Selasa, 30 September 2025

TAYANG MULAI 2 OKTOBER 2025, FILM RANGGA & CINTA MENGAJAK MERAYAKAN MASA SMA DI BIOSKOP


Jakarta, 29 September 2025 Setelah melakukan pemutaran perdana dunia dan mendapat sambutan hangat di Busan International Film Festival 2025, Korea Selatan, film Rangga & Cinta akan segera bersua dengan penonton di bioskop tanah air mulai 2 Oktober 2025. Film produksi Miles Films ini disutradarai Riri Riza, diproduseri Mira Lesmana, Nicholas Saputra, dan Toto Prasetyanto.

Film Rangga & Cinta adalah adaptasi dari film ikonik remaja era 2000-an Ada Apa Dengan Cinta?, yang skenarionya ditulis ulang oleh Mira Lesmana bersama Titien Wattimena. Film ini menampilkan Leya Princy yang berperan sebagai Cinta, El Putra Sarira sebagai Rangga, Jasmine Nadya sebagai Alya, Kyandra Sembel sebagai Maura, Katyana Mawira sebagai Milly, Daniella Tumiwa sebagai Karmen, Rafly Altama sebagai Mamet, serta Rafi Sudirman sebagai Borne.

Mengambil latar Jakarta tahun 2001, kisah ini mengikuti kehidupan Cinta (Leya Princy), seorang siswi SMA populer dengan kehidupan yang nyaris sempurna, hingga sosok cowok misterius bernama Rangga (El Putra Sarira) hadir dan mengubah segalanya. Dari rasa kesal berubah menjadi penasaran, Cinta pun mulai bimbang di antara dunia persahabatannya yang penuh warna dan perasaan baru yang tumbuh untuk Rangga. Akibat sebuah kejadian pada sahabatnya, Cinta harus memilih antara sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya atau cinta pertamanya.

Dengan nuansa awal 2000-an yang autentik, mulai dari musik hingga gaya hidup remaja saat itu, Rangga & Cinta menjanjikan pengalaman sinematik yang menyentuh hati dan relevan bagi lintas generasi.



"Bagi saya, Rangga & Cinta lebih dari sekadar kisah remaja. Ini adalah ruang untuk merayakan cinta dalam banyak bentuk, baik itu antara pasangan, keluarga, sahabat, bahkan cinta pada diri sendiri. Saat menggarap film ini, saya ingin setiap penonton merasakan kedalaman emosional karakternya, dan menemukan potongan kisah mereka sendiri di dalamnya," ujar sutradara Riri Riza.



Menyambut hari pertama tayang di bioskop, produser Mira Lesmana menyampaikan semangat kolaborasi dari balik layar produksi Rangga & Cinta. "Perjalanan membuat Rangga & Cinta adalah pengalaman yang begitu panjang dan juga mengharukan. Ratusan kru dan pemain memberikan dedikasi yang luar biasa untuk mewujudkan film ini. Setiap detail, dari cerita, visual, hingga musik, lahir dari kerja sama yang solid. Kami berharap penonton bisa merasakan energi dan ketulusan itu di layar lebar," ujarnya.

Nicholas Saputra juga menambahkan, "Kami sangat bersyukur akhirnya bisa mempersembahkan film Rangga & Cinta kepada penonton Indonesia. Sejak awal, film ini kami buat untuk bisa dirasakan oleh semua generasi. Semoga film ini membangkitkan energi muda kita dan mendapat tempat istimewa di hati masyarakat."



Leya Princy, pemeran Cinta, turut mengungkapkan kegembiraannya film Rangga & Cinta tayang di bioskop. "Saya senang banget akhirnya film kami tayang di bioskop minggu ini! Semoga film ini bisa menghibur dan membuat semua merasa bahagia." Hal yang sama juga disampaikan oleh El Putra Sarira, pemeran Rangga, "Semoga karya kami bisa dinikmati dan kita bisa mengenang masa-masa remaja SMA yang penuh cerita manis."

Nantikan film Rangga & Cinta, The Rebirth of Ada Apa Dengan Cinta? di bioskop tanah air mulai 2 Oktober 2025. Pantau terus kanal-kanal media sosial Miles Films, atau hubungi Tim Publisis film Rangga & Cinta untuk informasi terkini.

Minggu, 28 September 2025

Dua Ibu, Satu Anak: Air Mata di Ujung Sajadah 2 Gelar Gala Premiere, Siap Koyak Hati Penonton Mulai 23 Oktober di Bioskop!


Jakarta, 26 September 2025 Setelah sukses menguras air mata para penonton Indonesia melalui film pertama, kisah pertarungan batin antara dua ibu kembali dalam sekuel yang paling dinanti, Air Mata di Ujung Sajadah 2 (AMDUS 2). Melalui gala premiere dan press conference yang digelar hari ini di Plaza Senayan XXI, Beehave Pictures resmi mempersembahkan film keluarga yang menusuk kalbu.

Gala premiere dan press conference ini dihadiri oleh produser Ronny Irawan, sutradara Key Mangunsong, jajaran pemeran: Titi Kamal, Citra Kirana, Faqih Alaydrus, Daffa Wardhana, Jenny Rachman, Mbok Tun, Leony V.H., dan Mamang Osa.

Produser Ronny Irawan menyampaikan pesan hangatnya kepada seluruh ibu di luar sana. "Film ini kami persembahkan untuk semua ibu yang tak pernah berhenti mencintai anak dengan sepenuh hati." Sutradara Key Mangunsong menambahkan, "AMDUS 2 memperkuat pesan yang telah disampaikan film pertama: cinta ibu abadi, dan kadang penuh pengorbanan yang sulit dibayangkan."

Keke Adiba dan Yogie Nandes yang membawakawn "Bintang-Bintang


Farel Prayoga membawakan "Cinta Untuk Mama"


Fadhilah Intan Membawakan "Dawai" dan "Pura-Pura Bahagia"


Andmesh memawakan "Bukan Lagi Rumahmu"

Suasana semakin emosional dengan penampilan para pengisi soundtrack. Farel Prayoga membawakan "Cinta Untuk Mama" dengan penuh penghayatan, sebuah lagu yang terinspirasi dari kisah pribadinya. Tak ketinggalan, Keke Adiba dan Yogie Nandes yang membawakawn "Bintang-Bintang," Andmesh dengan "Bukan Lagi Rumahmu" serta Fadhilah Intan yang kembali dengan suara khasnya dalam "Dawai" dan "Pura-Pura Bahagia", siap membuat setiap adegan terasa lebih mengiris.

Bukan sekadar melanjutkan kisah, AMDUS 2 hadir dengan konflik yang lebih dalam dan pertanyaan yang lebih menikam: Jika kau harus memilih, di pihak siapa kau akan berdiri? Film ini menyeret penonton ke dalam pusaran dilema antara Aqilla (Titi Kamal), sang ibu kandung yang berjuang merebut kembali hatinya yang hilang, dan Yumna (Citra Kirana), ibu yang membesarkan dengan cinta tulus namun dihantui ketakutan kehilangan.

Titi Kamal kembali sebagai Aqilla, representasi ibu yang hancur namun tak pernah menyerah. "Aqilla adalah cerminan para ibu yang terpaksa mengorbankan kebahagiaannya. Membaca naskahnya saja sudah membuat saya menangis, karena perjuangannya begitu nyata dan menyakitkan," ujar Titi.

Di seberangnya, Citra Kirana menampilkan sisi lain dari cinta seorang ibu lewat Yumna. "Yumna adalah bukti bahwa cinta tak mengenal batas darah. Dia tegar, ikhlas, tapi di dalam hatinya ada ketakutan terbesar seorang ibu. Saya yakin banyak ibu bisa merasakan apa yang Yumna rasakan," ungkap Citra.


Siapkan Hati Anda

Dibintangi oleh Titi Kamal, Citra Kirana, Faqih Alaydrus, Daffa Wardhana, Jenny Rachman, dan lainnya, Air Mata di Ujung Sajadah 2 bukan sekadar sekuel. Ini adalah sebuah refleksi tentang pengorbanan, keikhlasan, dan cinta tanpa batas yang bernama keluarga.

Penonton yang tidak sabar menyaksikan kelanjutan kisah Aqilla, Baskara, dan Yumna berkesempatan untuk menonton film Air Mata di Ujung Sajadah 2 duluan pada special screening yang diadakan di Malkartini XXI Lampung pada 28 September, tiket sudah dapat dibeli hari ini melalui MTIX dan TIX ID. Terdapat juga special screening yang akan diadakan di Ramayana Cirebon XXI pada tanggal 4 Oktober, tiket dapat dibeli mulai 28 September.

Siapakah yang akan dipilih Baskara? Dan cinta ibu mana yang akhirnya akan menemukan rumahnya? Temukan jawabannya di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 Oktober 2025. Ikuti informasi terbaru di @beehavepictures dan @airmatadiujungsajadahfilm.

Sabtu, 27 September 2025

Lebih dari Sekadar Kisah Sandwich Generation: Vidio Original Series Jalinan Terlarang Tampilkan Drama Cinta yang Sarat Pengkhianatan!

Jakarta, 25 September 2025 Vidio kembali menghadirkan original series terbaru bertajuk Jalinan Terlarang yang dibintangi oleh Marshanda, Dimas Anggara, Maria Theodore, Kiesha Alvaro, dan masih banyak lainnya. Disutradarai oleh duo John de Rantau dan Angling Sagaran serta diproduksi oleh Screenplay Films, series dengan total 10 episode ini akan tayang mulai Kamis, 2 Oktober 2025 dengan episode terbaru setiap hari Kamis.

Series ini mengangkat dinamika rumah tangga yang kerap ditemui di masyarakat Indonesia, dari fenomena sandwich generation, sulitnya memiliki anak, campur tangan keluarga yang memperumit hubungan suami-istri, hingga kehadiran pihak ketiga.

Satu Kebaikan yang Berujung Luka

Syafa (Marshanda) dan Rangga (Dimas Anggara) telah sepuluh tahun menikah, namun belum juga dikaruniai anak. Syafa dikenal sebagai sosok penyayang yang selalu siap membantu orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarganya sendiri.

Hingga suatu hari cobaan datang dari keluarga terdekat. Fahri (Kiesha Alvaro), adik Syafa yang masih muda dan belum siap bertanggung jawab, membuat pacarnya Gina (Maria Theodore), hamil di luar nikah. Keluarga dilanda kepanikan, bahkan terbesit untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara yang salah: menggugurkan kandungan. Mendengar rencana tersebut, hati Syafa tidak tega. Baginya, anak yang ada dalam kandungan Gina adalah sebuah anugerah yang tidak pantas dibuang begitu saja.

Dengan ketulusan hatinya, Syafa mengambil keputusan besar, ia mengajak Gina tinggal di rumahnya bersama Rangga. Syafa berharap dapat mendampingi Gina melalui masa sulit itu, sekaligus berniat membesarkan bayi yang akan lahir nanti sebagai anaknya sendiri. Bukan hanya karena ingin menolong, tetapi juga karena kerinduan mendalamnya untuk menjadi seorang ibu setelah bertahun-tahun menanti.

Namun niat baik Syafa justru membawa ujian baru bagi rumah tangganya. Kehadiran Gina yang tinggal bersama mereka perlahan menimbulkan konflik dan pengkhianatan. Tanpa disadari, perhatian Rangga pada Gina berkembang ke arah yang tak seharusnya, sebuah jalinan terlarang yang mengancam keutuhan pernikahan mereka.

Pada akhirnya, satu kebaikan yang dimaksudkan untuk menyelamatkan justru berubah menjadi sumber luka terdalam.


Potret Nyata Sandwich Generation Lewat Sosok Syafa

Sumber: Vidio

Syafa adalah seorang wanita yang sudah menikah, namun masih harus menanggung kebutuhan keluarganya. Fenomena ini dikenal sebagai sandwich generation. Beban Syafa datang bukan hanya dari dirinya sendiri, tetapi juga dari keluarga besarnya. Ibunya kerap meminta uang tanpa mempertimbangkan kondisi Syafa yang sudah berkeluarga, sementara kakak dan adiknya pun sering bergantung padanya. Sebagai sosok yang terlalu baik dan tak enakan, Syafa selalu mengiyakan permintaan mereka, meski hatinya lelah.



Marshanda menilai bahwa sisi ini membuat karakter Syafa terasa sangat relevan dengan budaya di Indonesia. "Sebenarnya karakter Syafa tuh bisa dibilang sangat cocok untuk orang-orang di negara Indonesia. Kita banyak melakukan hal-hal untuk menyenangkan orang lain seperti ambil keputusan supaya mama papa senang, supaya keluarga nggak kecewa, atau biar nggak diomongin sama orang sekitar. Jadi bisa dibilang Syafa adalah seorang people pleaser. Itu relate banget dengan budaya timur yang nggak enakan dan nggak mau dianggap jelek sama orang lain." jelas Marshanda.

Di saat yang sama, Syafa juga harus menghadapi pergulatan batin dalam rumah tangganya. la dan Rangga sudah sepuluh tahun menikah, namun belum juga dikaruniai anak meski berbagai cara telah ditempuh. Kondisi ini membuat Syafa kerap mendapat tekanan dari keluarga suami, terutama dari ibu Rangga yang menganggap Syafa tidak mampu memberikan keturunan dan tidak sepenuhnya percaya padanya sebagai menantu. Tekanan demi tekanan inilah yang perlahan membuat Syafa merasa semakin terpojok dalam rumah tangganya.

Tumpukan tekanan dari keluarga dan kehidupan pribadi inilah yang membuat Syafa menjadi gambaran nyata perempuan sandwich generation, terjepit di antara kewajiban, harapan, dan beban yang tak kunjung henti.

Ketika Suami Tak Bisa Menjadi Pemimpin Keluarga


Sumber: Vidio

Di sisi lain, karakter Rangga juga punya persoalan yang tak kalah pelik. Sebagai anak tunggal, ia tumbuh dengan segala sesuatu yang selalu diatur dan dipenuhi oleh ibunya. Bahkan setelah menikah, ia masih sangat bergantung pada ibunya dan sulit mengambil keputusan sendiri. Gaji yang ia peroleh pun sepenuhnya dipegang oleh sang ibu, karena ibunya tidak percaya pada kemampuan Rangga maupun Syafa dalam mengatur keuangan. Akibatnya, mereka berdua hanya diberi uang bulanan oleh ibunya untuk kebutuhan sehari-hari.



Menurut Dimas Anggara, hal ini membuat Rangga tampak lemah dalam memimpin rumah tangganya, "Rangga merupakan anak tunggal yang dari kecil semuanya diatur ibunya, mulai dari pekerjaan, kebutuhan keluarga, semua dikontrol. Dia anak yang baik dan penurut, tapi akhirnya jadi plin plan karena terbiasa mengikuti apa yang diberikan oleh keluarganya," ungkap Dimas.

Situasi ini semakin memperkeruh rumah tangga Rangga dan Syafa, apalagi dengan kehadiran orang ketiga yang membuat hubungan mereka kian rapuh. Dimas menambahkan bahwa Rangga adalah sosok yang cenderung menutup diri. "Dia nggak bisa mengungkapkan perasaannya, mungkin karena memang nggak pernah ditanya 'kenapa. Rangga terlalu polos dan terlalu lempeng dalam menghadapi situasi. Tapi saat bertemu Gina, dia justru merasa lebih nyaman dan bisa lebih leluasa." jelasnya.

Gina: Sosok Anak yang Tak Pernah Mendapatkan Kasih Sayang Ayah

Sumber: Vidio

Kehidupan rumah tangga Syafa dan Rangga yang tadinya baik-baik saja, berubah drastis dengan kehadiran Gina. Keputusan Syafa untuk merawat Gina agar anak yang dikandung bisa menjadi miliknya, justru mengantarkan mereka ke dalam malapetaka.



Maria Theodore yang memerankan Gina menuturkan bahwa luka batin masa kecil menjadi latar belakang tindakannya. "Gina punya background keluarga yang broken home. Dia tidak memiliki sosok ibu. Secara mental juga tidak pernah dipenuhi oleh ayahnya. Dari kecil dia selalu melihat ayahnya ganti pacar dan itu yang membuat dia mencari sosok ayah di laki-laki lain, lalu dia menemukan itu di dalam diri Mas Rangga" ungkap Maria.

Kekosongan emosional inilah yang membuat Gina mudah terseret pada keputusan-keputusan keliru. Dari kehamilan di luar nikah hingga menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain, semua berakar pada kebutuhan psikologisnya akan kasih sayang dan figur orang tua yang tak pernah ia dapatkan.

Maria Theodore menegaskan bahwa karakter Gina tidak bisa dilihat hitam-putih. "Gina itu sebenarnya nggak punya niat jahat. Karakternya banyak layer, nggak sepenuhnya baik tapi juga nggak jahat. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat dia jadi seperti ini. Tantangannya memerankan karakter ini ada pada bagaimana membuat naik turun emosi supaya tetap pas dan terasa nyata," jelas Maria.


Jalinan Terlarang Akan Segera Tayang di Vidio!

Sumber: Vidio

Melalui kisah Syafa, Rangga, dan Gina, Vidio Original Series Jalinan Terlarang tidak hanya menghadirkan drama rumah tangga penuh intrik, tetapi juga menggambarkan isu-isu nyata yang dekat dengan kehidupan banyak orang, dari menjadi tulang punggung keluarga, luka batin akibat kurangnya kasih sayang orang tua, hingga rapuhnya hubungan ketika kepercayaan diuji.

Vidio Original Series Jalinan Terlarang akan tayang mulai Kamis, 2 Oktober 2025 dengan episode terbaru setiap hari Kamis. Episode 1 dan 2 dapat kamu saksikan secara gratis hanya di Vidio! Dengan akting mendalam dari Marshanda, Dimas Anggara, Maria Theodore, Kiesha Alvaro, dan jajaran cast lainnya, series ini diharapkan mampu menyentuh penonton sekaligus membuka ruang refleksi tentang arti keluarga, pengorbanan, dan pilihan hidup.


SAKSIKAN VIDIO ORIGINAL SERIES JALINAN TERLARANG EKSKLUSIF DI VIDIO!

Jumat, 26 September 2025

Film Tukar Takdir Sajikan Keseruan Investigasi Petaka Pesawat! Perjalanan Nicholas Saputra, Marsha Timothy & Adhisty Zara Berdamai dengan Takdir!

Film Tukar Takdir membawa genre baru ke perfilman Indonesia melalui drama 
petaka pesawat.  Tayang 2 Oktober 2025 di bioskop Indonesia.



Jakarta, 25 September 2025—Nicholas Saputra tertatih untuk bangkit setelah menjadi satu-satunya penumpang yang selamat dalam petaka pesawat Jakarta Airways 79 dengan korban meninggal 132 orang di film drama petaka pesawat Tukar Takdir. Film Tukar Takdir akan tayang mulai 2 Oktober 2025 di bioskop, menjadi persembahan terbaru dari kolaborasi Starvision dan Cinesurya yang bekerja sama dengan Legacy Pictures.

Film Tukar Takdir membawa genre baru ke perfilman Indonesia melalui drama petaka pesawat. Diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Valiant Budi, film ini ditulis dan disutradarai oleh Mouly Surya, dengan produser Chand Parwez Servia dan Rama Adi.

Tukar Takdir akan menjadi perjalanan ketiga bintang utama, Nicholas Saputra, Marsha Timothy, dan Adhisty Zara berdamai dengan takdir. Ketiganya terhubung oleh sebuah takdir: petaka pesawat. Nicholas Saputra, yang memerankan Rawa, seorang programmer IT di bidang perpajakan. Karena pekerjaannya, Rawa kerap menggunakan pesawat untuk bepergian, dan pilihan utamanya adalah pesawat jenis LCC (Low Cost Carrier).

Sementara itu, Marsha Timothy memerankan Dita, notaris berjiwa kuat yang sudah menikah selama 15 tahun dengan sahabat masa sekolahnya, Raldi (Teddy Syach). Hatinya remuk ketika mengetahui suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat Jakarta Airways 79.

Pertemuan keduanya terjadi di tengah investigasi petaka pesawat Jakarta Airways 79. Dita, marah dengan Rawa. Mengapa Rawa yang hidup, bukan suaminya. Amarah Dita semakin memuncak saat tahu bahwa Rawa dan Raldi, suami Dita, bertukar kursi, dan akhirnya bertukar takdir.

Pada bagian lain, Rawa juga dipertemukan dengan Zahra (Adisthy Zara), anak dari pilot Jakarta Airways 79. Rawa, Dita, dan Zahra terhubung melalui sebuah petaka di udara, dan ketiganya menjalani kehidupan untuk berdamai dengan takdir yang menimpa mereka. Dalam perjalanannya, Zahra jatuh pada simpati dan empati Rawa. Sementara Rawa berupaya untuk menghibur hati Dita yang kosong, sembari menemaninya dalam upayanya meminta pertanggung jawaban maskapai.


Penulis dan sutradara Mouly Surya berhasil menghadirkan sebuah ketegangan antar karakter dalam situasi kekacauan yang terjadi pasca-tragedi. Ada melankolia, namun juga amarah. Ada petaka, juga drama. Semuanya tampil secara sempurna, baik secara pengadeganan, sinematografi, penyuntingan, efek visual, hingga scoring musik, terjalin menjadi keutuhan yang akan membawa penonton pada perjalanan emosi ketiga karakter utama di film ini, didukung pemain-pemain lain yang membuat film ini penuh dinamika, rasa dan kebaruan, seperti Meriam Bellina, Marcella Zalianty, Teddy Syach, Roy Sungkono, Ariyo Wahab, Revaldo, Hannah Al Rashid, Ayez Kassar, Devi Permatasari, Tora Sudiro, Ringgo Agus Rahman, Bagus Ade Saputra, dll.

“Ini adalah genre yang belum pernah dieksplorasi oleh sineas kita, dan akan menjadi sajian yang fresh dan baru bagi perfilman Indonesia. Film ini bukan saja berbicara tentang petaka sebuah moda transportasi aman yang menjadi salah satu favorit masyarakat saat ini, namun juga bagaimana para karakter di dalamnya berdamai dengan takdir,” kata produser Tukar Takdir Chand Parwez Servia.

Untuk mewujudkan visi kreatif ini, tentu saja memiliki banyak tantangan. Namun, dengan riset mendalam serta eksekusi yang presisi dari berbagai lini produksi, membuat Tukar Takdir menjadi sebuah film yang akan membawa penonton ke dalam pengalaman menonton yang berbeda.

“Kami menampilkan visual semeyakinkan mungkin untuk membangun nuansa yangchaotic, dan membawa penonton ikut merasakan petaka di dalam pesawat bersama karakter utama Rawa dan penumpang lain. Di sisi lain, kami juga menampilkan visual yang realistis sekaligus nuansa melankolis di film ini untuk menggerakkan Rawa bisa terhubung dengan karakter-karakter lainnya, yang akan menjadi sebuah perjalanan penyembuhan luka fisik dan batin yang panjang,” tambah produser Rama Adi.

Penulis dan sutradara Mouly Surya mengungkapkan, sebelum menggarap Tukar Takdir dirinya memang punya minat pada karya-karya yang membahas tentang air crash investigation. Di film ini, Mouly pun menggunakan pendekatan yang memadukan investigasi penyebab petaka pesawat dengan drama emosional yang mengupas perjalanan luka para karakternya.

“Melalui film Tukar Takdir, saya mengeksplorasi bentuk yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya tentang bagaimana sebuah petaka pesawat ditampilkan di depan layar. Film ini membutuhkan kematangan teknis untuk memberikan hasil yang maksimal. Di luar proses investigasi dan petaka pesawatnya, Tukar Takdir juga berbicara tentang berdamai dengan luka, duka, kehilangan, dan takdir,” ujar Mouly Surya.

Di film ini, Nicholas Saputra mendesain karakter Rawa untuk memiliki fisik yang lebih berisi. Baginya, Tukar Takdir menjadi film yang spesial baginya karena bermain dengan deretan pemeran yang hebat, sehingga membuat proses syuting terasa menyenangkan meski adegan-adegan di dalamnya menegangkan.

“Film Tukar Takdir bagi saya juga menjadi sebuah cara untuk melihat kembali bagaimana pesawat, yang secara statistik sebagai moda transportasi paling aman juga bisa terus melakukan perbaikan di dalam sistemnya. Sehingga penumpang juga bisa merasa aman. Peristiwa petaka pesawat di film ini juga bisa menjadi pelajaran, termasuk bagaimana para karakternya berdamai dengan duka dan takdir mereka,” kata Nicholas Saputra.


“Memerankan seorang istri yang suaminya meninggal dalam petaka pesawat tentu saja meninggalkan duka mendalam untuk Dita, karakter yang saya perankan. Namun, Dita memilih mengolah duka itu menjadi perjalanan yang mengantarnya bertemu dengan sesama keluarga korban, dan memaknai kembali hidup, serta apa yang bisa ia lakukan setelahnya,” ungkap Marsha Timothy.

Sementara itu, Adhisty Zara yang memerankan Zahra menuturkan di film ini ia memiliki lapisan yang kompleks. “Sebagai anak dari pilot pesawat Jakarta Airways 79 yang mengalami petaka, dan ayahnya meninggal, Zahra memikul beban emosional ibunya yang berlarut dalam kesedihan. Namun, di sini dia memilih untuk menyembunyikan duka dan rindu di balik senyuman. Dia sangat membutuhkan sosok ayah, dan Rawa menjadi sosok yang mengisi kekosongan itu,” kata Adhisty Zara.

Tonton film drama petaka pesawat Tukar Takdir mulai 2 Oktober 2025. Ikuti perkembangan terbaru film Tukar Takdir melalui akun Instagram @tukartakdirfilm, @starvisionplus, @cinesurya, dan Tiktok @StarvisionMovie.

Rabu, 24 September 2025

Trailer dan Poster Film Tumbal Darah Dirilis: Horor-Aksi Brutal di Rumah Bersalin Penjemput Maut, Tayang 23 Oktober!


Jakarta, 24 September 2025 — Bersiaplah menahan napas, karena pintu neraka telah resmi terbuka. MAGMA Entertainment bersama Wahana Kreator dan Sinemaku Pictures hari ini melepas official trailer dan poster film horor-thriller-aksi paling brutal tahun ini, Tumbal Darah. Disutradarai oleh Charles Gozali, film yang siap menguji nyali penonton ini akan meneror bioskop Indonesia mulai 23 Oktober 2025.

Kredibilitas film ini sudah teruji. Setelah sukses meneror penonton di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024 hingga full house dan menuai pujian atas intensitasnya, Tumbal Darah kini siap menghantui penonton di seluruh negeri.


Selamat Datang di Rumah Bersalin Penuh Setan

Trailer berdurasi dua menit ini menyeret penonton ke dalam perjuangan hidup dan mati Jefri (Marthino Lio), seorang penagih utang yang rela melakukan apa saja demi istrinya, Ella (Sallum Ratu Ke). Namun, harapannya akan keselamatan justru membawanya ke sebuah rumah bersalin terkutuk—tempat di mana tangis bayi digantikan jeritan maut, dan darah menjadi satu-satunya tebusan.

“Tumbal Darah adalah tentang neraka personal,” ungkap sutradara Charles Gozali. “Ini bukan sekadar horor-aksi, tapi juga drama tentang seberapa jauh cinta akan membawamu berkorban untuk keluar dari neraka ciptaanmu sendiri.”


Visual Mencekam yang Mengunci Napas

Poster resminya memperlihatkan esensi film dalam satu gambar yang mengganggu. Ella (Sallum) ditarik paksa oleh tangan-tangan iblis dari balik pintu, sementara Jefri (Marthino) di sisi lain hanya bisa menatap dengan horor, tak berdaya. Sebuah gambaran sempurna dari pertarungan
brutal yang menguras emosi dan adrenalin.

Suara dari Medan Perang Batin

Marthino Lio mengaku perannya sebagai Jefri adalah sebuah tantangan ekstrem. “Saya harus menyelami mimpi buruk seorang suami yang terpojok. Charles Gozali selalu mendorong aktornya ke batas kemampuan, dan hasilnya adalah intensitas yang nyata di layar.”

Bagi Sallum Ratu Ke, ini adalah proyek yang monumental. “Terlibat dalam film dengan skala dan cerita sekuat ini adalah pengalaman luar biasa. Ella membawa beban emosional yang berat, dan saya tidak sabar penonton merasakannya.”

Beranikah Anda membayar harga untuk keluar dari neraka? Tumbal Darah, yang juga dibintangi oleh Donny Alamsyah, Agla Artalidia, dan Epy Kusnandar, akan menagih jawabannya di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 Oktober 2025.

Rio Dewanto, Reza Rahadian, dan Niken Anjani Bintangi Film Keadilan (The Verdict) Trailer & Poster Resmi Dirilis, Hadirkan Drama Hukum Penuh Ketegangan Tayang 20 November 2025


Jakarta, 24 September 2025– MD Pictures bersama Innikor Pictures dan Showbox (Korea Selatan) mengumumkan perilisan poster resmi serta trailer final film Keadilan (The Verdict) dalam acara konferensi pers di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Film bergenre courtroom thriller pertama di Indonesia ini siap tayang serentak di bioskop mulai 20 November 2025, 

Keadilan (The Verdict) berkisah tentang Raka (Rio Dewanto), seorang petugas keamanan pengadilan yang selama ini hanya bisa menyaksikan praktik ketidakadilan. Hidupnya berubah ketika istrinya, Nina (Niken Anjani) — seorang jaksa muda yang tengah mengandung — menjadi korban kekerasan dari putra orang berpengaruh. Kasus ini ditangani oleh Timo (Reza Rahadian), pengacara licik yang berusaha membelokkan hukum. Tidak tahan melihat sistem yang bobrok, Raka akhirnya memilih jalan berbahaya: membawa senjata api ke ruang sidang untuk menuntut keadilan dengan caranya sendiri.

Poster terbaru menyoroti ketegangan cerita, dengan visual Rio Dewanto memegang pistol di ruang sidang, sementara sosok Reza Rahadian muncul di latar belakang dengan ekspresi penuh intrik. Atmosfer serius yang ditampilkan menegaskan bahwa film ini sarat dengan drama, moralitas, sekaligus pertarungan kekuasaan dalam sistem hukum.


Trailer berdurasi lebih dari satu menit menampilkan cuplikan debat panas di persidangan, teror psikologis antar karakter, hingga adegan menegangkan ketika Raka menyandera jalannya proses hukum. Perpaduan tata kamera dramatis dan musik pengiring yang intens memperkuat kesan bahwa film ini menghadirkan pengalaman baru bagi penonton layar lebar Indonesia.

Rio Dewanto mengaku tantangan terbesar datang dari intensitas adegan yang sebagian besar terjadi di ruang sidang. “Jujur, sampai sekarang pun masih ada rasa gelisah dan takut karena memerankan karakter Raka itu tidak mudah. Hampir 70 persen adegan berlangsung di ruang persidangan, jadi tantangannya adalah bagaimana menjaga eskalasi emosi tanpa membuat penonton bosan. Itu cukup berat buat saya. Tapi setelah melihat trailernya, saya senang sekali, meski tetap ada rasa deg-degan saat diumumkan karena khawatir penonton tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Niken Anjani menambahkan, “Kesulitannya lebih ke tantangan karakter. Saya berperan sebagai perempuan hamil, sementara ada beberapa adegan yang cukup menegangkan. Kondisi hamil membuat gerakan harus terbatas, tidak bisa terlalu lincah. Padahal aslinya saya cukup aktif. Jadi, justru di situ tantangan terbesarnya bagi saya.”

Sementara itu, Elang Gibran berbagi pengalamannya mengeksplorasi karakter yang berbeda. “Di film ini saya banyak mendapatkan momen stillness atau ketenangan. Justru itu yang saya idamkan sejak lama, karena tipe akting seperti ini menarik untuk dieksplorasi. Rasanya seperti sebuah playground bagi saya, tempat untuk mencoba hal baru dan menggali lebih dalam karakter,” tuturnya.

Film ini digarap dengan pendekatan dua sutradara: Lee Chang-hee dari Korea Selatan yang mengarahkan aspek teknis visual, serta Yusron Fuadi dari Indonesia yang berfokus pada drama, interaksi, dan karakter. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan menghadirkan warna berbeda bagi perfilman Indonesia.


Keadilan (The Verdict) akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 20 November 2025. Informasi terkini dapat diikuti melalui akun resmi @mdpictures\_official dan tagar #KeadilanTheVerdict.

Press Screening & Konferensi Pers Film Rest Area: Kisah Balas Dendam dari Dosa Pembangunan, Hadirkan Hantu Kresek sebagai Ikon Baru Horor Indonesia


Jakarta, 23 September 2025 – Rumah produksi Mahakarya Pictures resmi menggelar Press Screening sekaligus Press Conference untuk film terbaru mereka berjudul Rest Area Berokasi di XI Epicentrum Jakarta , yang dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2025.

Film bergenre horor-thriller ini mengangkat kisah menyeramkan yang berpusat pada sebuah rest area terpencil yang menyimpan misteri kelam. Dengan balutan cerita menegangkan, Rest Area diyakini akan menjadi tontonan horor yang segar di industri perfilman tanah air.

Rest Area menghadirkan kisah balas dendam yang lahir dari dosa pembangunan. Bukan sekadar horor penuh jumpscare, film ini membangun atmosfer mencekam dengan simbol tentang kerakusan, ketidakadilan, dan dosa yang tak pernah benar-benar hilang.

Hantu Kresek hadir sebagai ikon baru horor Indonesia. Wajahnya yang terbungkus plastik hitam menjadi simbol kematian yang dipaksa dilupakan, tapi tak pernah bisa benar-benar terkubur. Ia adalah perwujudan dendam—bukan hanya pada para karakter, tapi juga pada manusia yang mencoba menghapus kesalahan dengan kekuasaan dan harta.

“Buat saya, Rest Area bukan sekadar horor tentang hantu, tapi juga horor tentang manusia. Tentang apa yang mereka sembunyikan, dan bagaimana dosa itu selalu menagih balas. Saya ingin penonton merasakan ketakutan yang datang bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam diri mereka sendiri,” ungkap Aditya Testarossa, sutradara film ini.


SINOPSIS FILM

Lima orang crazy rich terjebak di sebuah rest area terpencil dalam perjalanan malam  mereka. Tempat yang seharusnya jadi singgahan, berubah jadi mimpi buruk ketika  sosok hantu yang kepalanya terbungkus kantong plastic kresek dan dilakban (Hantu Kresek) muncul menuntut balas atas dosa masa lalu. Satu per satu mulai kehilangan kendali, diteror tanpa henti di setiap sudut gelap. Rahasia kelam yang mereka sembunyikan perlahan terungkap. Apa kesalahan fatal yang pernah mereka lakukan? Mampukah mereka selamat dari dendam yang datang  dari dalam tanah?


PARA PEMAIN 

Lutesha, Ajil Ditto, Chicco Kurniawan, Julian JAcob, Lania Fira,  Haydar Salishz, Afrian Arisandy



Genre Film : Horor

Produser : Dendi Reynando

Sutradara : Aditya Testarossa

Penulis : Aditya Testarossa

Produksi: Mahakarya Pictures


Film Rest Area akan mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada  2 Oktober 2025.

Selasa, 23 September 2025

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa Rilis Official Teaser Poster

 Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa menjadi film termahal yang pernah 

diproduksi Soraya Intercine Film



Jakarta, 17 September 2025-Setelah mengumumkan judul terbaru dari universe Suzzanna, Soraya Intercine Films akhirnya merilis official teaser poster film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.

Dibintangi oleh Luna Maya dan Reza Rahadian, official teaser poster film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa menampilkan visual yang memberikan sebuah tanda film ini akan lebih menyeramkan dari film-film di universe Suzzanna sebelumnya. Visual teaser poster menampilkan seorang yang tengah diikat di sebuah tiang kayu, dengan kobaran api yang mengelilinginya. Di depannya, sekumpulan orang berdiri membawa obor yang menyala.

Dibandingkan dengan dua film Suzzanna sebelumnya maupun film lain produksi Soraya Intercine Films, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memiliki biaya produksi yang jauh lebih besar.

"Soraya Intercine Films kembali menghadirkan film terbaru Suzzanna, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Dari segi cerita maupun skala produksi, film ini dipastikan jauh lebih epik!" kata produser Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa Sunil Soraya.

Diproduseri oleh Sunil Soraya, film ini disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis.

"Saya sangat bersyukur dan ini pertama kali saya bekerja sama dengan Soraya Intercine Film. Apalagi dipercaya untuk menyutradarai project film Suzanna Santet Dosa Di Atas Dosa ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya karena saya penyuka film-film Suzzanna," ujar Azhar Kinoi Lubis

"Tentunya ini menjadi tanggung jawab yang besar. Saya berusaha keras agar para penggemar Suzzanna tetap bisa merasakan atmosfer khas dari karakter maupun tema-tema film Suzzanna terdahulu. Kearifan lokal adalah ciri khas Suzzanna, di mana selalu ada isu-isu yang dekat dengan kehidupan penonton, sehingga setiap film Suzzanna selalu dinantikan.

Saya berharap hasil kerja keras seluruh tim dan pemain dapat menghadirkan kepuasan serta kebahagiaan bagi penonton." lanjutnya.

Film ini akan menandai ketiga kalinya Luna Maya memerankan karakter Suzzanna, yang terbukti mampu memberikan dimensi baru bagi sang Ikon Horor Indonesia untuk penonton masa kini.

Selain itu, film ini juga menjadi kolaborasi terbaru Reza Rahadian bersama Sunil Soraya dan Soraya Intercine Films sejak film ikonik Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013) yang rilis 12 tahun silam.

Sebelumnya, universe Suzzanna dari Soraya Intercine Films telah meraih kesuksesan. Di antaranya, film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) meraih sukses blockbuster dengan raihan 3 juta lebih penonton. Selanjutnya, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023) juga meraih sukses blockbuster dengan raihan 2 juta lebih penonton.

Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa dijadwalkan akan segera rilis di jaringan bioskop Indonesia.

Ikuti informasi terbaru tentang film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa melalui akun Instagram resmi @sorayaintercinefilms.

Senin, 22 September 2025

Dibintangi Jourdy Pranata, Beby Tsabina, dan Kevin Julio, Film Si Paling Aktor Luncurkan Poster & Trailer Final, Tampilkan Drama, Aksi, dan Komedi, Tayang 30 Oktober 2025




Jakarta, 22 September 2025 – MD Pictures resmi memperkenalkan film terbaru mereka berjudul Si Paling Aktor melalui acara press conference yang digelar di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dalam acara ini, produser Manoj Punjabi bersama sutradara Ody C. Harahap memperlihatkan poster resmi dan trailer final film yang akan tayang di bioskop mulai 30 Oktober 2025.


Si Paling Aktor mengisahkan Gilang (Jourdy Pranata), seorang aktor figuran yang kariernya selalu kandas karena improvisasinya berlebihan. Hidupnya berubah drastis ketika ia terseret dalam kasus penculikan bersama Rachel (Beby Tsabina), aktris peraih Piala Citra, dan Kevin (Kevin Julio), seorang sutradara perfeksionis. Dari sinilah Gilang memasuki petualangan penuh aksi, hu
mor, dan satir di pedalaman Kalimantan. Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Adhitya Mulya yang menggabungkan komedi, drama, dan aksi.


Poster resmi menampilkan para bintang utama seperti Jourdy Pranata, Beby Tsabina, Kevin Julio, Kenny Austin, dan Verdi Sulaeman. Latar belakang ledakan, helikopter, hingga peralatan syuting menegaskan nuansa komedi aksi dengan sindiran khas tentang dunia keartisan.


Trailer menyorot interaksi kocak Gilang dengan Rachel dan Kevin, hingga situasi penuh ketegangan saat mereka diculik. Rangkaian adegan kejar-kejaran, ledakan, serta komedi slapstick ala Jackie Chan hadir dengan segar, termasuk duel intens Gilang melawan Yayan Ruhian.


Beby Tsabina mengaku pengalaman ini menjadi tantangan baru baginya. “Biasanya aku lebih sering main drama romantis, jadi sempat ragu bisa ikut ritme film aksi. Tapi karena timnya solid, aku justru jadi semakin percaya diri dan menikmati prosesnya,” ungkapnya.


Jourdy Pranata menambahkan bahwa risiko cedera di film aksi adalah hal yang lumrah. “Setelah syuting sering ada memar kecil atau bahkan benturan tidak sengaja. Buat aku itu bagian dari totalitas, justru bikin pengalaman syuting semakin berkesan,” ujarnya.


Sutradara Ody C. Harahap menjelaskan bahwa film ini menghadirkan sesuatu yang segar. “Kami ingin menampilkan komedi yang dekat dengan realitas dunia film, tapi tetap ringan dan menghibur. Energi para pemain yang luar biasa membuat cerita semakin hidup,” katanya.


Film Si Paling Aktor dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 30 Oktober 2025. Ikuti update terbaru melalui media sosial resmi @mdpictures_official dan @sipalingaktor.

Sabtu, 20 September 2025

Film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! Merilis Official Teaser Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga Tampil Gagah dalam Balutan Aksi Penyamaran Tayang 27 November 2025 di Bioskop!



Jakarta, 20 September 2025-Setelah kesuksesan blockbuster di film pertamanya dengan lebih dari 9 juta penonton, AGAK LAEN kini melanjutkan perjalanannya dengan film keduanya, AGAK LAEN: MENYALA PANTIKUI Diproduksi oleh Imajinari, dari produser Ernest Prakasa dan Dipa Andika, AGAK LAEN:

MENYALA PANTIKU! disutradarai oleh Muhadkly Acho. Film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKUI akan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 27 November 2025.

Film ini bukanlah kelanjutan dari film pertamanya, melainkan sebuah kisah baru yang kembali diperankan oleh kuartet AGAK LAEN. Dalam official teaser AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! yang dirilis, film ini menampilkan empat sekawan Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga yang tampil gagah dengan setelan detektif. Tentu saja tidak lupa elemen komedi khas ala AGAK LAEN dengan lapisan dramanya.

Teaser dibuka dengan suasana tegang Oki Rengga dan Boris Bokir yang terlihat sedang mengendap-endap menyelidiki sesuatu. Disusul dengan visual yang menampilkan Bene Dion dan Indra Jegel melaju dalam mobil berkecepatan penuh.




Namun, setelah tampil sangar, keempatnya justru terlibat dalam sebuah adegan-adegan kocak di sebuah panti jompo. Bene Dion dan Indra Jegel pun harus memegangi Jarwo Kwat saat akan mandi. Belum lagi, kehebohan warga panti yang punya kegiatan rutin mengadakan party. Akan ada kekacauan komedi apa lagi di film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!?

Film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! akan mengikuti kisah empat detektif "culun'. Setelah berulang kali gagal menjalankan misi, detektif Bene, Boris, Jegel, dan Oki diberi satu kesempatan terakhir: menyamar dan menyusup ke sebuah panti jompo, untuk mencari buronan. kasus pembunuhan anak wali kota. Selain keempat sekawan AGAK LAEN, film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! juga akan dibintangi oleh Tissa Biani, serta dimeriahkan oleh jajaran komika di antaranya Awwe, Boah Sartika, Priska Baru Segu, dan Gita Bhebhita. Tak hanya komika,film ini juga akan memberikan dimensi baru dengan penampilan mengesankan dari para pemeran senior seperti di antaranya Jajang C. Noer, Egi Fedly, Jarwo Kwat, Tika Panggabean, dan Chew Kin Wah.

"Kami membawa cerita dan pengalaman menonton yang baru. Baik secara komedinya, jajaran pemeran, bahkan sentuhan genrenya pun baru. Kami berharap film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!! bisa konsisten sebagai film yang menghibur, dengan kisah yang lebih mendalam, namun juga tak mengurangi porsi komedinya," kata sutradara AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! Muhadkly Acho.

"Antusiasmeku di film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! bisa dibilang lebih meningkat. Memang secara syutingnya lebih lama dari film yang pertama. Namun, yang membuatku lebih suka karena ceritanya lebih kuat," ujar Bene Dion mewakili sekawan AGAK LAEN.

Produser Ernest Prakasa menambahkan, di film kedua ini Imajinari memberikan sebuah ledakan komedi yang lebih eksplosif, namun dengan pendalaman cerita yang lebih matang. Di film ini, Imajinari juga membawa sesuatu yang baru lewat sebuah latar panti jompo.

"Penonton akan melihat aksi yang tak terduga dari sekawan AGAK LAEN di sebuah set yang tak terbayangkan sebelumnya, di panti jompo. Mereka akan membaur dan beradu akting dengan para jajaran pemeran senior yang secara kualitas aktingnya sudah terbukti di industri perfilman Indonesia. Semoga AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! menjadi sajian menjelang penutup tahun 2025 yang kacau ini dengan tawa yang meringankan kepala kita," tutup produser Ernest Prakasa.

Film AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU! dari Imajinari akan tayang di jaringan bioskop mulai 27 November 2025. Ikuti perkembangan terbaru melalui media sosial resmi di Instagram dan TikTok @pilem.agak.laen dan @imajinari.id.



Penonton Minta Tambah Layar! Mitos Atau Fakta? Perempuan Pembawa Sial Bikin Penonton Merinding dan Ketagihan

Jakarta, 19 September 2025 – Melihat antusiasme penonton pada hari pertama penayangan, horror terbaru dari Fajar Nurgos di bawah naungan IDN Pictures, Perempuan Pembawa Sial menambah layar pada hari ke-dua dari 307 layar menjadi 364 layar. 




Pasca digelarnya Gala Premiere pada 10 Oktober lalu, film ini telah mendapat banyak respon dan review positif dari penonton, memuji pengalaman menonton yang penuh ketegangan tanpa henti dengan banyaknya jumpscare yang tak terduga.

“Ngasih opening yang udah ngedor dari awal, ngga bikin kendor sampe akhir,” puji @txtanakbioskop dalam review di X. 

 “PEREMPUAN PEMBAWA SIAL beneran sialan!” Sebut Habis Nonton Film dalam review di X. “Jumpscare-nya darderdor, tarian Mbah Didik-nya bikin merinding & yg Minton salutin... ternyata ceritanya inspired by cerita rakyat yg dikasih 'what if'! Apa cerita rakyatnya? Trust me, best experience kalo taunya langsung dari filmnya.” 


Misteri Bahu Laweyan Dibalut dalam Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih 

Film ini membawakan mitos kutukan Bahu Laweyan, sebuah mitos kuno Jawa di mana perempuan yang terkena kutukan ini ditakdirkan untuk selalu membawa sial bagi orang-orang di sekitarnya, terutama bagi laki-laki yang menjadi bagian hidupnya. “Awalnya kaget ketika mendengar film ini mau mengangkat Bahu Laweyan,” sebut Didik Nini Thowok, penari tradisional legendaris yang turut berperan dalam film ini sebagai dukun manten Mbah Warso. “Kutukan ini benar ada, bukan cuma mitos. Dulu salah satu teman saya ada yang terkena, dan saat itu harus kami bacakan banyak mantra untuk mencabutnya.” 

Bercerita tentang Mirah (Raihaanun), seorang perempuan yang selalu diikuti oleh kesialan masa lalunya, dan semua pria yang ia cintai mati dalam keadaan tragis. Dikucilkan oleh warga sekitar, Mirah mulai mempertanyakan apakah kesialan ini ada kaitan dengan hubungannya dengan adiknya, Puti (Clara Bernadeth). 

Ditengah dilema tersebut, Mirah bertemu dengan Bana (Morgan Oey), satu-satunya pria yang melihatnya sebagai manusia, bukan kutukan. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Mirah? Bagaimana nasib hubungannya dengan Bana? Apakah Puti memiliki sangkut paut dengan kesialan ini? Bagaikan bawang, berbagai misteri ini dikupas perlahan dalam film Perempuan Pembawa Sial. 

Buang sialmu segera! Saksikan Perempuan Pembawa Sial hanya di bioskop seluruh Indonesia. Ikuti juga promo Buy One Get One Free (BOGOF) yang dapat dibeli melalui aplikasi MTIX, CGV, Cinepolis, dan TIX ID.


Tumbal Darah Siap Teror Bioskop, Charles Gozali Hadirkan Level Baru Horor-Action yang Brutal dan Nyata

Nama Sutradara Charles Gozali telah menjadi jaminan mutu bagi genre horor-action Indonesia. Setelah sukses membuat penonton bergidik lewat Qodrat dan Pemukiman Setan yang menyedot jutaan penonton, sang sutradara kini kembali dengan karya yang diklaim paling gelap dan brutal. 

Bersiaplah, karena lewat Tumbal Darah, ia siap menyeret penonton ke level neraka yang berbeda: neraka yang cerminannya terasa begitu dekat dengan dunia nyata. Film ini menjanjikan adrenalin tanpa henti, sebuah kisah tentang perjuangan mendobrak keluar dari keputusasaan, yang akan menghantui bioskop nasional mulai 23 Oktober 2025. 



Saat Neraka Bukan Lagi di Alam Gaib 
Apa yang membuat Tumbal Darah berbeda? Charles Gozali tidak hanya mengandalkan teror supranatural. Ia membangun fondasi kengeriannya dari realitas pahit yang pernah kita rasakan bersama: kemiskinan yang mencekik dan pandemi yang melumpuhkan. Horor di film ini tumbuh dari kekacauan sosial, di mana setiap karakter sudah hidup di dalam nerakanya masing-masing bahkan sebelum hantu pertama muncul. 

Penonton akan diseret ke dalam perjuangan Jefri (Marthino Lio), seorang penagih utang yang terjebak dalam dilema moral. Di satu sisi, ia harus menghidupi istrinya, Ella (Sallum Ratu Ke), yang sedang hamil tua. Di sisi lain, pekerjaannya memaksa ia berhadapan dengan korban-korban lain dari sistem yang kejam. 

Latar Pandemi Mendukung Suasana “Horor” di Film Ini 
Latar pandemi COVID-19 mempertajam kengerian ini, menggambarkan bagaimana akses medis yang terbatas dan ketimpangan ekonomi bisa menjadi pembunuh yang lebih nyata dari entitas gaib manapun. Jefri yang harus mencari perawatan untuk istrinya yang hamil kesulitan mencari akses medis yang terbatas di tengah pandemi. 

Klinik Kamboja: Gerbang Teror Hantu Kembar 
Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat yang seharusnya menjadi simbol kehidupan, berupa rumah bersalin, justru menjadi pusat dari mimpi buruk. Tumbal Darah memperkenalkan "Klinik Kamboja", sebuah fasilitas ilegal yang dioperasikan oleh tiga nakes misterius.

Di sinilah lapisan horor supranatural film ini mengoyak realitas. Di balik praktiknya, klinik ini menyembunyikan ritual mengerikan di mana bayi-bayi yang baru lahir dijadikan persembahan untuk dua hantu kembar ikonik. Sosok inilah yang menjadi sumber teror utama, mengubah harapan menjadi jeritan putus asa.

Terbukti Mencekam: Pujian Mengalir Sejak JAFF 2024 
Bocoran kengerian Tumbal Darah sudah terbukti ampuh saat penayangan perdananya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024. Diputar di hadapan penonton yang memadati studio (full house), film ini sukses menuai pujian kritis. 

Banyak yang menggambarkannya sebagai "pengalaman menonton yang intens" dan sebuah "rollercoaster emosi tanpa jeda". Sambutan hangat ini menjadi sinyal kuat bahwa Tumbal Darah bukan hanya film horor biasa, melainkan sebuah karya yang dirancang untuk meninggalkan bekas mendalam.

Siapkah Kamu Menghadapi Neraka Charles Gozali? 
Dengan meleburkan teror hantu kembar yang ikonik, brutalitas action khas Charles Gozali, dan latar cerita yang begitu relevan dengan ketakutan kolektif kita, Tumbal Darah siap menjadi salah satu tontonan paling memacu adrenalin tahun ini. 

Jangan lewatkan pengalaman mendobrak keluar dari neraka. Saksikan Tumbal Darah di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 Oktober 2025. Ikuti update terbaru melalui media sosial resmi @tumbaldarahfilm dan @magmaent.

Rabu, 10 September 2025


Selamat datang di Semovsic.id – media informasi yang hadir untuk berbagi kabar seputar dunia perfilman Indonesia. 

Kami percaya bahwa film adalah salah satu medium paling kuat untuk bercerita, menyampaikan pesan, sekaligus menjadi cermin kehidupan masyarakat. Karena itu, Semovsic.id berkomitmen menghadirkan berita terbaru, ulasan, liputan acara, hingga insight menarik dari industri film tanah air.

Semovsic.id ingin menjadi ruang yang dekat dengan para pecinta film Indonesia—baik penonton setia bioskop, penikmat cerita layar lebar, maupun mereka yang tertarik mengikuti perkembangan karya sineas lokal.

Lewat setiap artikel, kami berusaha menyajikan informasi dengan bahasa yang ringan, akurat, dan mudah dipahami. Tak hanya itu, kami juga mendukung pertumbuhan ekosistem perfilman Indonesia dengan memberi sorotan pada karya, kreator, serta berbagai peristiwa penting dalam industri film.

Bersama Semovsic.id, mari rayakan perjalanan film Indonesia yang semakin kaya, berwarna, dan penuh cerita.

Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film ...