Jumat, 30 Januari 2026

Film Sadali Siap Tayang di Bioskop 5 Februari 2025 Ketika Cinta Tak Pernah Benar-Benar Selesai


Jakarta, 30 Januari 2026-Film drama romantis terbaru "Sadali" siap menyapa penonton Indonesia. Menjelang penayangan nasionalnya, film ini menggelar Pemutaran Perdana di Cinema XXI Epicentrum sebagai penanda peluncuran resmi, sebelum tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.

Sadali melanjutkan kisah yang telah menyentuh banyak penonton melalui film sebelumnya, Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu. Film ini kembali membawa penonton menyelami konflik perasaan yang belum usai dalam hubungan cinta segitiga antara Sadali, Meira, dan Arnaza. Sadali masih mengejar dan menyimpan harapan untuk kembali bersama Meira, sementara Arnaza pun belum mampu melepaskan cintanya kepada Sadali. Di tengah tarik-ulur perasaan tersebut, ketiganya dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah mereka akan menemukan cinta masing-masing, atau justru terjebak dalam kisah yang tak pernah selesai?

Film ini dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris lintas generasi, antara lain Adinia Wirasti, Ajil Ditto, Hanggini, Ciara Nadine, Faiz Fishal, dan Deasy Natalia. Masing-masing menghadirkan performa yang emosional dan autentik, memperkuat dinamika karakter serta konflik batin yang menjadi jantung cerita film ini.

Disutradarai oleh Kuntz Agus, Sadali dikemas dengan pendekatan penceritaan yang intim dan sinematografi yang puitis. Film ini menyoroti sisi rapuh seorang pria ketika kehilangan sosok perempuan yang dicintainya, sekaligus menggambarkan bagaimana cinta dapat menjadi sumber harapan sekaligus luka. Kekuatan cerita juga diperkuat oleh gaya khas penulis Pidie Baiq, yang kembali menghadirkan dialog-dialog penuh rasa dan "gombalan" sederhana namun membekas di hati penonton.

Sadali adalah film tentang perasaan yang sering kita pendam-tentang cinta yang tidak selesai, pilihan yang tertunda, dan keberanian untuk menerima kenyataan," ujar Kuntz Agus, sutradara Sadali. "Saya ingin menghadirkan cerita yang terasa dekat dengan penonton, personal, dan jujur secara emosi."

Sementara itu, Raam Punjabi selaku produser menyampaikan bahwa Sadali hadir sebagai kelanjutan yang matang dari kisah sebelumnya. "Melalui Sadali, kami ingin melanjutkan cerita yang sudah memiliki tempat di hati penonton dengan pendekatan yang lebih emosional dan relevan. Film ini kami harapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan makna cinta, kehilangan, dan keikhlasan," ungkapnya.

Pemutaran perdana film Sadali ini menjadi momen spesial bagi para pemain, kru, sineas, serta rekan media untuk menyaksikan film ini untuk pertama kalinya di layar lebar. Acara ini juga menjadi selebrasi atas proses kreatif panjang dan kolaborasi di balik layar yang melahirkan kisah penuh emosi ini.

"Akhirnya film Sadali tayang juga. Aku sudah lama menunggu film ini. Walaupun aku tahu garis besar ceritanya, aku tetap penasaran dengan hasil akhirnya-terutama bagaimana editing dan ending-nya," ujar Ajil Ditto, pemeran utama dalam film ini.

Melalui Sadali, para pembuat film berharap dapat menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman emosional yang membekas dan membuka ruang refleksi bagi penonton tentang cinta, pilihan, dan keberanian untuk merelakan.

Film "Sadali" dapat disaksikan mulai 5 Februari 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

Kamis, 29 Januari 2026

Film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) Jadi Obat Pusing Nasional! Suguhkan Cerita yang Relevan Sekaligus Menyegarkan

Film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) tayang mulai 5 Februari 2026 di bioskop


Jakarta, 29 Januari 2026 Amanda Manopo dan Fajar Sadboy kembali mencuri perhatian dalam peran mereka sebagai kakak-adik Tina dan Umski di film drama komedi persembahan Seovi Films & Rapi Films, Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER). Film yang mengangkat cerita tentang dinamika orang-orang yang terjerat pinjol dan mereka yang berada di balik gurita pinjol ilegal ini memberikan kesegaran komedi, dengan cerita yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat.

Awalnya, hidup Tina tampak baik-baik saja. Dia adalah pemenang kontes kecantikan di sebuah mall. Tapi, karena Tina boros dan gila belanja, ia pun sampai melakukan pinjaman online (pinjol).

Karena utangnya yang menumpuk, ditambah ia harus membiayai adiknya, Umksi, Tina akhirnya kalap! la pun menjadi buronan' para penagih utang. Karena tak sanggup bayar, Tina akhirnya membuat kesepakatan untuk bisa bekerja di kantor pinjol yang ia utangi.

Di tengah perjalanan, Tina justru bertemu dengan Mail (Devano), seorang DJ yang adiknya juga terlilit pinjol. Bersama Mail, Tina justru mengarungi perjalanan yang tak terduga. Mereka mengungkap bisnis pinjol ilegal yang telah memakan banyak korban.

Cerita di film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) dibangun dengan lensa yang dekat dengan penonton. Sutradara Surya Ardy Octaviand menampilkan realitas masyarakat kelas bawah secara real dengan permasalahan yang dihadapi. Film ini semakin menghibur dengan penampilan para karakternya yang tak terduga, dan seperti cerminan yang juga mengajak kita untuk menertawakan nasib.

"Karakter-karakter yang ada di film CAPER ini menjadi perwakilan dari masyarakat kelas bawah urban. Kami ingin film CAPER menjadi Obat Pusing Nasional," ungkap produser, penulis, dan sutradara film CAPER Surya Ardy Octaviand.

Film CAPER diproduseri oleh Surya Ardy Octaviand bersama Sunar S Samtani. Selain memproduseri dan menyutradarai, Ardy juga turut menulis naskahnya bersama penulis naskah pemenang Piala Citra FFI 2025 Widya Arifianti.

Selain Amanda Manopo, Fajar Sadboy, dan Devano, film ini juga dibintangi oleh Wavi Zihan, Kaneishia Yusuf, Shanice Margaretha, Merry Sanger, Martin Carter, Sastra Silalahi, Jovial Da Lopez, Richard Derrick, dan Arnold Kobogau.

Produser Sunar S Samtani mengungkapkan film CAPER ingin menghadirkan. hiburan dengan nilai yang bisa menjadi pelajaran bagi penonton dan masyarakat Indonesia.

"Mungkin banyak dari kita yang pernah berada di titik nol, sama seperti karakter-karakter yang ada di film CAPER. Film ini ingin mengajak kita semua memiliki resiliensi terhadap masalah yang sedang dihadapi dalam hidup, lewat komedi," ujar produser Sunar S Samtani.

Bagi Amanda Manopo, karakter Tina bisa menjadi ruang untuk berefleksi terutama untuk para perempuan dalam memilih jalan hidup saat ini, terlebih di era serba flexing di media sosial. Menurut Amanda, Tina jadi contoh yang sangat relevan jika kita tak mampu mengontrol hasrat kesenangan duniawi.

"Jangan jadi Tina yang kalap dan boros. Kalau kita enggak pandai-pandai mengatur finansial kita, bisa-bisa jadi seperti Tina yang cari jalan instan dengan pakai pinjol demi kesenangan sesaat. Film CAPER itu bisa mengingatkan kita pada hal yang penting banget untuk dilakukan saat ini, dan ngasih tahunya dengan cara yang fun lewat komedi yang bikin kita ngakak saat nonton," kata Amanda Manopo.

Fajar Sadboy, yang mendapat kesempatan memiliki peran besar untuk pertama. kalinya di layar lebar mengungkapkan dirinya merasa beruntung bisa belajar akting dari sesama rekan pemain, termasuk dari mereka yang telah memulai lebih dulu di dunia seni peran.

"Dari film ini, aku bisa belajar lebih banyak lagi tentang akting. Senang bisa ketemu sama teman-teman pemain lainnya, jadi aku bisa nambah ilmu. Belum lagi film ini juga ngajarin kita buat bisa lebih bijak mengatur keuangan," kata Fajar Sadboy.

Penampilan berbeda sekaligus tantangan dihadapi oleh Devano. Ia yang sebelumnya memerankan karakter yang serius, kini harus berubah 180 derajat. Devano. menjelma menjadi seorang jamet tulen, dengan musik DJ funkot-nya.

Tak hanya memerankan sebagai seorang DJ bernama DJ Smile atau Mail, Devano juga ditugaskan untuk mengisi OST film yang terdengar syahdu dan mengajak kita. untuk bergoyang.

"Pak Ardy memberikanku karakter yang berbeda dari pengalaman aktingku sebelum-sebelumnya. Sebagai yang baru memulai akting, aku merasa penting sekali untuk bisa mencapai berbagai peran dan karakter. Dan karakter DJ Smile di film ini membantu aku untuk semakin mematangkan aktingku ke depan," ungkap Devano.

Jadilah saksi dari aksi kocak yang bikin rahang capek tertawa bersama Amanda Manopo dan Fajar Sadboy, serta penampilan paling berbeda dari Devano di film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER). Tonton mulai 5 Februari 2026 di bioskop Indonesia. Ikuti perkembangan terbaru film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) melalui akun media sosial resmi.

Selasa, 27 Januari 2026

PAMERAN"MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar" Siap Dikunjungi di Galeri Lokananta, Surakarta Mulai 27 Januari 2026

Surakarta, Januari 2026 Masih dalam rangkaian perayaan tiga dekade perjalanan kreatifnya, Miles Films mempersembahkan pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar", sebuah ekshibisi yang mengajak publik menyelami hubungan erat antara musik dan film dalam karya-karya Miles Films. Pameran yang digarap oleh Miles Films berkolaborasi dengan this/PLAY dan Lokananta ini akan berlangsung mulai 27 Januari hingga September 2026 di Ruang Pamer Temporer Galeri Lokananta, Surakarta.

Musik dan film menjadi benang merah yang menautkan perjalanan Miles Films sejak berdiri pada 1995. Melalui pameran ini, pengunjung diajak menelusuri jejak bunyi, nada, dan gambar yang membentuk identitas estetika Miles Films, dari era analog hingga digital, dari layar lebar hingga ingatan kolektif penonton Indonesia.

Tiga Dekade Sinema dan Musik

Sejak Petualangan Sherina (2000) hingga Rangga & Cinta (2025), rumah produksi Miles Films pimpinan Mira Lesmana dan Riri Riza dikenal konsisten menghadirkan film dengan kekuatan artistik sekaligus kualitas produksi yang tinggi.

Creative Director Miles Films, Riri Riza, menyampaikan, "Musik dalam film memegang peran penting sebagai elemen yang menyatu dengan dialog dan desain suara, membangun emosi dan ritme serta mendukung adegan. Nada-nada dalam film-film Miles bukan sekadar pelengkap, melainkan unsur penting yang membentuk pengalaman emosional penonton dan menandai zamannya."

Deretan penata musik seperti Elfa Secioria, Thoersi Argeswara, Djaduk Ferianto, Melly Goeslaw & Anto Hoed, Indra Lesmana, Andy Ayunir, Aksan Sjuman, Basri S. Sila, Erwin Gutawa, Juang Manyala, Lie Indra Perkasa, hingga Aria Prayogi dan Sherina Munaf menjadi bagian dari perjalanan kreatif Miles Films. Begitu pula para musisi dan band yang melahirkan lagu-lagu ikonis untuk film, di antaranya Eross Candra, Garasi, Mocca, Float, Nidji, Gigi, Bubugiri, Anggun C. Sasmi, Endah N Rhesa, RAN, dan Iwa K yang melekat kuat dalam budaya populer Indonesia.

Eksplorasi Miles Films terhadap musik juga tercermin dalam genre film musikal. Petualangan Sherina membuka kembali ruang musikal anak di layar lebar, disusul Untuk Rena (2005), hingga Rangga & Cinta yang menghadirkan musikal percintaan remaja dalam bahasa generasi baru. Melalui aktor-aktor yang bernyanyi dan menari, film musikal menunjukkan bagaimana musik dan lagu, dengan dukungan gerak tubuh dan ekspresi, berperan besar dalam penceritaan.

Isi Pameran

Melalui pengalaman mendengar dan melihat secara lebih dekat, pameran ini menampilkan proses kerja kreatif di balik produksi musik dan film, mulai dari beragam arsip rilisan musik, artefak kreatif dari lirik hingga notasi musik yang digunakan Miles Films dan instalasi tentang musik dan film serta hubungan erat di antara keduanya. Pengunjung juga diajak "masuk" ke instalasi studio rekaman untuk merasakan magisnya gema suara dan musik yang berpadu dalam gambar.

this/PLAY Studio, studio desain multidisiplin yang dikenal lewat pendekatan eksperimental dan interaktif dalam merancang ruang dan instalasi, merancang pameran ini sebagai ekshibisi yang terus berkembang. Seiring perjalanannya, materi pameran akan diperkaya dengan penambahan konten dan pendekatan presentasi baru, membuka kemungkinan pembacaan yang semakin luas. Dengan demikian, setiap kunjungan, baik di awal maupun di tahap selanjutnya, menawarkan pengalaman yang utuh sekaligus berlapis, memperlihatkan dinamika riset, arsip, dan narasi yang terus hidup.

Sigit D. Pratama, Founder & Lead Spatial Designer .this/PLAY, menambahkan, "Pameran ini secara personal memberikan gambaran bagaimana musik menjadi bagian dari perjalanan visual dalam tubuh film yang utuh. Pameran ini hadir dengan pendekatan tematik dan ruang eksperimental dalam linimasa 30 tahun Miles Films, menjadi perayaan atas relasi dua arah bagaimana Musik/Suara dan Film melalui metode gambar bergerak menjadi satu, utuh dan melengkapi untuk bercerita. Ruang yang menjadi ringkasan perjalanan selama 30 tahun terus hadir mendekatkan gambar dan suara dengan berbagai medium kepada kita para penikmat melalui karya-karyanya."

Lokananta dan Sejarah Musik Indonesia

Pemilihan Lokananta di Surakarta sebagai lokasi pameran memiliki makna tersendiri. Sebagai destinasi cagar budaya musik Indonesia, Lokananta menjadi ruang yang relevan untuk membaca perjalanan musik film dalam konteks yang lebih luas. Pameran ini sekaligus menempatkan karya Miles Films dalam lintasan sejarah sinema dan musik Indonesia, dari era awal film nasional hingga generasi kontemporer.

Wendi Putranto, CEO Lokananta, mengundang semua kalangan, baik penikmat film, pecinta musik, termasuk generasi muda di seluruh nusantara untuk datang berkunjung, "Sungguh kehormatan dan kebanggaan besar bagi Lokananta, dalam perayaan menuju 70 tahun, dapat berkolaborasi dengan Miles Films melalui pameran ini. Selama tiga dekade, Miles Films telah menjadi zeitgeist perfilman Indonesia, melahirkan terobosan-terobosan yang menghidupkan kembali sinema nasional, membuka ruang bagi narasi-narasi baru, serta menegaskan kuatnya relasi antara film, musik, dan gagasan budaya. Kami mengundang publik untuk mendengar kembali, memahami ulang, dan merayakan jejak kreatif Miles Films sebagai bagian tak terpisahkan dari petualangan budaya populer Indonesia."

Produser Mira Lesmana turut menyampaikan harapannya, "Pencarian musik untuk film adalah sebuah proses panjang, yang dilakukan sejak awal menggagas film dengan berkolaborasi bersama musisi. Bersama-sama kami melalui proses belajar dan melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan bentuk musik yang dapat memperkuat film sekaligus bermakna sebagai karya musik itu sendiri. Semoga lewat jejak bunyi, nada dan gambar yang kami tampilkan dalam pameran ini, publik yang berkunjung bisa merasakan semangat kami dalam berkarya, bagaimana perjalanan kreatif ini proses yang menantang sekaligus menyenangkan!"

Pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar" akan diresmikan pada tanggal 26 Januari di Galeri Lokananta, Surakarta, dan terbuka untuk pengunjung umum mulai tanggal 27 Januari hingga September 2026.

Ceria, Ngakak, Baper dan Bikin Misuh-Misuh! Balas Budi Jadi Tontonan Wajib Bagi Kamu yang Pernah Dikecewakan Cinta

Misi Balas Budi Siap Dijalankan Mulai 5 Februari 2026

Selasa, 27 Januari 2026 Bersiaplah untuk tertawa sekaligus misuh-misuh serta bisa bikin baper. Rumah produksi Im-a-gin-e. Anami, dan Ten Cuts segera merilis film terbaru mereka karya sutradara Reka Wijaya, Balas Budi, sebuah drama komedi romantis yang ringan namun menggigit. Film ini mengangkat fenomena love scamming (penipuan cinta) yang akan tayang serentak mulai 5 Februari 2026 di seluruh bioskop di Indonesia. Film ini dibintangi oleh Yoshi Sudarso, Michelle Ziudith, Gisella Anastasia, Niken Anjani, Givina hingga aktor senior Asri Welas dan Ferry Salim.

Balas Budi membawa penonton mengikuti perjalanan Alma, seorang wanita yang terjebak tipu daya Budi, pria dengan seribu identitas, mulai dari koki palsu hingga pengusaha gadungan. Alih-alih terpuruk dalam kesedihan, Alma memilih jalan yang lebih seru yakni mengumpulkan sesama korban, Ayu, Uli, dan Thalita, untuk membentuk sebuah tim "detektif amatir" demi membongkar kedok sang penipu.

Komedi romantis yang relate dengan kehidupan perempuan, film ini sengaja dikemas dengan mood yang ringan dan cocok dijadikan tontonan pelepas penat. Penonton tidak akan disuguhi drama yang berat, melainkan aksi-aksi kocak dan dialog spontan khas persahabatan perempuan saat menyusun strategi "balas dendam" yang cerdik. Dinamika antara Alma, Ayu, Uli dan Thalita menunjukkan bahwa di balik setiap musibah, selalu ada ruang untuk tawa jika dihadapi bersama sahabat.

"Film ini sebenarnya punya nilai kuat untuk perempuan di Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa saat perempuan bersatu, tidak ada yang tidak mungkin bahkan menangkap penipu ulung sekalipun. 'Balas Budi bukan tentang kesedihan, tapi tentang bagaimana kita menertawakan masa lalu atau kebodohan yang pernah kita lakukan dan bangkit dengan cara yang seru. Premis film ini tentu memberikan sesuatu yang fresh di bulan Februari ini" ujar produser Im-a-gin-e, Chetan Samtani.

Selain menawarkan hiburan, Balas Budi juga menyelipkan pesan reflektif tentang maraknya penipuan berbasis relasi emosional yang kerap menyasar perempuan. Film ini tidak menggurui atau menghakimi para korbannya, melainkan menempatkan mereka sebagai subjek yang cerdas, dan mampu mengambil kembali kendali atas hidup mereka. Dengan pendekatan yang hangat dan penuh empati, kisah Alma, Ayu, Uli, dan Thalita menjadi representasi bahwa pengalaman pahit bisa diubah menjadi kekuatan ketika dihadapi bersama.

"Kami ingin menghadirkan tontonan yang menjadi 'feel good movie bagi penonton. Isu penipuan memang menyebalkan, tapi lewat pendekatan komedi dan fokus pada persahabatan perempuan, kami ingin memberikan energi positif. Ini adalah film tentang perempuan yang dibalut dengan kumpulan tawa yang bikin penonton games, baper, bahkan sampai misuh-misuh." jelas sutradara Balas Budi, Reka Wijaya.

Didukung oleh jajaran pemain dengan chemistry yang kuat, Balas Budi berhasil menangkap keintiman persahabatan perempuan yang khas, mulai dari obrolan receh, saling menguatkan, hingga keberanian untuk tertawa atas keputusan bodoh dalam hidup.

Kehadiran karakter-karakter yang dekat dengan keseharian penonton membuat film ini terasa relevan, sekaligus menjadi pengingat bahwa solidaritas dan humor seringkali menjadi senjata paling ampuh untuk melewati masa sulit dan patah hati.

"Syuting 'Balas Budi' terasa seperti nongkrong bareng sahabat sendiri. Energi 'girl power-nya sangat terasa. Saya rasa penonton perempuan akan banyak melihat diri mereka atau sahabat mereka di dalam karakter-karakter film ini. Lucu, gemas, tapi tetap punya pesan yang kuat papar Gisella Anastasia yang memerankan karakter Thalita.

Dengan pendekatan visual yang penuh warna seperti kisah hidup para korban Budi, bersiaplah untuk tertawa, ikut misuh-misuh, sekaligus terbawa perasaan. Balas Budi menjanjikan pengalaman menonton yang menyegarkan bagi siapa pun yang pernah dikecewakan oleh cinta, namun beruntung memiliki sahabat yang selalu hadir memberi dukungan.

Pastikan Anda menjadi bagian dari Misi Balas Budi yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026

Senin, 26 Januari 2026

Film Para Perasuk Wregas Bhanuteja Dapat Sambutan Standing Ovation Usai World Premiere di Sundance 2026

Seluruh penonton memberikan standing ovation usia penayangan perdana film Para Perasuk di Sundance 2026

Utah, 25 Januari 2026 Film terbaru Wregas Bhanuteja persembahan Rekata Studio, Para Perasuk (Levitating) baru saja menggelar penayangan perdana (world premiere) di Sundance International Film Festival 2026. Dalam penayangan perdana pada 24 Januari 2026 waktu Amerika Serikat, Para Perasuk mendapat sambutan meriah hingga standing ovation dari para penonton!

Sambutan ini menjadi awal baik perjalanan film Para Perasuk yang juga akan segera tayang di bioskop Indonesia. Para Perasuk dibintangi Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, serta superstar internasional Anggun.

Di Sundance 2026, Para Perasuk juga berkompetisi di program World Cinema Dramatic Competition. Menandai pertama kalinya film Indonesia terseleksi di program tersebut sejak 13 tahun terakhir.

"Kami memulai langkah pertama film Para Perasuk di Sundance Film Festival dengan penuh semangat. Harapannya semoga film Para Perasuk bisa bertemu dengan lebih banyak penonton dari berbagai negara setelah ini," ujar produser Iman Usman.

Di film Para Perasuk, Wregas mengeksplorasi kisah pencarian obsesif dari anak muda bernama Bayu untuk menjadi perantara roh, di saat kekuatan dari luar tengah mengancam desanya. Di film ini, Wregas juga dengan piawai mengeksplorasi fenomena kerasukan menjadi sebuah pengalaman komunal masyarakat, alih-alih sekadar sebagai sesuatu yang eksotis.

"Kerasukan dan adanya ritual sambetan di film ini ditampilkan sebagai pengalaman komunal sehari-hari, momen-momen di mana orang-orang keluar dari rutinitas mereka, melepaskan tekanan, dan terhubung kembali dengan sesama," ujar Wregas Bhanuteja.

"Saya merasa sangat berterima kasih karya terbaru kami diterima dengan baik oleh audiens internasional, termasuk di Sundance, dan semoga nanti juga mendapat sambutan yang baik dari penonton Indonesia," tambah Wregas.

Selain mendapat sambutan yang hangat dengan standing ovation dari para penonton, film Para Perasuk juga mendapat ulasan kritis yang positif. Media internasional Screen Daily menulis Anggun sebagai sosok yang memukau, dan film ini memberikan pencerahan.

"Kisah quasi-coming-of-age yang energetik dari (Wregas) Bhanuteja ini memberikan pencerahan sekaligus kecerdasan secara artistik," tulis ulasan Screen Daily.

Tak hanya media, penonton umum juga menyambut film ini secara positif di Sundance.

"Luar biasa keren. Harus ditonton dengan pengalaman menonton di bioskop," kata akun Letterboxd bradf13.

"Benar-benar jenius! Menonton film ini secara spontan tanpa ekspektasi tinggi, dan ternyata saya sangat terpukau oleh ceritanya yang imajinatif sekaligus kuat. Film ini jauh lebih ramah penonton daripada yang saya duga. Jajaran pemerannya luar biasa dan sangat mendalami peran, sementara fokus sutradara Wregas Bhanuteja pada ritme dan keajaiban benar-benar memikat hati dan imajinasi saya," kata akun Letterboxd SWeidman112.

Sundance International Film Festival adalah salah satu festival film legendaris di Amerika Serikat yang pertama kali berlangsung pada 1978. Festival film ini merupakan festival film independen terbesar di dunia.

Sundance 2026 berlangsung pada 22 Januari-1 Februari 2026. Film Para Perasuk terpilih dari total 16.201 film submissions (termasuk 2.579 film panjang internasional) dari 164 negara.

Di Sundance, Para Perasuk berkompetisi dengan total 9 film lainnya di program World Cinema Dramatic Competition. Sebelumnya, film pendek karya Wregas Bhanuteja, Tak Ada yang Gila di Kota Ini juga pernah berkompetisi di Sundance 2020 di program International Narrative Short Films.

Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Para Perasuk me¹ Instagram resmi @filmparaperasuk dan @rekatastudio. Tonton film Part 2/2 bioskop Indonesia segera!

FILM HOROR "CERITA LILA" RESMI MEMULAI PRODUKSI Kolaborasi MVP Pictures dan Diary MisteriSara (DMS)


Jakarta, 26 Januari 2026 PT Tripar Multivision Plus Tbk (MVP Pictures) bersama DiaryMisteriSara, platform konten horor yang digagas oleh Sara Wijayanto, secara resmi mengumumkan dimulainya produksi film horor terbaru berjudul "Cerita Lila". Film ini akan memasuki tahap syuting pada akhir Januari 2026, dengan Yogyakarta sebagai lokasi utama pengambilan gambar.

diperkenalkan Film "Cerita Lila" merupakan film pertama DiaryMisteriSara yang diangkat dari kisah Lili & Lila, salah satu sosok dari penelusuran paling ikonik dari DiaryMisteriSara, yang pertama kali melalui kanal YouTube milik Sara Wijayanto (https://www.youtube.com/watch?v=kwsSbMLThFg). Kisah ini telah ditonton lebih dari 10 juta kali dan mendapatkan sambutan luar biasa dari penonton, serta menjadi salah satu cerita yang paling sering dibicarakan dan diminta untuk diangkat ke layar lebar oleh para Saraaddicts, sebutan bagi penggemar setia Diary Misteri Sara.

Antusiasme yang terus terjaga selama bertahun-tahun menjadikan "Cerita Lila" sebagai proyek yang telah lama dinantikan. Sejak awal, Diary MisteriSara memang memposisikan kisah ini sebagai cerita spesial yang tidak akan diproduksi secara terburu-buru.

Setelah melalui proses pengembangan dan pertimbangan yang matang, Sara Wijayanto bersama tim DiaryMisteri Sara secara khusus memilih MVP Pictures sebagai mitra produksi untuk membawa kisah Lili & Lila ke layar lebar. Kolaborasi ini mempertemukan kekuatan cerita horor berbasis pengalaman dan riset khas DiaryMisteriSara dengan rumah produksi berpengalaman yang memiliki rekam jejak panjang dalam menghadirkan film-film horor Box Office Indonesia.

"Cerita Lila adalah proyek yang sudah lama kami simpan dan kami tunggu waktu yang tepat untuk diproduksi. Bagi DiaryMisteriSara, cerita ini memiliki nilai emosional yang sangat kuat, sehingga kami sangat selektif dalam memilih partner. MVP Pictures kami pilih karena memiliki visi, pengalaman, dan sensitivitas yang sejalan dengan cara kami bercerita," ujar Sara Wijayanto, kreator DiaryMisteri Sara.

Sementara itu, Amrit Punjabi, Produser dari MVP Pictures, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan hasil dari proses yang panjang dan penuh pertimbangan.

"Kami memahami bahwa 'Cerita Lila' adalah cerita yang sangat berarti bagi DiaryMisteri Sara dan para penggemarnya. Karena itu, sejak awal kami sepakat bahwa proyek ini tidak bisa dikerjakan secara tergesa-gesa. Ini adalah cerita yang sudah lama ditunggu, sehingga harus diproduksi dengan pendekatan yang tepat dan penuh kehati-hatian," jelasnya.

Tentang Film "Cerita Lila"

Sosok Lili & Lila telah lama menjadi figur yang sangat melekat di benak penikmat DiaryMisteri Sara. Keduanya bukan sekadar karakter dalam sebuah cerita heror, melainkan representasi dari kisah yang menyentuh, membekas, dan meninggalkan kesan emosional mendalam bagi para penonton. Sejak pertama kali diperkenalkan melalui kanal Youtube DiaryMisteriSara, kisah Lili & Lila langsung menarik perhatian publik karena menghadirkan hor or dari sudut pandang yang berbeda-lebih sunyi, personal, dan penuh emosi. Cerita ini berkembang menjadi salah satu kisah paling sering diperbincangkan, direkomendasikan, dan dikenang oleh para Saraddicts.

Lili & Lila dikenal sebagai sosok yang menghadirkan ketegangan bukan melalui kejutan. sermata, melainkan melalui rasa kehilangan, keterikatan, dan misteri yang perlahan terungkap. Kedekatan emosional antara kecua sosok ini menjadi daya tarik utama yang membedakan kisah mereka dari cerita horor pada umumnya.

Popularitas Lili & Lila yang terus bertahan selama bertahun-tahun menjadikan cerita ini sebagai salah satu IP paling kuat dalam semesta DiaryMisteriSara. Banyak penonton yang secara konsisten menantikan kelanjutan kisah mereka, serta berharap capat melihat cerita ini dihadirkan dalam medium yang lebih luas dan sinematik. Keputusan untuk mengangkat kisah Lili & Lila ke layar lebar merupakan jawaban atas penantian panjang tersebut, sekaligus menjadi langkah penting dalam memperluas dunia cerita Diary Misteri Sara ke ranah film layar lebar.

Deretan Pemeran

Film "Cerita Lila" dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris ternama Indonesia, antara lain: Lutesha, Shareefa Daanish, Myesha Lin, Firzanah Alya, Sara Wijayanto, Wisnu Hardana, Whani Darmawan, Jovial da Lopez, Aci Resti, Eduwart Manalu, Enrico Winaldy, Kiara Virly, dan Annisa Hertami.

Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa Merilis Official Trailer Saat Kekuasaan Menindas, Saatnya Santet Dimulai, Luna Maya Bangkit dengan Kekuatan Gelap!

Tayang Lebaran 2026, jadi satu-satunya film Luna Maya tahun ini

Jakarta, 26 Januari 2026 Akhirnya waktu yang dinanti tiba juga! Official trailer film horor terbaru persembahan Soraya Intercine Films, SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa rilis. Dalam waralaba terbaru SUZZANNA, Luna Maya kembali dan bangkit dengan kekuatan gelap.

Official trailer film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa memperlihatkan sebuah perjalanan baru dari Luna Maya yang menjadi Suzzanna. Kali ini, ia tak lagi menjadi sundel bolong, melainkan menjadi sosok yang memiliki kekuatan gelap dan bersiap untuk balas dendam.

Dendam yang dimiliki Suzzanna lantaran ayahnya disantet oleh Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam dan haus kekuasaan. Kematian ayahnya mendorong Suzzanna mempelajari ilmu santet untuk membalas dendam pada Bisman. Tapi, Suzzanna juga jatuh cinta pada Pramuja (Reza Rahadian), laki-laki yang taat agama. Apa yang akan dilakukan Suzzanna di tengah pilihan tersebut, apakah ia akan meneruskan dendamnya, atau mempertaruhkan semuanya demi cintanya?


Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, dari produser Sunil Soraya dan naskah yang ditulis oleh Ferry Lesmana, Jujur Prananto, dan Sunil Soraya, film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa menjadi sebuah babak baru dalam IP SUZZANNA yang akan menjadi sejarah baru dalam sinema Indonesia.

Menampilkan genre horor-aksi, film ini akan menjadi sajian yang memberikan hiburan sekaligus momen reflektif tentang nilai-nilai kemanusiaan saat tayang di bioskop pada momen Lebaran tahun ini.

"Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa menampilkan sebuah cerita tentang penindasan dari orang yang berkuasa, bagaimana manusia yang berdosa dan tidak berdosa di tengah kekuasaan yang ada. Itu sangat relevan dengan situasi sekarang. dan penonton akan tetap terhibur dengan cinematic experience yang kami naikan levelnya dari film-film SUZZANNA sebelumnya," ujar produser Sunil Soraya.

Di film ini, Soraya Intercine Films juga menerapkan teknologi baru yang diterapkan ke Luna Maya. Tak hanya mengandalkan make up prostetik, tetapi dalam menghadirkan visual yang menghidupkan kembali sosok Suzzanna, dilakukan riset dari arsip-arsip materi film film Suzzanna yang asli dan membuat CG base mesh wajah Suzzanna asli dan mengaplikasikannya ke hasil prostetik di pasca-produksi secara frame by frame. Pendekatan ini dipilih agar bisa menerjemahkan seluruh ekspresi dan emosi Luna Maya dalam 'wajah baru' Suzzana.

Selain Luna Maya, Reza Rahadian, dan Clift Sangra, film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa juga dibintangi oleh Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, Nunung, Andi/Rif, Budi Bima, Aziz Gagap, Ence Bagus, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.

Bagi Luna Maya, memerankan Suzzanna selalu menjadi tantangan baru. Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa sekaligus menjadi satu-satunya film yang dibintangi Luna Maya tahun ini.

Ini adalah ketiga kalinya Luna memerankan sosok Suzzanna. Di film ini, ia tak lagi menjadi sosok hantu, tetapi menjadi manusia yang melewati perjalanan spiritual untuk memiliki ilmu hitam.

"Di film ini, saya seperti bangkit kembali dari sebuah kekuatan gelap. Suzzanna di film ini mengalami penindasan dan kekejaman dari seorang penguasa desa. Dengan dendamnya, ia mempelajari ilmu santet. Tentu ini sangat berbeda dari peran saya sebagai Suzzanna di dua film sebelumnya, dan ini akan menjadi sejarah baru," kata Luna Maya.

"Ini adalah universe yang baru lagi dari IP SUZZANNA dan sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya. Cerita dan karakterisasinya menarik, komposisi ceritanya membuat saya menarik untuk terlibat memerankan karakter Pramuja, laki-laki yang taat agama dan bersinggungan dengan Suzzanna, yang mempelajari ilmu santet, itu adalah dua sisi yang sangat menarik untuk diikuti," ujar Reza Rahadian.

Sebelumnya, universe Suzzanna dari Soraya Intercine Films telah meraih kesuksesan. Di antaranya, film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) meraih sukses blockbuster dengan raihan 3 juta lebih penonton. Selanjutnya, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023) juga meraih sukses blockbuster dengan raihan 2 juta lebih penonton.

Tonton film SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa pada Lebaran 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti informasi terbaru tentang film SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa melalui akun Instagram resmi @sorayaintercinefilms dan @filmsuzzanna.official.

Kamis, 22 Januari 2026

Film KAFIR, Gerbang Sukma Tayang 29 Januari 2026 Membawa Teror Balas Dendam & Dosa Kelam Masa Lalu

Menyajikan sekuel horor yang lebih gore sekaligus drama yang mencekam

Jakarta, 22 Januari 2026 Berselang delapan tahun dari film pertamanya, Starvision mempersembahkan horor terbarunya pada awal tahun 2026, KAFIR, Gerbang Sukma yang kembali disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis. Di film keduanya ini, KAFIR menyajikan horor dengan teror dari balas dendam yang belum tuntas serta mengungkap dosa kelam masa lalu.

Delapan tahun sejak kematian tragis Herman (Teddy Syach) karena santet, Sri (Putri Ayudya) menata kembali hidupnya bersama anaknya Dina (Nadya Arina), dan Andi (Rangga Azof) yang sudah menikahi Rani (Asha Assuncao).

Sri dikabari bapak jika ibunya sakit keras. Mereka datang menjenguk, dan itu menjadi awal malapetaka. Karena ada dosa masa lalu yang disembunyikan Sri, dan kini mengancam keluarganya!

Kemunculan Indah Permatasari di film KAFIR, Gerbang Sukma sekaligus mengejutkan setelah berakhir tragis di film pertamanya, KAFIR, Bersekutu dengan Setan (2018). Kekuatan dari ilmu hitam kembali mengintai keluarga Sri. Namun, dengan kehadiran orang baru di keluarga Sri, yakni istri dari Andi, ancaman itu semakin nyata.

Meski Sri telah membentengi rumah dan keluarganya dengan sebuah perlindungan yang tak bisa ditembus oleh kekuatan gelap, tetapi Sri jatuh dalam perangkap iblis. Teror kini berada di rumah orangtuanya, nenek dari Andi dan Dina.

Di film keduanya, Kinoi menyajikan horor yang lebih eksploratif. Dengan menghadirkan elemen gore yang membuat adrenalin meningkat, serta ritual yang membuat penonton merinding! Sementara itu, dari sisi drama Kinoi juga mempertebalnya dengan pendekatan yang lebih empatik.

"Film KAFIR, Gerbang Sukma membuka perjalanan Starvision di bioskop untuk tahun 2026. Sama seperti tahun lalu, kami juga membuka perjalanan kami di layar lebar dengan film horor yang sukses dari sutradara Kinoi dan naskah yang ditulis Upi. Kami berharap film KAFIR, Gerbang Sukma bisa memberikan sebuah tontonan yang menghibur dengan horor yang mencekam, namun juga memiliki pesan mendalam tentang kemanusiaan, bagaimana hati yang kotor, dendam, dan kedengkian bisa menghancurkan sebuah keluarga bahkan secara turun-temurun," ujar produser Chand Parwez Servia.


Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, naskah film KAFIR, Gerbang Sukma ditulis oleh Upi dan Dea April, dengan produser Chand Parwez Servia. Jajaran pemeran di film KAFIR, Bersekutu dengan Setan (2018) juga kembali reuni di film keduanya, dengan tambahan jajaran pemeran baru yang memberikan warna dan dinamika cerita yang lebih kompleks.

Film KAFIR, Gerbang Sukma dibintangi oleh Putri Ayudya, Rangga Azof, Nadya Arina, Indah Permatasari, Asha Assuncao, Arswendi Bening Swara, Muthia Datau, Sujiwo Tejo, Nova Eliza, Teddy Syach, Fuad Idris, Totos Rasiti, dan lain-lain.

"Di film KAFIR, Gerbang Sukma saya mencoba menaikkan level horornya, ketika di film pertamanya saat itu juga bisa dibilang membuat sejarah dan fresh untuk genre horor Indonesia. Di film keduanya, saya mengajak penonton untuk masuk ke dalam cerita keluarga Sri, saat ada yang masih ingin membalas dendam dengan cara yang tidak biasa, membuka gerbang sukma!," ujar sutradara Azhar Kinoi Lubis.

Di film ini, Upi kembali dipercaya oleh Chand Parwez Servia dan Starvision untuk menulis naskahnya. Upi juga kembali menggandeng nama baru di perfilman sebagai ko-penulis, Dea April, yang pertama kali menulis untuk film layar lebar.

"Saya dan Dea April mencoba menggali apa yang ada di dalam karakter Sri yang menurut saya itu 'bedebah'. Semua konflik dan teror horor yang terjadi di film ini gara-gara dosa Sri di masa lalu. Dan di film ini, Sri belum tuntas menebus janjinya dengan iblis, yang pada akhirnya mencelakakan keluarganya. Kami juga mencoba menguatkan karakter lain lewat Kakek-Nenek yang bakal bikin merinding sepanjang filmnya," kata Upi.

Pada film pertamanya, KAFIR mendapat banyak pujian termasuk secara kritis. Dengan di antaranya meraih 4 nominasi Piala Citra FFI 2018 untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik (Putri Ayudya), Penata Musik Terbaik (Aghi Narottama dan tim), Pengarah Artistik Terbaik, dan Penata Efek Visual Terbaik. Di film keduanya, Starvision juga kembali menghadirkan kualitas horor Indonesia yang semakin naik lewat twist gore dan ritual yang tersaji di tengah drama kelam keluarga Sri, tetap menghadirkan lokasi eksotik dengan scoring yang meningkatkan intensitas teror dari Aghi Narottama dan tim.

Kini, setelah berselang delapan tahun dari film pertamanya, Putri Ayudya mencoba untuk menggali kembali karakter Sri yang mencoba menebus dosa masa lalunya.

"Karakter Sri masih sama, bikin masalah. Di sini kita bisa melihat Sri mencoba bertanggung jawab atas konsekuensi yang dia lakukan di masa lalu. Sri sekarang lebih merasa ingin menjaga anak-anak dan keluarganya. Secara range akting dan emosinya lebih lebar, bagaimana dia menempatkan diri dalam keadaan tenang dan panik. Ada banyak ruang untuk berefleksi dari perjalanan karakter Sri di film ini," kata Putri Ayudya.

Sementara itu, Indah Permatasari menuturkan di film ini bisa jadi penonton bakal kaget melihat kehadirannya. Tak hanya menambah konflik dan mengungkap misteri yang terjadi di keluarga Sri, tetapi juga secara penampilan.

"Di film ini aku tampil berbeda dan aku sangat menyukainya, meskipun cukup repot dalam persiapannya. Karakter Hanum yang aku perankan ini sangat manusiawi sekali, dia dan Ibunya yang sakit hati karena keluarga Sri, ingin balas dendam. Ada masalah yang belum tuntas, dan dia ingin keluarga Sri mendapat balasan yang setimpal," ujar Indah Permatasari.

Bagi Asha Assuncao, yang memerankan karakter Rani dan menjadi sosok baru di semesta KAFIR, ia mengungkap ada banyak kejutan yang menyenangkan sekaligus menantang.

"Rani adalah karakter yang lemah lembut dan bertolak belakang dari aku. Ini pengalaman pertamaku bermain di genre horor, ditambah karakterku ini adalah orang baru di keluarga Ibu Sri, dan tidak tahu masa lalu kelam apa yang pernah terjadi. Penonton bakal sangat bersimpati dengan Rani di film ini, apalagi menjelang babak akhir," kata Asha Assuncao.

Tonton film KAFIR, Gerbang Sukma mulai 29 Januari 2026 di bioskop Indonesia, yang akan membuka mata kalian untuk melihat sisi kelam manusia dan bagaimana akibat sebuah dosa yang dilakukan akan ditebus! Ikuti perkembangan terbaru film KAFIR, Gerbang Sukma melalui media sosial Instagram @kafirfilmgerbangsukma, @Starvisionplus dan Tiktok @Starvision Movie.

Rabu, 21 Januari 2026

FILM KEMBAR DODIT MULYANTO & ANGGA YUNANDA, TAYANG HARI INI, SEBELUM DIJEMPUT NENEK SIAP JADI TONTONAN HOROR-KOMEDI PALING RIANG AWAL TAHUN



Jakarta, 22 Januari 2026, Film horor-komedi Sebelum Dijemput Nenek resmi tayang hari ini di seluruh bioskop Indonesia. Diproduksi oleh Rapi Films dan disutradarai oleh Fajar Martha Santosa, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang ringan, menghibur, dan penuh tawa, tanpa meninggalkan unsur horor berbasis mitos lokal.

Sejak penayangan perdananya, penonton mulai merespons dinamika unik Angga Yunanda dan Dodit Mulyanto sebagai saudara kembar Hestu dan Akbar. Di layar lebar, keduanya terlihat semakin "kembar", baik secara visual maupun chemistry, memperkuat komedi situasi yang lahir dari perbedaan karakter: Hestu yang dingin dan serius berhadapan dengan Akbar yang santai, polos, dan apa adanya.

Bagi Angga Yunanda, Sebelum Dijemput Nenek menjadi salah satu film paling berbeda sepanjang kariernya. Film ini memperlihatkan sisi Angga yang lebih cair, komedik, dan lepas dari persona serius yang selama ini melekat. "Film ini benar-benar pengalaman baru buat aku. Aku harus berani terlihat lucu, ceroboh, dan nggak jaim. Jujur, ini film yang bikin aku makin tertarik mengeksplorasi komedi," ujar Angga.

Sementara itu, Dodit Mulyanto menanggapi pergeseran peran tersebut dengan candaan khasnya. "Sekarang Angga udah ganteng, lucu lagi. Kayaknya karier aku sebagai komika mulai terancam," ujar Dodit sambil tertawa.

Selain duet utama, film ini juga diperkuat oleh jajaran karakter pendukung yang mencuri perhatian. Oki Rengga yang dikenal dengan logat bataknya yang khas mencuri perhatian ketika harus berakting menggunakan bahasa Jawa. Menanggapi hal itu. Oki menjelaskan, "Orang suka heran kenapa aku nggak latihan bahasa Jawa. Ya karena aku orang Jawa. Aku ini orang Jawa yang tinggal di Medan, jadi bahasanya sudah terbentuk dari keseharian. Itu yang aku bawa ke karakter ini," ujar Oki Rengga.

Sementara itu aktor sekaligus komika pendukung film ini yang berperan sebagai Ki Mangun, Nopek Novian, mengungkapkan bahwa pendalaman karakternya dilakukan dengan riset langsung ke lapangan. Sambil bercanda, Nopek mengungkapkan, "aku mendatangi sejumlah dukun di kampung halamanku untuk memahami gestur, cara bicara, hingga aura karakter yang diperankannya. ujar Nopek sambil tertawa. Nopek melanjutkan, "Nggak lah, karakter dukun ini aku ambil dari referensi tontonan berbagai film yang ada dukunnya", tutup Nopek

Kehadiran cameo juga menjadi kejutan tersendiri bagi penonton. Salah satunya adalah Eri Pras, yang dikenal publik lewat momen viral salah lirik, serta Tante Ernie, influencer yang digandrungi kaum pria. Kehadiran mereka menandai peralihan dari fenomena digital ke layar lebar, sekaligus menambah warna, kesegaran, dan lapisan komedi dalam cerita.

Disutradarai oleh Fajar Martha Santosa, Sebelum Dijemput Nenek sejak awal dirancang sebagai tontonan yang tidak membebani penonton. "Ini film yang nggak menuntut penonton untuk berpikir rumit. Duduk, ikut tertawa, menikmati ceritanya, lalu pulang dengan perasaan ringan. Horor dan komedinya berjalan berdampingan, saling menguatkan," ujar Fajar.

Sebagai produser, Sunil Samtani menegaskan bahwa film ini sejak awal ditujukan sebagai hiburan yang bisa dinikmati bersama. Karena itu, pada hari pertama penayangan, sejumlah pemain seperti, Dodit Mulyanto, Nopek Novian, dan Wavi Zihan yang akan menyapa langsung penonton melalui rangkaian cinema visit.

"Kami ingin Sebelum Dijemput Nenek tidak hanya dinikmati di layar, tetapi juga dirayakan bersama penonton. Di hari pertama penayangan, kami menyapa langsung penonton lewat cinema visit di Yogyakarta dan Madiun, lalu dilanjutkan ke Malang dan Surabaya pada 23 Januari. Ini menjadi cara kami berbagi energi, tawa, dan pengalaman menonton yang hangat bersama penonton di berbagai kota," ujar Sunil Samtani.

Dengan kombinasi horor, komedi karakter, serta penampilan para pemain yang segar dan berbeda dari biasanya, Sebelum Dijemput Nenek siap menjadi pilihan tontonan yang pas untuk mengawali tahun 2026.

Saksikan Sebelum Dijemput Nenek, mulai hari ini, 22 Januari 2026, di seluruh bioskop Indonesia. Pantau sosial media Rapi Films untuk mengetahui kunjungan para pemain film Sebelum Dijemput Nenek lainnya di kota-kotamu.

Film Horor Romance "TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO)" Produksi Heart Pictures Segera Menjumpai PenontonBioskop Mulai 29 Januari 2026

Dibintangi bintang muda berbakat Saskia Chadwick dan Cinta Brian serta menampilkan debut kreator digital asal Korea Selatan, Bung Korea, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) akan menyajikan horor yang menegangkan dan emosional

Jakarta, 21 Januari 2026 - Setelah merilis poster dan trailer resminya, film layar lebar perdana dari rumah produksi Heart Pictures, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) siap menjumpai penontonnya di bioskop mulai 29 Januari 2026. Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik & Sjahfasyat Bianca, film ini menawarkan pengalaman horor yang berbeda dengan menggabungkan mitos urban Indonesia dan Korea Selatan, dibalut drama romantis cinta segitiga yang intens dan emosional.

TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) dibintangi oleh Saskia Chadwick, Cinta Brian, Aruma Khadijah, Dito Darmawan, William Roberts, serta aktor Korea Selatan, Kim Geba dan Kim Seoyoung. Kisahnya mengikuti TANIA (Saskia Chadwick), seorang mahasiswi Indonesia di Korea Selatan yang kehidupannya berubah ketika ia terjerat dalam dunia arwah penasaran bernama MIN YONG (Kim Seoyoung). Dalam upayanya mengungkap kebenaran kelam di balik tragedi Min Yong, Tania dibantu oleh DR. PARK MIN JAE (Kim Geba), seorang dokter yang jatuh cinta padanya. Namun, kehadiran DION (Cinta Brian), pria misterius dengan masa lalu kelam, membuat situasi semakin rumit, sementara Tania terus mengalami gangguan misterius yang membuatnya sering berhalusinasi dan berujung pada teror yang tak berkesudahan.

TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) tidak hanya mengandalkan ketegangan horor, tetapi juga membangun misteri yang intens sejak awal hingga akhir film. Elemen horor khas Korea yang mencekam berpadu dengan kepercayaan mitos tentang dunia gaib, menciptakan atmosfer yang dingin, misterius, dan penuh ancaman. Di saat yang sama, drama romantis cinta segitiga di dalamnya memberi lapisan emosi yang kuat, mengajak penonton untuk ikut larut dalam perjalanan batin para karakternya. Melalui kisah Tania, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) bercerita tentang perjuangan mencari kebenaran, keadilan, dan makna keberanian.

Diproduksi dengan proses syuting di Korea Selatan, film ini menampilkan visual yang memukau melalui berbagai lokasi ikonik negeri tersebut, memperlihatkan sisi indah sekaligus nuansa misterius. Penampilan aktor-aktor Korea Selatan dengan pemeranan yang kuat turut menghadirkan rasa autentik, memperkaya pengalaman sinematik yang ditawarkan film ini.

"Bekerja bersama talenta-talenta muda berbakat ini adalah sebuah pengalaman yang membanggakan. Tidak hanya bakat yang luar biasa, tapi mereka juga memiliki komitmen yang besar, disiplin, dan pekerja keras. Hasilnya terlihat di layar, betapa mereka telah memberikan yang terbaik. Semoga penonton terhibur dan semoga film ini memberikan warna baru bagi film horor Indonesia," ujar Herty Purba, Produser Eksekutif Heart Pictures.

Bagi Saskia Chadwick, perannya sebagai Tania menjadi pengalaman penting dalam perjalanan kariernya. "Berperan sebagai Tania dalam film ini adalah pengalaman penting dalam perjalanan karirku dalam dunia pemeranan. Selama persiapan, reading, dan syuting, banyak sekali hal baru yang aku pelajari, dan semua itu terjadi berkat dukungan kru serta teman-teman aktor yang luar biasa. Semoga penonton menerima film ini dengan baik," tuturnya.

Sementara itu, Kim Geba mengungkapkan rasa syukurnya dapat terlibat dalam proyek ini. "Aku bersyukur sekali pengalaman pertamaku berperan di layar lebar adalah untuk film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO). Tidak pernah aku berhenti berterima kasih atas kesempatan yang sangat berharga ini, malahan sepertinya aku ketagihan dengan dunia peran," ujarnya.

Dengan kisah yang dekat dengan emosi penonton, ketegangan yang intens, serta visual dan atmosfer yang kuat, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) siap mengajak publik merasakan pengalaman horor romance yang berbeda. Tonton di bioskop mulai 29 Januari 2026.

Ikuti perkembangan terbaru film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO), produksi Heart Pictures, melalui akun Instagram resmi @heartpictures.id.

Selasa, 20 Januari 2026

Film 'Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?"Menghadirkan Kekuatan Doa Perempuan, Pelukan Hangat bagi Single Mother dan Anak dari Keluarga Broken Home

Tayang mulai 29 Jumari 2026 di bizsakop Indonesia

Jakarta, 20 Januari 2026 Setelah mendapat sambutan hangat dan penuh haru melalui rangkaian nobar dan early screening di berbagai kota di Indonesia, film drama religi persembahan Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment, Tuhan, Benarkah Kas Mendengarka?, siap tayang serentak di bioskop mulai 29 Januari 2026.

Disutradarai oleh Jay Sukmo dan ditulis oleh Utiuts, film ini menghadirkan kisah yang emosional dan membumi, memotret spiritualitas perempuan di tengah badai ujian hidup, sekaligus menjadi pelukan hangat bagi para single mother dan anak-anak yang tumbuh dalam dinamika keluarga broken home.

Film ini dibintangi oleh Revalina S. Temat, Gunawan Sudrajat, Megan Domani, Annisa Kaila, Roy Sungkono, Risma Nilawati, Dhawiya Zaida, Daniella Sya, Alex Abbad, Sheila Kusnadi, Venly Arauna, serta Ustadzah Shofwatunnida. #filmTBKM diproduseri oleh Robert Ronny dan Prima Taufik, dengan Andi Boediman sebagai produser eksekutif.

Melalui sudut pandang perempuan, #FilmTBKM mengeksplorasi kerapuhan sekaligus ketangguhan seorang ibu tunggal. Karakter Sarah (Revalina S. Temat) digambarkan sebagai perempuan yang harus belajar memaafkan, bertahan, dan berserah melalui doa, di saat hidup tidak memberi pilihan yang mudah.

Bagi Revalina S. Temat, memerankan Sarah adalah perjalanan emosional yang sangat personal. Sarah digambarkan sebagai istri dan ibu yang perfeksionis, mandiri, dan terlihat kuat, namun dunianya runtuh ketika sang suami, Satrio (Gunawan Sudrajat), menikah lagi. Keputusan untuk bercerai menjadikannya seorang single mother yang harus menghadapi stigma, kehilangan, dan luka batin yang dalam.

"Sarah adalah perempuan yang tampak kuat di luar, namun ketika ia tak lagi menemukan jalan keluar, doa menjadi satu-satunya pegangan. Hanya kepada Allah ia berserah sepenuhnya. Setiap ujian selalu punya jalan keluar, dan lewat ujian itulah kita disadarkan bahwa Allah sedang menyayangi kita," ujar Revalina.

Produser Robert Ronny menegaskan bahwa film ini tidak hanya berbicara tentang konflik rumah tangga, melainkan tentang perjalanan batin seorang perempuan.

"Kami ingin menghadirkan film yang bukan sekadar tentang konflik kehidupan, tetapi tentang doa yang akhirnya menemukan jawabannya, melalui ketenangan hati dan keberanian untuk memaafkan," ujarnya.

Selain sudut pandang ibu, #FilmTBKM juga menyoroti dampak perceraian dari perspektif anak melalui karakter Laila, yang diperankan oleh Annisa Kaila. Laila merepresentasikan banyak anak dari keluarga broken home yang dipaksa tumbuh dewasa lebih cepat, menahan emosi di tengah konflik orang tua.

"Laila sangat menyayangi ayahnya. Perubahan besar dalam keluarganya membuat dia kaget dan terluka, sehingga ia harus belajar mengendalikan. emosinya sendiri," ujar Annisa.

Sementara itu, Megan Domani, yang memerankan Annisa, sosok perempuan yang hadir di antara keretakan rumah tangga Sarah, menggambarkan karakternya sebagai pribadi yang dilematis.

"Annisa adalah karakter yang kompleks. la datang dari masa lalu yang sulit, tapi punya keinginan tulus untuk mencari jalan yang benar, dan kesadaran itu tumbuh ketika ia melihat keteguhan Sarah," ungkap Megan.

Film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? merupakan kolaborasi Indonesia-Malaysia bersama Astro Shaw, dan turut didukung oleh Netzme, KMIF, WOW Multinet Pictures, serta Virtuelines Entertainment.

Tonton film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? mulai 29 Januari 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Ikuti informasi terbaru melalui Instagram resmi @paragonpictures.id.

Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film ...