Film yang dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev ini ditujukan untuk menghibur penonton Indonesia melalui kemasan horor fantasinya yang ajaib dengan latar di sebuah pabrik rambut. Namun juga tak meninggalkan sisi kritisnya terhadap isu sosial yang saat ini perlu dibicarakan bersama.
"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monsternya. Yang mengeksploitasi mengeruk keuntungan pribadi, sementara yang dieksploitasi turut melanggengkan kondisi ini dengan menormalisasi lembur yang tidak manusiawi. Keduanya saling menopang sistem yang perlu kita kritisi," ujar sutradara Edwin.
Monster Pabrik Rambut membawa kritik itu dalam balutan horor yang campy dan menghibur.
Setelah press screening media yang digelar Senin lalu di Jakarta, akhirnya seluruh penonton Indonesia bisa menyaksikan sendiri Monster Pabrik Rambut di bioskop Indonesia hari ini. Film yang sudah lebih dulu mendunia lewat world premiere di Berlinale 2026 (Special Midnight), dan disambut antusias oleh penonton dan sinefil di berbagai penjuru dunia. Monster Pabrik Rambut segera berkompetisi di Fantasia, Montreal, 16 Juli-2 Agustus 2026.
Di Letterboxd, para penonton menyebut film ini sebagai karya yang menggabungkan horor, thriller, surealisme, dan absurditas komedi menjadi sesuatu yang benar-benar milik sendiri. Di X, satu penonton menulis bahwa Monster Pabrik Rambut berhasil mengembalikan harapan dan optimisme pada era sinema Indonesia yang nyentrik dan hidup.
Rachel Amanda, yang memerankan Putri, mengaku tema film ini sangat dekat dengan dirinya. "Dulu, saya pun belum sadar bahwa kondisi kerja seperti itu adalah eksploitasi. Karena sistemnya sudah begitu, semua orang mewajarkan. Sama seperti di film ini, lembur dan begadang dianggap normal, padahal tidak," ungkap Amanda.
Karakter Putri adalah cerminan nyata perempuan pekerja Indonesia. "Saya paham rasanya tidak punya pilihan selain bertahan di tempat yang tidak nyaman, demi menanggung keluarga. Itu dialami banyak perempuan, termasuk mereka yang sedang hamil atau punya kondisi khusus, dan film ini mengajak kita bertanya: apakah ini sudah adil?" tambahnya.
Lutesha, yang memerankan Ida, mengingatkan bahwa kelelahan kerja bukan hanya soal buruh pabrik. "Dampaknya sama saja, di mana pun kita bekerja. Kerja sampai sakit karena stres itu nyata dan tidak bisa dianggap sepele," ujarnya..
Iqbaal Ramadhan, yang hadir sekaligus sebagai aktor dan Produser Eksekutif, melihat film ini sebagai cerminan pengalaman yang dirasakan hampir semua pekerja. "Kita mungkin sama-sama bisa mengamini, mau bekerja di lini apa pun, situasi-situasi horor itu sangat mungkin terjadi. Bisa jadi karena atasan yang killer, kolega yang saling tusuk dari belakang, atau ekspektasi yang dibebani secara berlebih sehingga kita harus mengorbankan kesehatan mental atau bahkan kesehatan fisik sebagai pekerja," ungkapnya.
Kev, yang menjadikan Monster Pabrik Rambut sebagai debut aktingnya di layar lebar, menemukan kedekatan personal lewat karakternya sebagai Tohar, buruh pabrik yang kehilangan arah. "Tohar sampai lupa tujuannya di sini untuk apa, karena dia berada di dalam sistem yang sudah lama berjalan dan semakin hari semakin buruk. Dan ya, itu juga banyak dirasakan oleh teman-teman, atau mungkin saya pribadi pun merasakannya," ungkapnya.
Sal Priadi, yang memerankan Rudi, buruh pabrik yang bekerja keras demi menghidupi keluarganya, mengaku keterlibatannya dalam proyek ini terasa lebih dari sekadar akting. Dari pengalaman itulah lahir OST "Kepala, Pundak, Kerja Lagi, sebuah lagu yang menggambarkan kelelahan kerja yang sudah terlalu lama dinormalisasi. "Dipanggil Palari itu kayak dipanggil pemerintah pusat, jadi kita selalu siap untuk bergabung di proyek ini," ujarnya.
Lima fakta yang membuat Monster Pabrik Rambut sulit untuk dilewatkan:
Film horor Indonesia pertama tanpa setan. Edwin memilih "monster" berupa sistem kerja yang tidak manusiawi, bukan hantu. Kengerian datang dari realita sehari-hari.
Ko-produksi lima negara. Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, menjadikannya salah satu proyek film Indonesia paling ambisius secara internasional.
Skenario ditulis bersama novelis Eka Kurniawan, salah satu penulis sastra Indonesia paling diakui secara global.
Semua efek dibuat secara praktikal, tanpa CGI. Setiap pengulangan adegan bisa memakan waktu hingga 30 menit karena seluruh elemen harus disiapkan ulang dari awal.
Rambut bukan sekadar latar. Edwin memilih rambut sebagai simbol tekanan kerja secara sadar: "Ketika kita stres, rambut rontok, tiba-tiba memutih. Respons tubuh itu langsung kelihatan dari rambut."
Nonton Monster Pabrik Rambut bareng geng lembur kamu hari ini. Tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.
Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
Sinopsis
PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok osok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan ida menyelamatkan Bona?
Tentang Palari Films
Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif" (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.