Rabu, 25 Februari 2026

MD PICTURES UNGKAP JAJARAN CAST FILM FILOSOFI TERAS

Jakarta, 25 Februari 2026 MD Pictures mengumumkan proyek film terbarunya, yaitu Filosofi Teras. Dalam acara tasyakuran di MD Place Tower, Rabu (25/2/2026), ikut diperkenalkan pula jajaran pemain film adaptasi dari buku mega bestseller karya Henry Manampiring itu.

Mengusung genre drama keluarga, Filosofi Teras mendapuk Sherina Munaf sebagai pemeran utama. la akan memainkan tokoh bernama Nea. Ada juga Ge Pamungkas yang akan menjadi pasangan Sherina dalam film, yaitu Dio.

Selain dua nama tadi, beberapa aktor berikut turut meramaikan film Filosofi Teras, mulai dari Lydia Kandou, Kiki Narendra, Zee Asadel, Rangga Nattra, Givina, Dinda Kanya Dewi, Dinda Kanya Dewi, Dinda Cresheilla, Tubagus Ali, Ina Marika, hingga Putri Ayudya.

“Hari ini kita syukuran launching Filosofi Teras. Kami siap syuting Jumat (27/2/2026) nanti. Kapan tanggal mainnya? I’ll let you know. Mudah-mudahan film ini berkontribusi pada box office Indonesia!” ungkap CEO MD Entertainment Manoj Punjabi.

Filosofi Teras awalnya merupakan buku fenomenal yang meledak saat pandemi dan telah memasuki cetakan ke-94 dengan penjualan hampir 500 ribu eksemplar. Buku itu mempopulerkan filsafat Stoikisme di Indonesia, dengan salah satu ajarannya berupa dikotonomi kendali, yaitu pembagian hal-hal dalam hidup yang berada di bawah kendali dan di luar kendali kita.

Adaptasi filmnya sendiri mengangkat dilema Nea, seorang anak yang baru ditinggal mati sang ayah, lalu dihadapkan pada kenyataan kejam bahwa rumah keluarga mereka digadaikan orang tuanya sebelum mati. Utang peninggalan orang tua, biaya kuliah sang adik, hingga kakak yang masih menumpang hidup setelah menikah, membuat Nea harus memutuskan mana hal-hal yang masih dalam kendalinya.

Film Filosofi Teras akan disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman yang dulu juga pernah menggarap film adaptasi novel bestseller Negeri 5 Menara.

“Setelah baca skripnya, saya lihat semua karakter di cerita ini merepresentasikan orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan mungkin kita sendiri. Diterjemahkan ke dalam sebuah kisah naratif, yang bukan hanya bercerita, tetapi membantu penonton ketika menghadapi masalah: Apa yang harus dilakukan?” ungkap sang sutradara.

Menemani Bulan Ramadan, Ungu Persembahkan Single Religi “Pulang Pada-Mu”, Kerinduan Hamba Kepada Tuhan-Nya Di Tengah Hidup Yang Semakin Sibuk

Jakarta, 13 Februari 2026 — Menyambut bulan suci Ramadan, Ungu kembali merilis single religi terbaru berjudul “Pulang Pada-Mu”, sebuah lagu reflektif yang merekam perjalanan batin seorang hamba dalam menemukan jalan pulang kepada Allah SWT.
Diciptakan oleh Enda Ungu, “Pulang Pada-Mu” menggambarkan sebuah titik balik spiritual saat ego dikesampingkan dan hati berbicara dengan jujur memohon ampunan dan penerimaan dari Allah SWT. Lirik “Kini ku pulang pada-Mu” merupakan simbol bahwa jalan untuk kembali kepada-Nya akan selalu terbuka. Sejalan dengan kisah yang dialami Enda, lagu ini bukan sekadar doa, melainkan kesaksian personal tentang perjalanan taubat, harapan akan rahmat, dan kerinduan untuk kembali hidup dalam bimbingan-Nya. Dalam musik videonya, Enda pun turut hadir sebagai model di bagian cerita, memperkuat sisi personal dan emosional yang ingin disampaikan melalui lagu ini.

Enda menuturkan, “Lagu ini saya tulis berdasarkan apa yang saya rasakan. Ketika keseharian saya hanya disibukkan dengan bekerja dan mengejar ambisi, saya justru merasakan kekosongan. Dari situ muncul pencarian terhadap Allah SWT, disertai rasa penyesalan dan keinginan untuk kembali kepada-Nya.”

Lebih dari sekadar karya musik, “Pulang Pada-Mu” mengangkat pesan tentang kepulangan seorang hamba kepada Allah SWT—sebuah pilihan untuk kembali setelah perjalanan hidup yang penuh distraksi dan kesalahan. Kata “pulang” dihadirkan sebagai simbol kembalinya hati, bukan sekadar perjalanan fisik. Dirilis satu minggu sebelum Ramadan, lagu ini diharapkan dapat menemani pendengarnya sepanjang bulan suci sebagai pengingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali pada-Nya. Hal ini sejalan dengan nilai utama Ramadan sebagai bulan pengampunan dan perenungan diri.

Pasha, selaku vokalis Ungu mengatakan, “Kami berharap Pulang Pada-Mu bisa menjadi teman perjalanan spiritual selama bulan Ramadan. Lagu ini kami hadirkan sejalan dengan identitas Ungu yang sejak awal selalu menghadirkan karya-karya religi sebagai ruang refleksi dan pengingat bagi pendengarnya.”

Melalui lagu ini, Ungu kembali menegaskan identitas mereka sebagai band yang konsisten menghadirkan karya-karya religi yang dekat dengan kehidupan pendengarnya di lintas generasi.
Single “Pulang Pada-Mu” telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 13 Februari 2026. Lagu yang akan menjadi pengiring spiritual di bulan Ramadan. Musik video “Pulang Pada-Mu” juga akan segera dirilis. Pantau terus media sosial Trinity Optima Production dan Ungu @ungu_band.

Selasa, 24 Februari 2026

RUMAH PRODUKSI PAL8 PICTURES MENGUMUMKAN PARA PEMAIN FILM “LAUT BERCERITA”


Jakarta, 24 Februari 2026 - Rumah produksi Pal8 Pictures mengumumkan pemeran Film Laut Bercerita yang lebih lengkap. Setelah mengungkap para pemeran utama, yakni Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Yunita Siregar sebagai Asmara Jati, Christine Hakim sebagai ibu, Arswendi Bening Swara sebagai ayah, Dian Sastrowardoyo (Kasih Kinanti) dan Eva Celia sebagai Ratih Anjani di ajang JAFF Market tahun lalu, Pal8 Pictures mengumumkan pemain lain diumumkan di Jakarta pada 24 Februari 2026.
Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, berdasarkan novel bestseller karya Leila S.Chudori, para pemain lainnya adalah Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan, Ben Nugroho (Alex Perazon), Dewa Dayana (Sunu Dyantoro), Yoga Pratama (Arifin Bramantyo), Nagra Kautsar (Naratama), Natalius Chendana (Julius), dan Afrian Arisandy (Gala Pranaya). Nama-nama ini memerankan bagian penting dari kehidupan Biru Laut, yakni kelompok diskusi mahasiswa Winatra.

Skenario film ini ditulis oleh Leila S.Chudori dan Yosep Anggi Noen dan diproduksi oleh Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S.Chudori. Pal8 Pictures juga bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films dan Brandlink.

Di dalam film Laut Bercerita, Biru Laut tak bergerak sendiri. Pada 1991, mahasiswa jurusan sastra Inggris ini bertemu salah satu pimpinan Winatra: Kasih Kinanti.

Sejak itulah Laut bersama Daniel, Alex dan Sunu bergabung ke dalamnya. Mereka memahami bahwa membaca dan menulis adalah bentuk perlawanan. Namun, bergerak adalah langkah selanjutnya untuk melawan kelaliman. Dan ceritapun bergulir.

Reza Rahadian yang mengaku memerankan Biru Laut di dalam film panjang ini cukup sulit secara emosional, tetapi dia mengungkapkan harapannya film ini bisa menumbuhkan kepekaan bagi penontonnya. "Semoga film ini bisa membuka ruang berefleksi terhadap permasalahan sosial saat ini." Reza mengaku yang menyenangkan adalah Reza dan ketiga pemain lain dalam Winatra berakhir menjadi kawan dekat dalam kehidupan nyata.
Ben Nugraha menilai Alex Perazon memiliki karakter kuat dan kompleks. "Saya sangat tertantang memerankan dia." Sedangkan Kevin Julio mengungkap bahwa bekerja sama dengan sutradara Yosep Anggi Noen adalah cita-citanya. "Ketika saya diterima untuk menjadi Daniel Tumbuan, saya terharu sampai berkaca-kaca," kata dia. Sambil bergurau Kevin mengatakan, pengalaman paling seru ketika syuting film ini adalah adegan Blangguan, karena "kapan lagi melihat Dian Sastro dan Reza kehujanan dan penuh lumpur."
Dian Sastrowardoyo dan Eva Celia yang membaca novel "Laut Bercerita" beberapa tahun silam mempunyai tokoh favorit masing-masing. "Waktu pertama kali membacanya, saya membayangkan kalau ada film panjangnya, saya ingin menjadi Anjani.

Impian saya menjadi kenyataan," kata Eva.

Adapun Dian mengaku dia mengidolakan tokoh Kinan. "Saya merasa bahagia ketika ditawari peran ini," katanya.

Yunita Siregar menyampaikan dia belajar dari tokoh Asmara Jati, adik Laut.

"Bagaimana menyelami rasa kehilangan dengan lembut, tanpa pernah kehilangan kekuatannya," katanya..

Asmara Jati adalah tiang keluarga. Ayah dan ibunya tak kunjung percaya bahwa putra mereka, Biru Laut, hilang tanpa jejak. Tahun-tahun berlalu, mereka meyakini Biru Laut masih hidup. Sementara Asmara Jati yakin kakaknya sudah tiada.

Sutradara Yosep Anggi Noen mengarahkan para pemain selama 37 hari syuting di Semarang, Salatiga, Jakarta, dan Sukabumi. Anggi mengungkapkan proses penggarapan Laut Bercerita cukup sulit dan penuh tantangan. "Selain menyajikan cerita yang sudah dipahami oleh pembaca novelnya, di film ini saya harus menghadirkan penceritaan yang bisa diikuti oleh penonton secara umum," kata Anggi.

"Kami bersyukur film panjang perdana kami ini didukung oleh para pemain berbakat," ujar Direktur Pal8 Pictures, Budi Setyarso. "Kami berharap film Laut Bercerita bisa memberikan inspirasi untuk banyak orang," Budi menambahkan. "Semangat persahabatan dan persaudaraan anggota Winatra itulah yang kami ingin tularkan kepada penonton film ini."

Gita Fara yang juga menjadi produser film pendek dengan judul sama pada 2017 mengungkapkan, pada film panjang, penonton akan dapat menikmati cerita yang lebih utuh tentang perjalanan Biru Laut. "Kami merasa cerita ini semakin relevan untuk saat ini. Kami ingin menekankan aspek keluarga, kehilangan, dan harapan," ujar Gita Fara. Film ini terpilih dalam program Work-in-Progress (WIP) di Hong Kong Asia Film Financing Forum (HAF) 2026, dan akan berjejaring dengan calon mitra kolaborator di Hong Kong Filmart pada 17-19 Maret 2026.
Film "Laut Bercerita" akan tayang dibioskop di seluruh Indonesia tahun 2026 ini.

Senin, 23 Februari 2026

Ghost in the Cell Merilis Official Trailer! Film ke-12 Joko Anwar yang Paling Menghibur, Menyatukan Horor dan Komedi Satir Tentang Situasi Indonesia


Jakarta, 23 Februari 2026 - Setelah mendapat sambutan dan antusiasme tinggi dari penonton internasional di ketika world premiere di Berlin International Film Festival 2026, film terbaru persembahan Come and See Pictures, Ghost in the Cell merilis official trailer yang menjanjikan tontonan yang sangat menghibur dan berisi! Menampilkan kengerian yang ada di penjara, saat para napi dalam ruang terbatas dihantui oleh kekacauan yang meneror.

Menampilkan deretan aktor terbaik Indonesia, film ke-12 penulis dan sutradara Joko Anwar ini menggabungkan aspek horor supranatural, satir tentang politik dan situasi sosial yang terjadi di Indonesia, dikemas dengan cara yang memanjakan penonton secara visual dan audio.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Penulis dan sutradara Joko Anwar mengungkapkan cerita di film Ghost in the Cell adalah miniatur kehidupan rakyat, yang saat ini seperti sedang hidup di dalam penjara.

"Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita," ujar penulis dan sutradara Joko Anwar.

"Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena ngeliat kehidupan kita sendiri," tambah Joko.

Produser Tia Hasibuan menambahkan, desain produksi film Ghost in the Cell menerapkan pendekatan yang efektif dan efisien. Proses produksi yang hanya membutuhkan waktu 22 hari, yang hanya menggunakan setengah hari di setiap harinya, membuat seluruh jajaran kru dan pemeran pun merasa nyaman.

"Kami mengambil gambar dari pagi dan berakhir saat jam makan siang. Jadi meskipun waktu produksi kami 22 hari, itu bisa dibilang terasa seperti 11 hari waktu produksi. Di film ini, kami juga menggunakan pendekatan yang hampir seluruhnya menggunakan one shot take. Jadi sejak pra-produksi juga sudah dipersiapkan secara matang," ujar produser Tia Hasibuan.

Di film ini, Joko juga menggunakan pendekatan yang berbeda. Dalam pengambilan gambar, Ghost in the Cell pun didesain layaknya pertunjukan teater, dengan total hanya 43 scene (film biasanya berisi sekitar 120 scene), dengan setiap adegan bisa berdurasi panjang. Sebab itu, jajaran ansambel di film ini adalah para aktor terbaik Indonesia, untuk mewujudkan hasil yang maksimal.
Abimana, yang memerankan karakter Anggoro dan menjadi pemeran utama di film ini menuturkan, Joko memberinya kebebasan artistik dalam menerjemahkan karakternya saat berakting. Baginya, film ini akan membuka mata dan pikiran banyak orang Indonesia untuk berefleksi terhadap apa yang terjadi saat ini,

"Meski latarnya adalah penjara dan para karakternya adalah para napi, bagi saya ini seperti gambaran yang jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang. Justru, dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme untuk melakukan sebuah tindakan, saat kita tidak bisa bergantung dan mengandalkan institusi resmi," ujar Abimana.

Film Ghost in The Cell diproduksi oleh Come and See Pictures, bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures. Barunson E&A juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.
Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

Jumat, 20 Februari 2026

MD Entertainment Rilis First Look WeTV Original Samuel


Jakarta, 20 Februari 2026 – First look WeTV Original Samuel resmi dirilis di MD Place Tower, Jumat (20/2/2026), sekaligus acara tumpengan dan buka bersama Cast WeTV Original Samuel. Series terbaru garapan MD Entertainment itu akan segera tayang di layanan streaming WeTV.

Samuel, yang diadaptasi dari novel best seller karya Ita Kurniawati alias Itakrn, bercerita tentang rivalitas dua kelompok geng motor, yaitu Diamond dan Chayton. Konflik semakin menegang ketika masing-masing pentolan geng motor berebut perhatian seorang montir perempuan bernama Azura.

Meskipun berlatarkan geng motor, tetapi creator Samuel mengungkapkan kisah ini lebih daripada drama perseteruan antar geng motor. “Ini bukan hanya tentang persahabatan mereka, tapi cerita ini bisa dibilang kompleks, ada tentang percintaan, sahabat, keluarga juga,” ujar Itakrn.

Sebelumnya, Samuel sempat diadaptasi sebagai sinetron yang tayang di MDTV. Kini, adaptasi novel itu beralih menjadi serial dengan total delapan episode dan disutradarai oleh Asep Kusdinar.

Fadi Alaydrus akan memerankan tokoh utama Samuel yang berkarakter pendiam dan misterius. Di sisi lain, aktris Saskia Chadwick akan bermain menjadi Azura, dan Emyr Razan akan berperan sebagai Raskal yang menjadi rival dari Samuel.


Selain itu, jajaran cast lain yang akan bermain dalam series Samuel ini di antaranya: DimasPutra, Azela Putri, Rafly Altama, Andy William, Yusuf Kartiko, Endy Arfian, Jordan Teuku Zacky, Cut Tari, Indra Brasco, Kimberly Angela, Gabriella Quinlyn, Sharon Sahertian, Andrew James, Vincent Leenders, dan Reza Fahlevi.

Kamis, 19 Februari 2026

Film Pelangi di Mars “Keliling Langit Indonesia” Lewat Balon Raksasa Jelang Rilis Lebaran 2026


Jakarta, 19 Februari 2026 — Sebagai bagian dari rangkaian promosi menuju penayangan pada Lebaran 2026, film Pelangi di Mars menghadirkan instalasi balon raksasa yang akan menghiasi langit Indonesia sepanjang bulan ini.

Balon berukuran besar tersebut resmi diluncurkan dalam sebuah press conference yang dilaksanakan di SCBD Tunnel BEJ. Balon ini akan mulai tampil di kawasan SCBD mulai 19 Februari 2026 sebelum melanjutkan perjalanannya ke beberapa titik lainnya di Indonesia.

Dalam perjalannya Pelangi Di Mars akan terus dikembangkan untuk bisa menjadi sebuah Intellectual Property(IP) kebanggan Indonesia yang bisa bersaing di kancah global.

Turut hadir meramaikan peluncuran tersebut adalah produser Dendi Reynando, sutradara UpieGuava, pemeran utama Messi Gusti, pengisi suara Bimoky dan Kristo Immanuel, serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar yang turut memberikan dukungan terhadap film ini.

Simbol Bahwa Cerita ini Milik Semua Orang


Produser Dendi Reynando menyampaikan bahwa kehadiran balon raksasa ini merupakan simbol dari semangat film Pelangi di Mars yang ingin menjangkau semua kalangan. “Balon ini kami hadirkan sebagai simbol bahwa Pelangi di Mars adalah cerita untuk semua orang. Kami ingin film ini terasa dekat, bisa dilihat, dan dirasakan bersama, bahkan sebelum penonton masuk ke bioskop. Harapannya Pelangi di Mars dapat menjadi IP asli Indonesia yang memiliki hidup panjang, lebih dari hanya satu film, dan terus menjadi kebanggaan keluarga Indonesia,”
ujar Dendi Reynando.


Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan apresiasi atas skala dan ambisi proyek ini. “Kami bangga dapat mendukung Pelangi di Mars sebagai salah satu film Indonesia yang menunjukkan pencapaian besar dari sisi skala produksi dan kualitas visual. Film ini adalah bukti bahwa industri kreatif kita mampu menghadirkan karya ramah anak yang berkualitas dan relevan,” ungkap Irene Umar.

Mahakarya Pictures selaku rumah produksi percaya bahwa spirit baik yang ada di dalam filmnya bisa membawa dampak besar dan memberikan banyak manfaat untuk penonton. Hal ini akan semakin besar jika didukung oleh berbagai pihak yang memiliki value yang sama. Peluncuran Giant Balloon ini, tidak akan berhasil jika tidak mendapat dukungan yang besar dari kawasan SCBD sebagai salah satu ikon kota Jakarta.

“Melalui dukungan terhadap film Pelangi di Mars, Artha Graha Peduli bersama SCBD, SCBD Park, dan Creative Event Entertainment (CEE) sebagai bagian dari Artha Graha Group meyakini bahwa talenta lokal memiliki ruang yang luas untuk terus tumbuh dan bersinar. Kami percaya, kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam mendorong kreativitas anak bangsa sekaligus mempercepat pertumbuhan industri kreatif Indonesia agar semakin berdaya saing di tingkat nasional maupun global.”, ungkap perwakilan Artha Graha Group.

Peluncuran balon raksasa ini melanjutkan momentum setelah perilisan official trailer resmi pada pekan lalu. Film ini mengisahkan perjalanan Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars dan bersama teman-teman robotnya meneruskan misi ibunya untuk menemukan mineral yang dapat membantu mengatasi krisis air di Bumi.

Pelangi di Mars dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata, serta menampilkan penampilan suara dari Kristo Immanuel, Bimoky, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya.

Siap Menjelajahi Mars: Lebaran 2026!

Kehadiran balon raksasa di berbagai titik kota ini diharapkan dapat menjadi pengalaman visual yang mengajak publik semakin dekat dengan dunia Pelangi di Mars. Ingin bertemu Pelangi dan teman-teman robotnya duluan? Lihat ke langit, dan mungkin kalian juga dapat berkesempatan menyaksikannya!

Pelangi di Mars dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada momen Lebaran, 18 Maret 2026. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun media sosial resmi @pelangidimars dan @mahakaryapictures.

Pertama Kali Dipasangkan, Rizky Nazar dan Laura Moane Bangun Chemistry Manis di Vidio Original Series 'A dan Z: InsyaAllah Cinta'

Siap Temani Ramadan Kamu, Tayang Mulai 19 Februari 2026

Jakarta, 19 Februari 2026 Menyambut bulan Ramadan, Vidio kembali menghadirkan tontonan baru yang fresh, manis, dan bikin senyum-senyum sendiri. Vidio Original Series A dan Z: InsyaAllah Cinta hadir sebagai kisah romantis yang dibintangi oleh Rizky Nazar, Laura Moane, Zoe Jackson, Anya Taroreh, Yusuf Kartika dan masih banyak lainnya. Series ini merupakan adaptasi dari cerita Wattpad karya Erlis Kurniyanti berjudul A dan Z. yang telah dibaca lebih dari 29 juta kali. Lewat kisah cinta yang sederhana tapi bermakna, series ini siap menjadi teman di bulan Ramadan dengan cerita yang hangat, manis, dan relatable.

A dan Z: InsyaAllah Cinta mengisahkan tentang Zara (Laura Moane), seorang mahasiswi kedokteran yang menerima amanah terakhir dari kakaknya, Fara (Zoe Jackson), sebelum meninggal dunia untuk menikahi laki-laki yang telah dijodohkan dengannya. Amanah tersebut membawa Zara ke dalam pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meski sudah menyandang status sebagai istri, Zara tetap menjalani hari-harinya seperti anak muda pada umumnya: berkumpul bersama teman-teman, bermain padel, hingga sesekali pergi ke pantai untuk melepas penat. Sisi inilah yang membuat ceritanya terasa dekat dan relevan dengan generasi sekarang, sekaligus menghadirkan kontras saat disandingkan dengan sosok Abyan yang lebih dewasa dan tenang.

Di sisi lain, ada Abyan (Rizky Nazar) atau yang akrab disapa Gus Abyan, putra pemilik pesantren yang sejak awal terikat dalam perjodohan tersebut sebagai bentuk balas budi karena pendidikan S2-nya dibiayai oleh ayah Zara. Sosok Abyan digambarkan sebagai pria yang matang, tenang, dan bertanggung jawab, serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Pertemuan dua karakter dengan latar belakang dan cara pandang berbeda inilah yang membuat perjalanan rumah tangga mereka penuh dinamika dan proses pendewasaan.

4 Alasan A dan Z: InsyaAllah Cinta Wajib Masuk Watchlist Ramadan Kamu!

1. Adaptasi dari Wattpad dengan 29 Juta Pembaca


Cerita ini diadaptasi dari wattpad populer karya Erlis Kurniyanti yang telah dibaca lebih dari 29 juta kali. Antusiasme pembaca yang besar membuktikan bahwa kisah A dan Z sudah memiliki basis penggemar yang kuat sebelum diangkat menjadi series. Laura Moane. mengaku sempat merasa excited sekaligus deg-degan saat mengetahui kisah ini akan diadaptasi.

"Karena ini diadaptasi dari Wattpad, jujur pertama kali tahu aku langsung excited tapi juga deg-degan. Cerita yang sudah punya pembaca setia pasti punya ekspektasi tinggi. Tapi karena kami banyak diskusi soal karakter bareng penulisnya, rasanya jadi lebih tenang dan terarah," ujar Laura.

Penulis Erlis Kurniyanti, juga menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya melihat karyanya berkembang hingga ke layar.

"Sejak pertama kali A dan Z ditulis di Wattpad pada Agustus 2021, lalu sampai akhirnya diadaptasi menjadi serial di 2026, ini perjalanan yang panjang dan penuh proses. Aku senang sekali karena para pemainnya sesuai dengan visual yang selama ini aku bayangkan," ungkap Erlis.

Antusiasme pemboca pun turut mewarnai proses produksi. Fanbase A dan Z yang menginisiasi project bertajuk Gift of Light sebagai bentuk dukungan terhadap adaptasi serial ini

2. Romansa yang Tidak Instan, Dimulai dari Kehilangan dan Amanah


Berbeda dari romansa kebanyakan yang diawali pertemuan manis atau cinta pada pandangan pertama, A dan Z: InsyaAllah Cinta justru bertolak dari kehilangan dan amanah yang tak terduga. Fondasi cerita ini dibangun dari dinamika emosional yang lebih dalam, ketika dua orang dipersatukan oleh keadaan, bukan oleh rasa yang sudah tumbuh.

Sutradara Key Mangunsong menjelaskan bahwa pendekatan tersebut sengaja menghadirkan perjalanan cinta yang lebih realistis.

"Romansa biasanya dimulai dari ketertarikan. Tapi di series ini, cinta justru dimulai dari kehilangan dan kesalahpahaman. Cinta mereka adalah keputusan untuk bertahan, belajar memahami, dan memaafkan kekurangan," ungkap Key.

Hal senada disampaikan Rizky Nazar, yang melihat kisah ini sebagai refleksi tentang penerimaan.

"Series ini bukan cuma soal pernikahan, tapi soal ikhlas dan menerima takdir yang nggak pernah kita rencanakan. Dua orang yang awalnya terpaksa bersama, belajar bertahan, percaya, dan melihat bahwa rencana Allah sering kali jauh lebih indah dari yang kita susun sendiri. Penonton harus siapin hati, karena ceritanya hangat, tapi juga ngena banget," ujar Rizky

3. Chemistry Baru yang Fresh di Layar


Mempertemukan Rizky Nazar dan Laura Moane sebagai pasangan utama, series ini menghadirkan dinamika karakter yang kontras namun saling melengkapi. Sosok Gus Abyan yang matang, tenang, dan penuh pertimbangan dipertemukan dengan Zara yang ceria, spontan, dan emosional. Perbedaan inilah yang membuat interaksi keduanya terasa hidup.

Rizky mengaku proyek ini menjadi pengalaman baru baginya karena untuk pertama kalinya dipasangkan dengan Laura.

"Ini pertama kalinya aku satu project dengan Laura. Ternyata orangnya sangat menyenangkan dan enak banget diajak kerja sama. Kita jadi sering ngobrol, diskusiin adegan, bahkan bercanda juga di set supaya nggak terlalu tegang. Menurut aku itu penting banget supaya chemistry-nya kebangun secara natural. Jadi waktu di depan kamera, hubungan Abyan dan Zara terasa lebih mengalir karena kita sudah nyaman satu sama lain," ujar Rizky.

4. Romance Religi yang Ringan dan Relatable

Tak hanya menyuguhkan dinamika rumah tangga dan romansa yang tumbuh perlahan, A dan Z: InsyaAllah Cinta juga menghadirkan pesan religius yang disampaikan secara hangat. Nilai tentang keikhlasan, komitmen, serta percaya pada rencana Allah menjadi benang merah cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan terasa semakin dekat dengan suasana Ramadan.

Sutradara Key Mangunsong menegaskan bahwa pendekatan religi dalam series ini tidak dibuat menggurui, melainkan mengalir melalui tindakan para karakter.

"A dan Z memang tidak berceramah. Nuansa religi hadir lewat cara karakter mengambil keputusan yang didasari kesabaran, keikhlasan, dan kepasrahan yang relevan dengan problematika hidup sehari-hari," kata Key.

Religi bukan ditampilkan lewat dialog panjang, melainkan lewat sikap dan proses pendewasaan. Dengan pendekatan tersebut, A dan Z: InsyaAllah Cinta menghadirkan romance religi yang tidak terasa kaku.

Hal serupa juga disampaikan oleh Laura Moane, yang melihat kekuatan cerita ini ada pada penyampaian pesannya yang ringan namun tetap bermakna.

"Banyak pesan-pesan yang disampaikan melalui series ini, tapi dibalut dengan ringan sehingga bisa lebih kena ke generasi muda. Jadi nggak terasa berat atau menggurui, justru terasa dekat dan relate sama kehidupan sekarang," ujar Laura.


A dan Z: InsyaAllah Cinta Tayang Mulai 19 Februari 2026 di Vidio!

Dengan kisah yang hangat, emosional, dan penuh makna tentang keikhlasan serta kepercayaan pada rencana Tuhan, A dan Z: InsyaAllah Cinta siap menjadi tontonan yang tak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh hati. Perjalanan cinta yang tumbuh dari kehilangan dan amanah ini menghadirkan romansa religi yang ringan, relatable, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jangan lewatkan Vidio Original Series A dan Z: InsyaAllah Cinta yang tayang mulai 19 Februari 2026, eksklusif hanya di Vidio.




Rabu, 18 Februari 2026

MD Pictures Rilis Teaser Poster & First Look Film “Gak Ada Matinya”, Tandai Debut Perdana Muhadkly Acho sebagai Produser

MD Pictures Rilis Teaser Poster & First Look Film “Gak Ada Matinya”, Tandai Debut Perdana Muhadkly Acho sebagai Produser

Jakarta 18 Februari 2026— MD Pictures resmi menggelar acara Press Conference Teaser Poster & First Look untuk film terbarunya, Gak Ada Matinya. Acara ini menjadi momen penting yang tidak hanya memperkenalkan gambaran awal film kepada publik, tetapi juga menandai langkah baru Muhadkly Acho yang menjalani debut perdananya sebagai produser.

“Ini adalah kerja sama antara saya dengan MD Pictures dan ini pertama kalinya debut saya sebagai seorang produser,” ujar Acho dalam konferensi pers tersebut.

Film ini disutradarai oleh Etienne Caesar dengan naskah yang ditulis oleh Ridho. Deretan pemain yang terlibat menghadirkan kombinasi komedi dan drama yang kuat, di antaranya Oki Rengga, Lolox, Fedi Nuril, Mikha Tambayong, Benedictus Siregar, Aci Resti, Yoshi Sudarso, serta Mathias Muchus.

Poster dan first look menampilkan kesan dark comedy yang kuat. Banyak netizen memberikan respon positif karena jajaran pemainnya yang didominasi oleh komika berbakat, menjanjikan nuansa humor yang segar namun getir.

Poster ini didukung oleh premis unik mengenai tokoh Binsar yang terlilit utang KPR dan berharap pada asuransi kematian ayahnya, Luhut Siregar, namun sang ayah justru mengalami mati suri.

Produser dan CEO MD Pictures, Manoj Punjabi, mengungkapkan antusiasmenya terhadap proyek ini. Ia menilai film tersebut membawa warna baru bagi MD Pictures.

“MD ingin punya warna baru. Saya suka konsepnya. Waktu Acho gabung sebagai produser, saya bilang ini keren banget. Saya menyerahkan semua secara kreatif kepada Acho karena mereka ahlinya. Saya pribadi melihat potensinya sangat besar,” ujar Manoj.

Sinopsis 
Gak Ada Matinya! mengisahkan Binsar, seorang anak yang terlilit utang KPR dan memiliki hubungan renggang dengan ayahnya, Luhut Siregar. Ketika sang ayah meninggal dunia, Binsar berencana mencairkan uang asuransi untuk menutup utangnya. Namun rencananya berubah drastis saat Luhut tiba-tiba kembali hidup karena ternyata hanya mengalami mati suri.

Film Gak Ada Matinya! dijadwalkan segera memasuki proses syuting sebelum akhirnya tayang di bioskop.


Selasa, 17 Februari 2026

Film Antara Cinta, Mama, dan Surga: Drama Restu, Cinta, dan Pergulatan Anak-Orang Tua dalam Balutan Budaya Batak

Film karya PIM Pictures yang bekerja sama dengan HKBP dan BPODT ini mengisahkan konflik emosional antara keluarga, cinta, dan pilihan hidup yang tidak mudah, dibalut dalam bahasa cinta Nommensen yang penuh makna.

Jakarta, 16 Februari 2026 PIM Pictures memperkenalkan film terbaru mereka Antara Mama Cinta dan Surga kepada publik dan media dalam rangkaian Press Screening & Press Conference di Epicentrum XXI. Film ini menghadirkan drama keluarga yang mengangkat konflik klasik namun relevan lintas generasi: pilihan antara cinta, restu orang tua, dan masa depan. Film ini akan tayang di bioskop mulai 19 Februari 2026,

Disutradarai oleh Agustinus Sitorus, film ini tidak hanya menyuguhkan kisah personal seorang anak yang terhimpit ekspektasi keluarga, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang komunikasi, pengorbanan, dan makna restu dalam keluarga Batak.

Film ini bercerita tentang Bernard (Aldy Maldini), anak bungsu Batak yang diinginkan menjadi seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) sesuai tradisi keluarga. Namun, bertemu dengan Nommensen dalam beberapa mimpi spiritual membuatnya merasa terpanggil menjadi pendeta. Keputusannya memicu konflik dengan sang Mamak (Dharty Manullang) dan mengguncang hubungannya dengan Anindita (Anneth Delliecia), di tengah benturan iman, cinta, dan nilai keluarga.

"Saya memilih konflik ini karena keluarga, cinta, dan keyakinan adalah tiga hal yang paling sering bertentangan dalam kehidupan nyata, namun jarang dibicarakan secara jujur." ujar Agustinus.

Konflik antara tradisi keluarga Batak, panggilan iman, dan pilihan hidup generasi muda digambarkan melalui konflik batin anak bungsu yang terhimpit antara keyakinan, cinta, dan harapan keluarga. Tekanan yang silih berganti, mulai dari dalam dirinya maupun dari lingkungan terdekat. Di tengah cinta yang tulus dan nilai- nilai keluarga yang dijunjung tinggi, perlahan menyadari bahwa setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi.

Drama Keluarga yang Relatable dan Reflektif

Dalam film ini, Bernard harus menghadapi tekanan besar dari sang ibu yang menginginkan ia menjadi Pegawai Negeri Sipil dan menikahi perempuan dengan pilihan keluarga. Di sisi lain, ia memiliki cinta dan impian yang berbeda di perantauan.

Aldy Maldini, yang memerankan Bernard, mengaku karakter ini menjadi salah satu tantangan terbesarnya sepanjang karier.

"Ini pertama kali aku memerankan karakter yang benar-benar terhimpit. Biasanya karakterku dekat dengan diriku sendiri, yang seru dan suka bercanda. tapi Bernard ada di fase yang sulit-dia harus memilih antara keinginannya sendiri dan harapan orang tuanya. Itu yang bikin peran ini jadi yang paling susah buat aku."

la juga menambahkan bahwa proses pendalaman karakter dilakukan melalui diskusi intens bersama sutradara dan lawan main Anneth Delliecia untuk memahami konflik batin Bernard yang tidak selalu meledak secara verbal, tetapi dipendam. 

Dengan latar budaya yang kuat, film ini menyoroti tekanan sosial, makna pengorbanan orang tua, serta keberanian menentukan masa depan sendiri sebagai refleksi tentang identitas dan kehidupan.

Bagi Anneth Delliecia, film ini menjadi pengalaman layar lebar pertamanya. la memerankan Anindita, sosok perempuan yang berada di tengah pusaran konflik Bernard.

Anneth mengaku proses syuting menjadi pengalaman berharga, terutama karena film ini juga mengambil lokasi di Sumatera Utara.

"Ini film layar lebar pertama aku, dan rasanya spesial banget. Syuting di Toba itu pengalaman yang nggak terlupakan. Selain ceritanya kuat, suasananya juga terasa sangat emosional dan dekat."

la juga mengungkapkan bahwa bekerja kembali bersama Agustinus Sitorus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membantunya lebih percaya diri dalam mengeksplorasi karakter.

Sosok Ibu yang Tegas, Tapi Penuh Cinta

Salah satu karakter paling kuat dalam film ini adalah sosok Mamak yang diperankan oleh Dharty Manullang. Di permukaan, karakter ini tampak dominan dan memaksakan kehendak. Namun di balik itu, tersimpan ketakutan dan kasih sayang yang besar terhadap anaknya.

Dalam sesi press conference, Dharty menyampaikan refleksi personalnya sebagai seorang ibu.

"Kadang kita sebagai ibu merasa paling benar. Kita pikir pilihan kita pasti yang terbaik. Padahal anaklah yang menjalani hidupnya. Dari film ini saya belajar, jangan sampai karena kita terlalu dominan, komunikasi dengan anak justru hilang."

la juga menekankan bahwa karakter Mamak tidak dimaksudkan sebagai antagonis, melainkan representasi banyak orang tua yang ingin anaknya sukses dengan cara yang mereka pahami.

Salah satu kekuatan film ini adalah absennya antagonis mutlak. Setiap karakter bertindak atas dasar cinta dan keyakinan masing-masing. Konflik tidak dibangun dari kebencian, melainkan dari perbedaan cara memaknai masa depan dan kebahagiaan.

Novia Tumeang yang memerankan karakter "pilihan kedua" dalam hubungan cinta Bernard mengaku tertantang karena harus menghidupkan emosi yang belum pernah ia alami secara pribadi. Sementara Jenda Munthe menekankan pentingnya totalitas dalam setiap peran, besar maupun kecil.

Interaksi hangat antar pemain selama press conference juga menunjukkan kekompakan tim produksi yang solid dan suportif, mencerminkan energi positif yang turut terasa dalam filmnya.

Dibintangi juga oleh Kang Joe, Cok Simbara, Dorman Manik, Dominique Sanda, Tabitha Napitupulu, Novia Situmeang, Rany Simbolon, Fadlan Holao, Jenda Munthe, Mark Natama, dan akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 19 Februari 2026, sebagai film drama yang mengangkat realitas budaya dan konflik batin.

Pantau terus akun Instagram @amcs.bahasacintanommensen dan @pimpictures. untuk mengikuti perkembangan terbaru film ini dan menyaksikan pilihan hidup Bernard: akankah ia memenuhi panggilan hatinya atau harapan keluarganya?

Senin, 16 Februari 2026

Film Terbaru Rachel Amanda dan Iqbaal Ramadhan dari Sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut World Premiere di Hadapan Hampir 2000 Penonton dan Mendapatkan Respons Positif di Berlinale 2026

Berlin, 15 Februari 2026 — Film terbaru rumah produksi Palari Films yang disutradarai Edwin, Monster Pabrik Rambut baru saja melakukan world premiere (penayangan perdana) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Tayang di program Berlinale Special Midnight, world premiere Monster Pabrik Rambut berlangsung pada Sabtu, 14 Februari 2026 di Uber Eats Music Hall, Berlin, Jerman. World premiere juga turut dihadiri oleh sutradara Edwin, duo produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, serta jajaran pemeran Rachel Amanda, Iqbaal Ramadhan, Sal Priadi, Luqman Hakim (Kak Kev) dan Aryani Willems.

Film Monster Pabrik Rambut pun mendapat sambutan yang meriah di hadapan hampir 2000 penonton! Sekaligus menggugah dan mengguncang penonton Berlinale, saat film ini menghadirkan visual yang menyeramkan mulai dari teror ‘hantu’ hingga matinya satu per satu para buruh di pabrik rambut.
“Di film Monster Pabrik Rambut saya mencoba mengeksplorasi berbagai gabungan genre mulai dari horor, body-horror, dark comedy, hingga fantasi. Melalui pendekatan film genre, saya ingin mengajak penonton untuk berefleksi terhadap situasi yang terjadi saat ini, ketika hal seperti workaholic menjadi sebuah pujian, alih-alih menjadi hal yang perlu kita kritisi,” ujar penulis dan sutradara Edwin.

Cineuropa dalam ulasannya menyebutkan, unsur kekerasan yang kocak sekaligus sadis yang ada di film ini saja sudah cukup menjamin film ini mendapat tempat di berbagai festival film genre internasional bergengsi. Namun, ada hal lain yang juga
ditawarkan film ini, selain unsur sadis dan horornya.

“Sisi yang lebih tenang dan sedih mengangkat film ini lebih dari sekadar hiburan belaka. Ini seperti gaya Ken Loach namun dengan kesurupan iblis dan mata yang dicungkil. Film genre terbaik selalu menyembunyikan sesuatu yang lebih dari sekadar hantu masa lalu dan menyajikan lebih dari sekadar adegan jumpscares,” tulis Cineuropa.
“Senang sekali Monster Pabrik Rambut mendapat respons positif dari audiens internasional di Berlinale. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan film ini dan mendapat respons positif juga saat tayang di Indonesia,” tambah pemeran Iqbaal Ramadhan.

Sebelumnya, para kru dan pemeran Monster Pabrik Rambut juga menghadiri Opening Gala Berlinale ke-76 yang berlangsung pada Kamis, 12 Februari 2026. Sementara itu, film Monster Pabrik Rambut masih akan tayang di Berlinale
sebanyak lima kali hingga 22 Februari 2026 di berbagai lokasi berlangsungnya festival.
Program Berlinale Special Midnight merupakan program khusus di Berlinale yang mengkurasi karya-karya inovatif dan beragam dari berbagai dunia, termasuk film-film genre.

Film ini ditulis Edwin bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga. Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut menjadi ko-produksi internasional antara Indonesia (Palari Films dan Beacon Film), Singapura (Giraffe Pictures), Jepang (Hassaku Lab), Jerman (In Good Company), dan Prancis (Apsara Films).

Sebelumnya, film panjang kedua Edwin, Kebun Binatang (Postcards from the Zoo, 2012) berkompetisi di program utama (Main Competition) Berlinale ke-62. Film Aruna & Lidahnya (2018) juga pernah ditayangkan di Berlinale dalam program Culinary Cinema. Film pendeknya, Trip to the Wound (2007) juga turut ditayangkan di Berlinale 2009
Film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) segera tayang di bioskop Indonesia tahun 2026! Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film horor fantasi Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) persembahan Palari Films melalui akun Instagram resmi @palarifilms.

Tiket World Premiere Ghost in the Cell Sold Out! Film Terbaru Joko Anwar Dapat Sambutan Meriah dari Penonton Berlinale

Berlin, 14 Februari 2026 — Film horor komedi satir terbaru dari penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah saat penayangan perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026! Antusiasme untuk film ini sudah terasa sejak penjualan tiket untuk seluruh pemutaran film ini terjual habis (sold out), hingga saat world premiere film ini mendapat tepuk tangan gemuruh dan respons positif dari para penonton.

Di Berlinale 2026, film Ghost in the Cell diputar dalam program Forum, yang dikenal sebagai program yang menampilkan kurasi film-film dengan visi sinematik yang kuat, berani secara bentuk, serta tajam dalam membaca realitas sosial dan politik. Di Berlinale, Ghost in the Cell diputar selama empat kali pada 13–22 Februari 2026, atau selama festival film tersebut berlangsung.
“Kami ingin bikin film yang benar-benar menghibur. Tapi ketika film selesai, akan
ada pemikiran yang nempel di kepala mereka tentang situasi hidup di Indonesia,” kata penulis dan sutradara Joko Anwar. Sambutan penonton ketika film diputar di Berlinale merefleksikan ini. Penonton tertawa lepas dan berteriak-teriak tepuk tangan sepanjang film. Di sesi tanya jawab, penonton mengklaim Ghost in the Cell sebagai “masterpiece”, “luar biasa lucu”, “menakutkan”, dan “sarat tonjokan
politik dan sosial”.

Di film ini, Joko mengeksplorasi elemen horor supernatural—yang dalam dekade terakhir ia selalu memberikan penyegaran genre tersebut—terasa menjadi sesuatu yang tak terelakkan, alih-alih sekadar sebagai tontonan yang hanya menghibur. Joko menyebutkan, di film Ghost in the Cell ia ingin lebih berfokus pada karakter secara mendalam, tak hanya sekadar mengandalkan bangunan set yang ada di filmnya. “ini adalah film kami yang paling menghibur saat ini tapi juga reflektif,” tambah
Joko.
Produser Tia Hasibuan mengungkapkan perasaan leganya setelah Ghost in the
Cell mendapat sambutan yang meriah dan antusias dari audiens internasional. “Cerita di film ini sangat merefleksikan apa yang terjadi dengan dinamika yang ada di Indonesia. Namun, saat melihat respons penonton dari luar Indonesia di Berlinale, ternyata horor komedi satir ini juga bisa relate dengan mereka. Semoga sambutan positif ini berlanjut saat filmnya tayang di Indonesia pada 16 April 2026.”

Ghost in the Cell akan menjadi persembahan karya sinematik terbaru dari maestro Joko Anwar, yang pada akhir tahun lalu ia dianugerahi gelar tanda kehormatan sekaligus penghargaan tertinggi kebudayaan oleh Pemerintah Prancis, Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres. Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengakuan pencapaian artistik Joko dalam dua dekade perjalanannya di perfilman Indonesia. Karya terakhir yang disutradarainya, Pengepungan di Bukit Duri, juga memenangkan Piala Citra FFI 2025 terbanyak, (5 Piala Citra), dan meraih 3 penghargaan di Festival Film Pilihan Tempo.
Tonton, rasakan, dan renungkan karya terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell mulai 16 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

Sabtu, 14 Februari 2026

Viu & MAXStream TV Hadirkan Tiba Tiba Brondong, Rom-Com Tentang Cinta Tanpa Batas Usia

INDONESIA, 15 Februari 2026-Viu Indonesia bersama MAXStream TV resmi mengumumkan kolaborasi original series ketiga mereka, Tiba Tiba Brondong, sebuah drama komedi romantis yang berani menentang norma sosial dan merayakan cinta tanpa batas. Serial ini tayang eksklusif mulai 13 Februari 2026, menjelang Ramadan.

Di tengah meningkatnya diskusi mengenai hubungan beda usia, otonomi perempuan, dan ekspektasi sosial di berbagai platform digital, publik kini semakin terbuka untuk mempertanyakan norma lama tentang cinta dan pasangan. Konten bertema hubungan beda usia bahkan telah mengumpulkan lebih dari 737 juta penayangan di Tik Tok, menjadikannya bagian dari perbincangan budaya populer di kalangan Gen Z dan millennial.

Dibintangi oleh Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, dan Cinta Brian, serial ini terdiri dari sembilan episode yang menghadirkan kisah romantis dengan balutan humor dan ketegangan emosional.

Tiba Tiba Brondong mengisahkan tentang Isabella "Bella" Rahardja (Tatjana Saphira), perempuan cerdas dan sukses berusia 36 yang status lajangnya kerap menjadi sorotan. Untuk menghindari tekanan sosial, Bella mencoba peruntungan melalui aplikasi kencan daring hingga ia menyadari bahwa pria yang selama ini membuatnya nyaman, Langit (Fady Alaydrus), ternyata lulusan SMA berusia 18.

Terkejut dengan kenyataan tersebut, Bella memutuskan untuk mengakhiri komunikasi. Namun situasi menjadi semakin rumit ketika Langit ternyata adalah mahasiswa baru di kampus tempat Bella mengajar.

Pertemuan canggung tersebut perlahan berkembang menjadi chemistry yang tak terelakkan, menempatkan keduanya di tengah sorotan, penilaian sosial, dan konflik emosional. Hubungan mereka diuji oleh dekan kampus yang manipulatif, ibu Langit yang gemar menjodohkan, serta kemunculan kembali mantan "sempurna" Bella, Gian (Cinta Brian).

Pengalaman Pribadi Tatjana

Tatjana mengakui ada pengalaman yang ia ungkap dalam drama ini, "Waktu Aku pertama kali terima script ini, Aku lagi jomblo sama seperti Bella. Lagi malas untuk membuka hati dan bertemu orang baru. Jadi aku merasa sepertinya banyak nih pengalaman pribadi yang bisa aku tuangkan dalam karakter Bella," ujarnya dalam press conference dan gala premiere Tiba-Tiba Brondong, Jumat (13/2/2026).

Di kesempatan yang sama, Fadi Alaydrus mengakui tantangan besar yang dihadapi dalam karakter ini. "Ketika aku membaca pertama kali sinopsis Tiba-Tiba Brondong, aku merasa tertarik banget dengan karakter Langit. Sebagai brondong, ia punya beberapa layer yang perlu digali. Mengapa ia bisa suka dengan wanita yang lebih tua, mengapa ia bisa menjadi sosok yang terkesan dewasa dan layer lainnya. Dari karakter ini, energi Langit yang ceria dan semangat pantang menyerah bisa menjadi nilai-nilai yang dapat diambil oleh penonton," ujarnya.

la menambahkan sebagai tontonan selama Ramadan, Tiba-Tiba Brondong adalah drama yang menyegarkan dan sangat menghibur untuk keluarga.

Cinta Brian juga senada dengan Fadi. "Tiba-Tiba Brondong punya cerita yang cute banget dan ini sering dialamin sama orang-orang sekitar sih. Bagaimana seseorang yang jatuh cinta bingung saat memulai atau membalas chat dan lainnya. Hal-hal seperti ini bisa dirasakan oleh pasangan beda usia maupun sama," ujarnya yang disambut riuh cast lainnya.

Memadukan romansa, komedi, dan kedalaman emosi, serial ini menghadirkan tawa, kekacauan, serta momen-momen menyentuh yang merefleksikan dinamika cinta modern-terutama bagi perempuan yang harus berhadapan dengan ekspektasi, penilaian, dan cita-cita pribadi

Drama ini dapat disaksikan secara eksklusif di Viu dan MAXStream TV. Untuk pengalaman menonton terbaik, penonton dapat berlangganan paket bundling MAXStream TV dan Viu melalui aplikasi MyTelkomsel, dan menikmati tayangan tanpa hambatan di berbagai perangkat.

Aplikasi Viu dan MAXStream TV tersedia untuk diunduh secara gratis melalui App Store, Google Play, dan berbagai Smart TV pilihan, atau dengan mengunjungi www.viu.com dan www.maxstream.tv.

Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film ...