisa menilai seseorang hanya dari latar belakang atau kesan pertama. Kadang kita perlu mengenal seseorang lebih jauh sebelum memberi penilaian," jelas Lea.
‎Gus Ammar, Sosok Idola yang Mengubah Hidup Kania
‎Salah satu karakter yang mencuri perhatian dalam Di Luar Nurul adalah Gus Ammar, sosok siswa teladan yang dikenal baik hati, berwawasan luas, dan dikagumi banyak orang di sekitarnya, termasuk Kania dan The Centils. Untuk memerankan karakter tersebut, Rayensyah Rassya mengaku melakukan berbagal riset agar dapat memahami sosok remaja yang tumbuh dengan nilai-nilai agama yang kuat.
‎"Mendalami karakter Gus Ammar menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya karena banyak hal baru yang bisa dipelajari, terutama dari sisi pengetahuan agama. Saya mencari berbagai referensi dari tokoh-tokoh publik dan para gus yang sudah dikenal masyarakat. Menurut saya, Ammar memang memiliki sifat yang dewasa, tetapi tetaplah seorang remaja berusia 17 tahun yang masih berada dalam proses bertumbuh dan belajar, "ungkap Rayensyah.
‎Saksikan Vidio Original Series Di Luar Nurul Hanya di Vidio!
‎Mengangkat tema persahabatan, mimpi, pencarian jati diri, hingga cinta pertama, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan remaja masa kini. Lewat perjalanan Kania dan teman-teman barunya di SMA Galaxy, penonton akan diajak menyaksikan berbagai tantangan, momen menggemaskan, konflik yang relatable, hingga proses bertumbuh yang penuh makna.
‎Jangan lewatkan kisah Kania dalam mengejar mimpinya, menghadapi lingkungan baru, dan menemukan dirinya di tengah berbagai perubahan, Saksikan Di Luar Nurul mulai Jumat, 5 Juni 2026, dengan episode terbaru yang hadir setiap hari Jumat, eksklusif hanya di Vidio
‎SAKSIKAN VIDIO ORIGINAL SERIES DI LUAR NURUL HANYA DI VIDIO!

MAGMA Entertainment Umumkan Proyek Horor-Komedi Terbaru "Jump Scare", Siap Syuting Tahun Ini Bersama Dion Wiyoko Segera Tayang 2027

Jakarta, 11 Juni 2026 - Setelah sukses menggebrak industri perfilman Indonesia lewat deretan karya horor box office yang solid s...