Jumat, 05 Juni 2026

Monster Pabrik Rambut Tayang Mulai Hari Ini di Bioskop! Membawa Horor yang Berani, Mengkritisi Dunia Kerja yang Eksploitatif

Jakarta, 4 Juni 2026 Film terbaru persembahan Palari Films, karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut mulai tayang hari ini di bioskop Indonesia. Film horor fantasi yang berani mengkritisi tentang dunia kerja yang eksploitatif.
‎Film yang dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev ini ditujukan untuk menghibur penonton Indonesia melalui kemasan horor fantasinya yang ajaib dengan latar di sebuah pabrik rambut. Namun juga tak meninggalkan sisi kritisnya terhadap isu sosial yang saat ini perlu dibicarakan bersama.
‎"Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monsternya. Yang mengeksploitasi mengeruk keuntungan pribadi, sementara yang dieksploitasi turut melanggengkan kondisi ini dengan menormalisasi lembur yang tidak manusiawi. Keduanya saling menopang sistem yang perlu kita kritisi," ujar sutradara Edwin.
‎Monster Pabrik Rambut membawa kritik itu dalam balutan horor yang campy dan menghibur.
‎Setelah press screening media yang digelar Senin lalu di Jakarta, akhirnya seluruh penonton Indonesia bisa menyaksikan sendiri Monster Pabrik Rambut di bioskop Indonesia hari ini. Film yang sudah lebih dulu mendunia lewat world premiere di Berlinale 2026 (Special Midnight), dan disambut antusias oleh penonton dan sinefil di berbagai penjuru dunia. Monster Pabrik Rambut segera berkompetisi di Fantasia, Montreal, 16 Juli-2 Agustus 2026.
‎Di Letterboxd, para penonton menyebut film ini sebagai karya yang menggabungkan horor, thriller, surealisme, dan absurditas komedi menjadi sesuatu yang benar-benar milik sendiri. Di X, satu penonton menulis bahwa Monster Pabrik Rambut berhasil mengembalikan harapan dan optimisme pada era sinema Indonesia yang nyentrik dan hidup.
‎Rachel Amanda, yang memerankan Putri, mengaku tema film ini sangat dekat dengan dirinya. "Dulu, saya pun belum sadar bahwa kondisi kerja seperti itu adalah eksploitasi. Karena sistemnya sudah begitu, semua orang mewajarkan. Sama seperti di film ini, lembur dan begadang dianggap normal, padahal tidak," ungkap Amanda.
‎Karakter Putri adalah cerminan nyata perempuan pekerja Indonesia. "Saya paham rasanya tidak punya pilihan selain bertahan di tempat yang tidak nyaman, demi menanggung keluarga. Itu dialami banyak perempuan, termasuk mereka yang sedang hamil atau punya kondisi khusus, dan film ini mengajak kita bertanya: apakah ini sudah adil?" tambahnya.
‎Lutesha, yang memerankan Ida, mengingatkan bahwa kelelahan kerja bukan hanya soal buruh pabrik. "Dampaknya sama saja, di mana pun kita bekerja. Kerja sampai sakit karena stres itu nyata dan tidak bisa dianggap sepele," ujarnya..
‎Iqbaal Ramadhan, yang hadir sekaligus sebagai aktor dan Produser Eksekutif, melihat film ini sebagai cerminan pengalaman yang dirasakan hampir semua pekerja. "Kita mungkin sama-sama bisa mengamini, mau bekerja di lini apa pun, situasi-situasi horor itu sangat mungkin terjadi. Bisa jadi karena atasan yang killer, kolega yang saling tusuk dari belakang, atau ekspektasi yang dibebani secara berlebih sehingga kita harus mengorbankan kesehatan mental atau bahkan kesehatan fisik sebagai pekerja," ungkapnya.
‎Kev, yang menjadikan Monster Pabrik Rambut sebagai debut aktingnya di layar lebar, menemukan kedekatan personal lewat karakternya sebagai Tohar, buruh pabrik yang kehilangan arah. "Tohar sampai lupa tujuannya di sini untuk apa, karena dia berada di dalam sistem yang sudah lama berjalan dan semakin hari semakin buruk. Dan ya, itu juga banyak dirasakan oleh teman-teman, atau mungkin saya pribadi pun merasakannya," ungkapnya.
‎Sal Priadi, yang memerankan Rudi, buruh pabrik yang bekerja keras demi menghidupi keluarganya, mengaku keterlibatannya dalam proyek ini terasa lebih dari sekadar akting. Dari pengalaman itulah lahir OST "Kepala, Pundak, Kerja Lagi, sebuah lagu yang menggambarkan kelelahan kerja yang sudah terlalu lama dinormalisasi. "Dipanggil Palari itu kayak dipanggil pemerintah pusat, jadi kita selalu siap untuk bergabung di proyek ini," ujarnya.
‎Lima fakta yang membuat Monster Pabrik Rambut sulit untuk dilewatkan:
‎Film horor Indonesia pertama tanpa setan. Edwin memilih "monster" berupa sistem kerja yang tidak manusiawi, bukan hantu. Kengerian datang dari realita sehari-hari.
‎Ko-produksi lima negara. Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, menjadikannya salah satu proyek film Indonesia paling ambisius secara internasional.
‎Skenario ditulis bersama novelis Eka Kurniawan, salah satu penulis sastra Indonesia paling diakui secara global.
‎Semua efek dibuat secara praktikal, tanpa CGI. Setiap pengulangan adegan bisa memakan waktu hingga 30 menit karena seluruh elemen harus disiapkan ulang dari awal.
‎Rambut bukan sekadar latar. Edwin memilih rambut sebagai simbol tekanan kerja secara sadar: "Ketika kita stres, rambut rontok, tiba-tiba memutih. Respons tubuh itu langsung kelihatan dari rambut."
‎Nonton Monster Pabrik Rambut bareng geng lembur kamu hari ini. Tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.
‎Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
‎Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok osok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan ida menyelamatkan Bona?
‎Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif" (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Kamis, 04 Juni 2026

‎Di Luar Nurul, Drama Remaja tentang Ambisi, Persahabatan, dan Pencarian Jati Diri

‎Jakarta, 3 Juni 2026 Original Series terbaru berjudul Di Luar Nurul, sebuah serial bergenre teen comedy drama yang mengangkat dinamika kehidupan remaja, perjuangan mengejar mimpi, pencarian jati diri, hingga lika-liku cinta di masa sekolah. Diproduksi oleh Screenplay Films dan disutradarai oleh Angling Sagaran dan Adis Kayl, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian generasi muda dengan balutan komedi yang ringan, hangat, dan menghibur. Mengawali bulan Juni, Vidio kembali menghadirkan tayangan
‎Dibintangi oleh Nayla Purnama, Gabriel Harun Giroux, Rayensyah Rassya, Lea Ciarachel, Keysha Angelica, Ghina Sungkar, dan sederet bintang muda berbakat lainnya, Di Luar Nurul siap mengajak penonton mengikuti perjalanan seorang remaja yang harus keluar dari zona nyamannya demi meraih cita-cita besar.
‎Dunia Baru di Balik Mimpi Besar Kania
‎Di Luar Nurul bercerita tentang Kania (Nayla Purnama), siswi cerdas dan ambisius yang memiliki Impian untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Oxford. Bersama sahabat-sahabatnya di geng The Centils, Jihan (Keysha Angelica) dan Aisyah (Ghina Sungkar), Kania menjalani masa remaja yang penuh warna. Ketiganya kerap diasosiasikan dengan sosok "Nurul", istilah yang lekat dengan remaja perempuan Gen Z yang autentik, ekspresif, penuh rasa ingin tahu, serta menemukan kebahagiaan dalam momen-momen sederhana masa remaja.
‎Di balik mimpinya yang besar, Kania tetaplah remaja pada umumnya. la senang menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya, berburu jajanan favorit sepulang sekolah, hingga menikmati live music. Kania tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri, tanpa merasa perlu mengubah siapa dirinya demi mengikuti standar orang lain.
‎Kehidupan yang selama ini terasa nyaman mulai berubah ketika Kania mendapat kesempatan untuk bersekolah di SMA Galaxy, sekolah internasional bergengsi yang dikenal memiliki program akademik unggulan. Kesempatan tersebut membawanya selangkah lebih dekat dengan impian untuk berkuliah di luar negeri, namun juga mempertemukannya dengan dunia yang sama sekali baru.
‎Di SMA Galaxy, Kania mengalami culture shock karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda dari sekolah lamanya. Dari kantin yang menyajikan. menu-menu yang tidak familiar baginya hingga teman-teman yang datang ke sekolah dengan mobil pribadi, Kania merasa seperti memasuki dunia baru.
‎Jika sebelumnya Kania selalu menjadi salah satu murid paling pintar di sekolahnya, di SMA Galaxy keadaan justru berbalik, la mendapati dirinya harus berjuang mengejar ketertinggalan di tengah lingkungan yang dipenuhi siswa-siswo berprestasi. Pengalaman tersebut membuat Kania untuk pertama kalinya menghadapi rasa tidak percaya diri dan keraguan terhadap kemampuannya sendiri.
‎Perbedaan latar belakang, tekanan akademis, hingga stigma terhadap siswa sekolah negeri membuat Kania harus bekerja lebih keras untuk membuktikan dirinya. Tantangan itu semakin besar ketika ia berhadapan dengan Lily (Lea Ciarachel), siswi populer yang berada dalam lingkaran pertemanan Gus Ammar (Rayensyah Rassya) dan Bagas (Gabriel Harun Giroux). Lily memandang Kania sebagai sosok yang berbeda dari lingkungan SMA Galaxy, sehingga hubungan mereka pun tidak langsung berjalan mulus.
‎Di tengah berbagai tantangan tersebut, Kania juga harus menghadapi dinamika perasaan yang tak kalah membingungkan. Ada Gus Ammar, sosok siswa teladan yang selama ini menjadi idolanya, dan Bagas, laki-laki yang dijodohkan dengannya yang perlahan mulai membawa warna baru dalam kehidupannya.
‎Membuktikan Bahwa Mimpi Tidak Ditentukan oleh Latar Belakang
‎Bagi Kania, bersekolah di SMA Galaxy bukan hanya tentang mengejar impian untuk kuliah di luar negeri, tetapi juga membuktikan bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh asal sekolah maupun latar belakangnya. Perjalanan Kania pun menjadi upayanya untuk mematahkan stigma sekaligus membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita.
‎Menghidupkan karakter Kania, Nayla Purnama melihat sosok yang diperankannya sebagai representasi banyak anak muda yang berani keluar dari zona nyaman untuk mengejar Impian yang lebih besar.
‎"Yang aku suka dari Kania adalah dia nggak gampang minder. Walaupun sering dipandang sebelah mata karena berasal dari sekolah negeri, dia tetap fokus sama tujuannya dan nggak mau membatasi dirinya karena omongan orang lain. Menurut aku, itu pesan yang relatable banget buat anak-anak muda yang mungkin pernah merasa diremehkan atau dianggap nggak mampu," ujar Nayla.
‎Menghadapi Perbedaan dan Menemukan Jati Diri
‎Selain perjalanan Kania, Di Luar Nurul juga menghadirkan karakter Lily yang memiliki dinamika menarik sepanjang cerita. Di balik kesan populer dan percaya diri yang ditampilkan di awal, Lily sebenarnya merupakan remaja yang masih mencari jati diri dan berusaha menemukan tempatnya sendiri.
‎Menurut Lea Ciarachel, salah satu hal yang membuat karakter Lily menarik adalah perjalanan emosional yang dialaminya sepanjang cerita.
‎"Lily adalah remaja yang sedang berada dalam fase mencari jati diri dan mencoba memahami dunia di sekitarnya. Di awal cerita, dia cukup arogan dan sering memandang rendah orang lain karena terbiasa berada di lingkungan seperti itu. Namun seiring berjalannya cerita, Lily menghadapi berbagai pengalaman yang membuat cara pandangnya perlahan berubah. Menurut aku, lewat karakter Lily, penonton bisa melihat bahwa kita nggak bisa menilai seseorang hanya dari latar belakang atau kesan pertama. Kadang kita perlu mengenal seseorang lebih jauh sebelum memberi penilaian," jelas Lea.
‎Gus Ammar, Sosok Idola yang Mengubah Hidup Kania
‎Salah satu karakter yang mencuri perhatian dalam Di Luar Nurul adalah Gus Ammar, sosok siswa teladan yang dikenal baik hati, berwawasan luas, dan dikagumi banyak orang di sekitarnya, termasuk Kania dan The Centils. Untuk memerankan karakter tersebut, Rayensyah Rassya mengaku melakukan berbagal riset agar dapat memahami sosok remaja yang tumbuh dengan nilai-nilai agama yang kuat.
‎"Mendalami karakter Gus Ammar menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya karena banyak hal baru yang bisa dipelajari, terutama dari sisi pengetahuan agama. Saya mencari berbagai referensi dari tokoh-tokoh publik dan para gus yang sudah dikenal masyarakat. Menurut saya, Ammar memang memiliki sifat yang dewasa, tetapi tetaplah seorang remaja berusia 17 tahun yang masih berada dalam proses bertumbuh dan belajar, "ungkap Rayensyah.
‎Saksikan Vidio Original Series Di Luar Nurul Hanya di Vidio!
‎Mengangkat tema persahabatan, mimpi, pencarian jati diri, hingga cinta pertama, Di Luar Nurul menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan remaja masa kini. Lewat perjalanan Kania dan teman-teman barunya di SMA Galaxy, penonton akan diajak menyaksikan berbagai tantangan, momen menggemaskan, konflik yang relatable, hingga proses bertumbuh yang penuh makna.
‎Jangan lewatkan kisah Kania dalam mengejar mimpinya, menghadapi lingkungan baru, dan menemukan dirinya di tengah berbagai perubahan, Saksikan Di Luar Nurul mulai Jumat, 5 Juni 2026, dengan episode terbaru yang hadir setiap hari Jumat, eksklusif hanya di Vidio
‎SAKSIKAN VIDIO ORIGINAL SERIES DI LUAR NURUL HANYA DI VIDIO!

Mengenal Edwin, Sutradara Indonesia Pemenang Banyak Penghargaan!‎Selalu Membawa Eksperimen dan Eksplorasi Sinematik Termasuk di Film Terbarunya Monster Pabrik Rambut

Jakarta, 28 Mei 2026 - Edwin adalah salah satu sutradara Indonesia yang memiliki rekam jejak filmografi menawan. Salah satu prestasi tertingginya adalah filmnya, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) memenangkan penghargaan utama di ajang festival film internasional, yakni Golden Leopard di Locarno International Film Festival.
‎Kini, Edwin akan merilis film terbarunya, Monster Pabrik Rambut, yang akan tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia. Film ini juga telah berkeliling di berbagai festival film internasional. Monster Pabrik Rambut tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Dilanjutkan dengan tayang di Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026, dan tayang di Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada.
‎Monster Pabrik Rambut menjadi film panjangnya kedelapan. Sebelumnya, Edwin telah menggarap film panjang Kabut Berduri (2024), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Aruna & Lidahnya (2018), Posesif (2017), Someone's Wife in the Boat of Someone's Husband (2013), Postcards from The Zoo (2012), dan Babi Buta yang Ingin Terbang (2008).
‎Film-filmnya telah tayang di berbagai festival film internasional dan mendapat berbagai penghargaan. Lewat filmografinya termasuk di film pendeknya, Edwin telah meraih 28 nominasi dan 15 kemenangan di berbagai ajang festival baik di dalam negeri maupun internasional. Di antaranya di FFI ia memenangkan 4 Piala Citra. Edwin juga mendapat anugerah penghargaan Edward Yang New Talent Award di Asian Film Awards 2012.
‎Dikenal lebih dulu di skena perfilman independen, Edwin dinilai mampu memadukan eksplorasi berbagai elemen di setiap film-filmnya, termasuk film-film yang dinilai lebih naratif. Edwin selalu menawarkan kebaruan pendekatan dengan imajinasi sinematiknya yang fantastis.
‎Di film Postcards from The Zoo misalnya, Edwin menghadirkan seorang pesulap koboi misterius (Nicholas Saputra) di Kebun Binatang Ragunan Jakarta. Di film Aruna & Lidahnya, Edwin menampilkan fantasinya dalam mimpi Aruna (Dian Sastrowardoyo). Di Kabut Berduri, Edwin menghadirkan sosok misterius di tengah pedalaman hutan yang selalu menjadi bayang ketakutan dari Sanja (Putri Marino). 
‎"Ketika membuat film saya selalu ingin memahami karakter-karakter yang ada di kehidupan kita. Ada semacam eksperimen yang harus terus dilakukan untuk mengupayakan menunjukkan dan menampilkan manusia semaksimalnya," ujar Edwin tentang eksplorasi di setiap filmnya.
‎Di film Monster Pabrik Rambut, Edwin juga menampilkan sisi ajaib dan fantastisnya lewat karakter Monster dan Bona (Iqbaal Ramadhan). Di film ini, Edwin menghadirkan tubuh karakter manusia yang selalu bisa tumbuh kembali layaknya amfibi endemik Meksiko Axolotl.
‎"Di Monster Pabrik Rambut ini ada elemen fantasi, ada monster yang harus dibuat, dan ada sisi fantasi seperti tangannya si Bona, yang diperankan Iqbaal, itu meski putus, bisa muncul lagi. Dan itu belum pernah saya buat dan jelajahi sebelumnya," tambah Edwin.
‎Hal itu juga yang membuat Iqbaal Ramadhan tertarik untuk memerankan karakter Bona, sekaligus terlibat sebagai produser eksekutif di film ini. "Menurutku Monster Pabrik Rambut memberikan opsi baru bagi perfilman Indonesia. Ini adalah horor yang seru, fantasi, dan ajaib. Dan aku tampil sangat berbeda di film ini, belum pernah aku lakukan sebelumnya," ujar Iqbaal Ramadhan.
‎Tonton keajaiban dan kefantastisan sinematik Edwin dalam film horor fantasi terbaru Monster Pabrik Rambut mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia. Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
‎Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
‎Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfiiman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan

Eka Kurniawan Ceritakan Perbedaan Menulis Novel dan Skenario Film: Kolaborasi Terbarunya Bersama Edwin di Monster Pabrik Rambut

Jakarta, 25 Mei 2026 Novelis Eka Kurniawan bercerita tentang perbedaan prosesnya dalam menulis novel dan skenario film. Eka sendiri diketahui sebelumnya telah menulis skenario untuk film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), sebuah film yang diadaptasi dari novel populernya. Di film itu, Eka turut menulis skenario bersama sang sutradara Edwin.
‎Terbaru, Eka kembali berkolaborasi bersama Edwin untuk menulis skenario dalam film Monster Pabrik Rambut, yang disutradarai Edwin. Film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev.
‎"Orang sering tanya, apa bedanya nulis novel dan skenario? Sederhananya, menulis novel itu pekerjaan individual, sementara menulis skenario film itu pekerjaan tim. Baik sebagai co-writer, maupun dalam konteks yang melibatkan bagian produksi lain," ungkap Eka Kurniawan tentang perbedaan menulis novel dan skenario.
‎Eka membeberkan, salah satu tantangan saat menulis novel adalah ia harus menanggungnya seorang diri ketika mentok. Sementara, dalam menulis skenario film, ada tantangan bersama dinamika dari anggota kru/tim lain.
‎Proses terciptanya film Monster Pabrik Rambut bermula saat Eka mampir ke kantor Palari Films. Saat itu, Edwin bertanya kepada Eka terkait ajakan berkarya dan kembali berkolaborasi setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang sukses memenangkan 5 Piala Citra FFI termasuk untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik untuk Eka dan Edwin.
‎"Setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Edwin bertanya, bikin apa lagi, ya? Saya memang kadang mampir kantor Palari Films dan kami ngobrol di bagian belakang. Jawaban saya, yuk, bikin cerita dari nol," ungkap Eka.
‎"Saya pun mulai menulis draft pertama dari premis sederhana: bagaimana kalau kamu terpaksa kurang tidur karena lembur, terus jadi lihat hantu?" Tambah Eka.
‎Edwin menambahkan, banyaknya referensi Edwin bersama Eka tentang komik dan film era '80-an, menjadikan keduanya dengan mudah menciptakan sosok monster di film horor ini.
‎"Komik Indonesia dibumbui dengan banyak cerita-cerita komedi, action dan sedikit banyak juga horor. Kalau kita ingat-ingat, beberapa judul yang ada bahkan komik Petruk Gareng yang harusnya komedi saja bisa jadi horor," ungkap Edwin tentang referensi menciptakan sosok horor dan monster di film ini.
‎Tak hanya komik, film-film Indonesia era '80-an turut menyumbang referensi untuk Edwin dan Eka. Penggunaan practical effect yang terasa 'konyol', justru membekas bagi keduanya yang tumbuh di masa itu.
‎"Saya rasa itu juga apa terbangun dari bagaimana observasi kami sebagai filmmaker-nya, saya, Mas Eka, itu melihat kembali yang urgent dan relevan saat ini. Bahwa kita berada di sebuah kondisi yang bisa dibilang cukup horor. Karena kita seperti tidak punya kontrol terhadap diri kita sendiri, terhadap kemanusiaan kita sendiri, untuk memberikan segala sesuatunya secara berlebihan, lebih-lebih lagi kepada pekerjaan. Yang bisa berakibat fatal, dan seramnya lagi itu dinormalisasikan dan dianggap sebagai risiko, jadi dari situ lah monster di film ini tercipta," cerita Edwin.
‎Naskah film ini dikerjakan selama hampir dua tahun dengan belasan draft. Dari premis sederhana yang dikembangkan Eka, kemudian dibangun dari sebuah cerita yang terjadi di sebuah pabrik. Setelah Eka dan Edwin berkunjung ke sebuah pabrik wig, dan melihat gudang serta alat-alat yang terasa menyeramkan, cerita di film pun semakin solid dan terbentuk.
‎Penonton Indonesia akan menyaksikan horor fantasi dari ciptaan Edwin dan Eka Kurniawan di film Monster Pabrik Rambut mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia!
‎Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram resmi @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com.
‎Sinopsis
‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif" (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Mulai Tayang Hari Ini! 'Nobody Loves Kay' Jadi Suara Perjuangan Gen Z Mengejar Mimpi dan Sebuah Pembuktian Bagi Mereka yang Meremehkan


Jakarta, 4 Juni 2026 - Mulai hari ini, Kamis, 4 Juni 2026, film drama remaja yang paling memicu perbincangan hangat tahun ini, Nobody Loves Kay, resmi tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia. Diproduksi oleh ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, Qun Films, dan bekerja sama dengan Visinema Pictures, film ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebuah manifesto dan suara lantang bagi generasi baru yang sedang berjuang mewujudkan mimpi mereka di tengah skeptisisme dunia.
‎Terinspirasi dari kisah nyata perjuangan dari nol jungler andalan Landak Kuning, ONIC Kairi, film drama coming-of-age arahan sutradara debutan Bernardus Raka ini memotret realitas tajam tentang ambisi, harga sebuah pilihan, dan bagaimana rasanya berdiri tegak saat semua orang, bahkan orang tua sendiri, berhenti berpihak pada kita.
‎Nobody Loves Kay disambut dengan sangat meriah oleh para penonton dan reviewer film yang telah menonton sebelum rilis, tak sedikit pula yang menempatkan film ini sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Akun film WatchmenID, yang menyempatkan menonton dua kali sebelum rilis membagikan reaksi setelah keluar dari pintu bioskop. "Bagus banget, bagus ceritanya, bagus karakternya, bagus dramanya, buset bagus!" sebut WatchmenID dalam sebuah post di X.
‎Mimpi Besar Butuh Usaha yang Tak Kalah Besar
‎Melalui karakter Kay yang diperankan oleh Bima Azriel, film ini membawa pesan mendalam bahwa sebuah mimpi yang tidak konvensional, seperti menjadi pro-player e-sport, bukanlah hal yang mustahil jika dibayar dengan dedikasi yang sepadan.
‎Kay mengajarkan bahwa jika kita berani memiliki mimpi yang besar, maka usaha dan pengorbanan yang dikeluarkan juga harus jauh lebih besar. Ini adalah satu-satunya cara terbaik untuk berdiri tegak dan "Prove Them Wrong" di hadapan mereka yang selama ini meremehkan.
‎Sutradara Bernardus Raka mengungkapkan bahwa film ini didedikasikan untuk setiap anak muda yang sedang bertaruh nyawa demi masa depannya.
‎"Kay adalah representasi dari generasi hari ini yang sering kali harus berjalan di kegelapan sendirian karena mimpinya dianggap aneh atau tidak realistis oleh lingkungan, bahkan oleh orang tua mereka sendiri. Lewat film ini, kami ingin bilang kalau mimpi kalian itu valid. Tapi ingat, untuk membungkam keraguan (prove them wrong), kalian harus membayarnya dengan kerja keras yang luar biasa," tegas Bernardus Raka.
‎Gejolak Emosi, Persahabatan, dan Konflik Keluarga
‎Kedalaman akting di film ini didukung kuat oleh penampilan tiga aktor muda berbakat, Bima Azriel, Rey Bong serta Joshia Frederico, yang berhasil menghidupkan dinamika persahabatan yang retak akibat benturan ambisi dan kenyataan hidup yang pahit.
‎Bima Azriel, pemeran karakter Kay, mengaku sangat emosional saat pertama kali membaca naskah dan mengeksekusi adegan-adegan krusial di film ini. "Konflik paling berat bagi Kay adalah ketika dia tahu orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya, nggak mendukung apa yang dia kejar. Aku rasa banyak banget anak muda di luar sana yang relate dengan posisi Kay. Karakter ini mengajarkan aku, dan semoga juga para penonton, bahwa rasa sakit saat diremehkan itu bisa dijadikan bahan bakar untuk membuktikan kalau kita bisa sukses dengan jalur kita sendiri," ungkap Bima Azriel.
‎Sementara itu, Rey Bong yang memerankan karakter Ido, sahabat dekat Kay, menambahkan bahwa kekuatan film ini terletak pada hubungannya yang sangat manusiawi. "Di film ini, penonton bakal lihat kalau perjuangan ngejar mimpi itu nggak pernah sendirian, ada sahabat yang ikut bertaruh di sana. Tapi, ego dan ambisi kadang bisa merusak semuanya. Menonton film ini bakal bikin kita berkaca lagi tentang arti ketulusan, persahabatan, dan sedalam apa kita mengenal diri kita sendiri," tutur Rey Bong.
‎Sedangkan Joshia pemeran karakter Aurelio mengungkapkan, bahwa lewat film ini ia justru belajar kembali tentang makna berjuang bersama dengan teman-teman, mengingat di sini memang meng-highlight persahabatan Kay, Ido dan Aurelio. "Sebesar apapun tantangan saat mengejar mimpi, dengan adanya dukungan, pasti akan terasa lebih mudah, kan? Nah di film ini, sayangnya nggak semua bisa dapat dukungan itu, bahkan teman yang tadinya jalan beriringan, bisa jadi nggak lagi saling dukung. Di situlah ujian yang sesungguhnya. Banyak banget pembelajaran tentang hidup yang bisa kita ambil dari film ini," ungkap Joshia.
‎Siapkan Tisu dan Peluk Orang Terdekatmu!
‎Nobody Loves Kay adalah film yang sangat lekat dengan siapa saja yang sedang berjuang mencari jati diri, memulihkan hubungan dengan keluarga, dan membuktikan diri pada dunia. Setelah sukses memicu banjir air mata di malam Gala Premiere dan rangkaian Special Screening di berbagai kota, film ini siap mengaduk-aduk emosi penonton secara massal mulai hari ini.
‎Bersiap-siaplah, karena ledakan emosional di akhir film ini dijamin akan membuatmu menangis. Tiket sudah dapat dibeli di seluruh bioskop kesayangan Anda. Pantau terus akun sosial media resmi @nobodyloveskay untuk informasi theater visit, nonton bareng, dan pembaruan terkini!

Keajaiban Berawal Dari Rasa Percaya, Saksikan Garuda Di Dadaku Mulai 11 Juni 2026 Di Bioskop‎

Jakarta, 3 Juni 2026 Setelah melalui perjalanan panjang dan melibatkan ratusan kreator animasi Indonesia, film animasi keluarga Garuda Di Dadaku akhirnya siap menyapa penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 Juni 2026.
‎Mengangkat kisah Putra (Keanu Azka), seorang anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pemain tim nasional Indonesia, Garuda Di Dadaku bukan hanya bercerita tentang mimpi besar seorang anak. Film ini adalah kisah tentang rasa takut, keraguan, kegagalan, dan orang-orang yang tetap memilih untuk percaya pada kita ketika kita mulai meragukan diri sendiri.
‎Dalam perjalanannya, Putra ditemani oleh Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis yang membawanya menemukan kembali keberanian untuk melangkah. la juga ditemani oleh Naya (Quinn Salman), sahabat yang selalu hadir untuk mengingatkan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar ketika kita tidak berjalan sendirian.
‎Melalui petualangan yang hangat, emosional, dan penuh tawa, Garuda Di Dadaku mengajak keluarga Indonesia melihat bahwa keajaiban sering kali tidak dimulai dari kemenangan besar, melainkan dari satu langkah kecil, satu dukungan sederhana, dan satu orang yang memilih untuk percaya.
‎"Bagi saya, Garuda Di Dadaku lahir dari pengalaman yang sangat personal. Saya percaya setiap anak pernah merasa tidak cukup baik, pemah takut gagal, atau merasa mimpinya terlalu jauh untuk diraih. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Dan sering kali yang membuat kita terus melangkah bukan karena kita tiba-tiba menjadi berani, tetapi karena ada seseorang yang lebih dulu percaya pada kita," ujar sutradara Ronny Gani.
‎Pesan tersebut juga menjadi alasan mengapa Garuda Di Dadaku dirancang sebagai film keluarga.
‎"Sebagai orang tua, kadang kita lupa bahwa satu kalimat sederhana, satu bentuk dukungan kecil, bisa menentukan apakah seorang anak berani melangkah atau memilih menyerah. Garuda Di Dadaku adalah pengingat bahwa kepercayaan yang kita berikan hari ini bisa menjadi bagian penting dari mimpi besar mereka di masa depan," ujar produser Shanty Harmayn.
‎Selain menghadirkan petualangan yang menghibur, Garuda Di Dadaku juga menjadi wujud kolaborasi besar para kreator animasi Indonesia. Film ini mempertemukan ratusan talenta dari berbagai disiplin kreatif dan studio animasi untuk menghadirkan sebuah cerita yang dekat dengan pengalaman keluarga Indonesia. Selain diproduksi oleh KAWI Animation, film ini turut melibatkan studio-studio animasi dan kreatif seperti Imaji Studio, Manimonki Studio, Leomotions Studio, Robot Playground Media, Ayena Studio, BRD Studio, Bara Studio, AtomicTune Studio, Loom Creations, Moving Things Production, IMV Studio, Shark Animation, LiteFX, serta Brown Bag Films Bali.
‎Perjalanan Garuda Di Dadaku juga mendapat pengakuan di panggung internasional. Film ini baru saja terpilih sebagai salah satu nominasi kategori Animation dalam Golden Goblet Awards di ajang Shanghai International Film Festival 2026 dan bersaing bersama karya-karya animasi dari Brazil, Swedia, Norwegia, Denmark, Prancis, Spanyol, Chile, dan Argentina. Pencapaian ini menjadi salah satu langkah penting bagi animasi Indonesia untuk semakin dikenal dan diperhitungkan di kancah global.
‎Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, Garuda Di Dadaku merupakan interpretasi animasi baru dari IP legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah hidup di hati banyak keluarga Indonesia selama lebih dari satu dekade.
‎Film ini disutradarai oleh Ronny Gani, dengan Dewi Rosma sebagai Produser Pelaksana. Tim kreatif inti Garuda Di Dadaku juga mencakup R. Katamsi sebagai Art Director, Dimas Yoga MK sebagai Animation Director, Herwin Arkiando sebagai 3D Asset Supervisor, serta Dika Irami sebagai Lighting, Render & Compositing Supervisor.
‎Garuda Di Dadaku menghadirkan jajaran pengisi suara Keanu Azka, Kristo Immanuel, Quinn Salman, Ibnu Jamil, Revalina S. Temat, Sal Priadi, Ringgo Agus Rahman, Rizky Ridho, Zee Asadel, Oki Rengga, Emir Mahira, dan Bima Sena.
‎Film ini juga menghadirkan dua original soundtrack, yaitu "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati dan "Bersama Sang Garuda" yang dinyanyikan oleh Quinn Salman.
‎‎Saksikan Garuda Di Dadaku mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia.
‎Tiket film animasi keluarga GARUDA DI DADAKU sudah bisa dibeli mulai hari ini di semua online platform bioskop XXI, CGV dan Cinepolis juga TIX.ID.
‎Karena setiap mimpi besar selalu dimulai dari seseorang yang percaya.
‎#GarudaDiDadaku #BeraniBermimpi
‎Kontak Media
‎Emira P. Pattiradjawane 
‎thePublicist Haus
‎+62 822-1197-5148
‎kontak.thepublicist@gmail.com
‎Catatan tentang Garuda Di Dadaku
‎Garuda Di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission serta bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.
‎Akun Resmi:
‎Instagram: @base.id | @garudadidadaku.film
‎TikTok: @base.id | @garudadidadaku.film
‎YouTube: BASE Entertainment Indonesia | @BASEIndonesia
‎Tentang BASE Entertainment
‎BASE Entertainment adalah studio produksi terkemuka di Asia Tenggara dengan kantor di Indonesia dan Singapura, didirikan oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, dan Ben Soebiakto. Spesialis dalam produksi film dan serial berkualitas tinggi untuk penonton global, studio ini berkolaborasi dengan talenta-talenta kreatif terbaik untuk menghadirkan cerita dari Asia ke dunia, termasuk Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) karya Joko Anwar yang tayang perdana di 2020 Sundance Film Festival dan membawa piala terbanyak di Festival Film Indonesia di tahun yang sama, Gadis Kretek (Cigarette Girl) serial orisinal Indonesia Netflix pertama yang masuk ke daftar Top 10 Global Netflix, serial animasi orisinal Netflix Asia Tenggara pertama Trese, serta Petualangan Sherina 2 (Sherina's Adventure 2) yang memecahkan rekor box office di Indonesia. Dengan komitmen kuat pada inovasi cerita, BASE Entertainment terus mengembangkan produksi-produksi berkualitas yang menjembatani narasi regional dengan daya tarik global.
‎Tentang KAWI Animation
‎KAWI Animation adalah studio pengembangan IP animasi yang berbasis di Jakarta, dengan tim talenta terbaik Indonesia yang memiliki spesialisasi di bidang Character Designs, Environment Concepts, Narrative & Story development, dan 3D RnD. Sebagai bagian dari ekosistem BASE Entertainment, studio film terkemuka Asia Tenggara yang didirikan oleh Shanty Harmayn, Ben Soebiakto, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, KAWI Animation berkolaborasi dengan berbagai kreator dan studio untuk mengembangkan IP berkualitas yang siap diproduksi menjadi karya animasi. Dukungan dari BASE Entertainment yang telah memproduksi karya-karya seperti serial orisinal Indonesia Netflix Gadis Kretek (Cigarette Girl) dan serial animasi orisinal Netflix Trese, COMEDY ISLAND Indonesia & Filipina di Prime Video, serta film Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore), memperkuat posisi KAWI Animation sebagai pengembang IP animasi terdepan di Indonesia yang menghubungkan talenta lokal dengan standar produksi internasional. 
‎INFORMASI FILM
‎Sutradara : Ronny Gani
‎Penulis Skenario : Sofia Lo, Makbul Mubarak
‎Berdasarkan film orisinil Garuda Di Dadaku oleh Salman Aristo dan Shanty Harmayn
‎Produser : Shanty Harmayn, Tanya Yuson, Aoura Lovenson Chandra, Ben Soebiakto, Ronny Gani
‎Produser Eksekutif : David Wayne Ika, Raharja Suwitono, Atta Halilintar, Peter Harjani, Jackol Kao, Agus Wibowo, Ervin Han, Bernard Toh, Adi Sumarjono, Michelle Nadya Suwarno, M Fajrin Rasyid, Sylvie Kim, Yoonhee Choi
‎Pengarah Artistik : R Katamsi
‎Animation Director : Dimas Yoga
‎Supervisor Asset 3D : Herwin Arkiando
‎Supervisor Lighting Render & Compositing
‎Compositing : Dika Irami
‎Penyunting Gambar : Aline Jusria
‎Penata Musik : Ricky Lionardi
‎Penata Suara : Hiro Ishizaka
‎Voice Director : Rudolf Baldonado Jr.
‎Voice Coach : Jati Andito
‎Produser Pelaksana : Dewi Rosma Aswati
‎Asisten Produser : Vanesa Valensca, Theo Napitupulu, Aloysia Rarasningtyas
‎Eksekutif Pengembangan
‎Kreatif : Sasthi Nandani
‎Penyelia Pascaproduksi : Fabrian Hendro
‎Pemeran :
‎Kristo Immanuel sebagai Gaga 
‎Keanu Azka sebagai Putra 
‎Quinn Salman sebagai Naya 
‎Bima Sena sebagai Aldo 
‎Revalina S Temat sebagai Dewi Garuda 
‎Ringgo Agus Rahman sebagai Bima Garuda 
‎Sal Priadi sebagai Jaya Garuda 
‎Rizky Ridho sebagai Saka Garuda 
‎Zee Asadel sebagai Isha Garuda 
‎Emir Mahira sebagai Bayu 
‎Ibnu Jamil sebagai Ayah Putra 
‎Oki Rengga sebagai Coach Ronggur

Rabu, 03 Juni 2026

Film Monster Pabrik Rambut Menyajikan Horor Fantasi Retro dengan Pengalaman Sinematik yang Berbeda, Mengangkat Secara Jujur Keresahan Jutaan Pekerja Tentang Normalisasi Lembur Kurang Tidur

Jakarta, 1 Juni 2026 Palari Films mempersembahkan flim terbaru karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut, yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026 Dibintangi oleh Rachel Armanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi. dan Kev, Monster Pabrik Rambut menghadirkan pengalaman horor fantasi retro dari latar pabrik rambut dan situasi para pekerjanya yang kurang tidur.
‎Edwin menghadirkan sosok monster, yang turut menawarkan keberagaman genre horor di Indonesia. Situasi-situasi horar di film ini dibangun dari atmosfer pabrik rambut yang creepy, sosok Bos Maryati (Didik Nini Thowok) yang tersenyum manis namun eksploitatif, serta serangkaian kejadian janggal yang menimpa para pekerja mereka.
‎Sebagai sutradara yang karya-karyanya telah diakui secara internasional dari berbagai festival dan ajang penghargaan, Edwin kembali membawa kebaruan dengan eksperimen. visual dan eksplorasi cerita yang inovatif di Monster Pabrik Rambut. Di film ini, Edwin mengkritisi hustle culture yang justru diglorifikasi, dengan menghadirkan ketegangan horor yang berasal dari rutinitas kerja sehari-hari, bukan horor spiritual.
‎Film ini menyoroti realita bahwa kerja berlebihan juga bisa membawa pada situasi yang menyeramkan. Dengan mengangkat keresahan jutaan pekerja saat lembur dinormalisasi, Monster Pabrik Rambut secara jujur meneriakkan jeritan yang sudah terlalu lama ditahan oleh para pekerja Indonesia.
‎Eksplorasi Edwin di Monster Pabrik Rambut salah satunya ditunjukkan dengan pendekatan practical effect tanpa CGI, untuk menampilkan sisi retro yang ada di film ini. Menjadi sebuah tawaran yang segar dan berbeda di tengah lanskap film horor Indonesia saat ini.
‎Edwin juga kembali bermain-main dengan fantasinya yang unik dan eksentrik dengan hadirnya sosok Monster di film ini, Bos Pabrik, Maryati, yang memanfaatkan persona misterius Didik Nini Thowok, serta kehadiran karakter Bona yang didesain mampu meregenerasi tubuhnya. Visualisasi yang tampak 'liar dan berani adalah sisi fantasi film Monster Pabrik Rambut, meneruskan visi sinematik dari filmografinya terdahulu.
‎Lewat Monster Pabrik Rambut, Edwin menghadirkan gagasan horor yang hadir dari rutinitas keseharian para pekerja. Menggabungkannya dengan genre yang paling populer, menjadi sebuah pengalaman menonton horor yang berbeda.
‎Di Monster Pabrik Rambut, Edwin bermain dengan bentuk horor. Bukan dalam bentuk horor spiritual, namun terinspirasi dari horor dan film retro Indonesia era 80-an, dengan menciptakan ketegangan dari nuansa atmosferik dan banyak mengandalkan practical effect.
‎"Ketegangan dan teror horor di Monster Pabrik Rambut tercipta dari situasi kita bekerja sehari-hari yang kita hadapi, tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror," ujar sutradara Edwin.
‎Untuk menciptakan nuansa atmosferik horor fantastis retro di Monster Pabrik Rambut. Edwin menggandeng desainer produksi Menfo Tantono, Pemenang Piala Citra FFI 2024 untuk Penata Artistik Terbaik. Edwin dan Menfo menyulap Studio PFN menjadi sebuah pabrik rambut dengan kehadiran rambut asli hingga sekitar dua truk, beserta manekin, prostetik, sisir paku, dan berbagai elemen yang ada di pabrik rambut/wig di dunia nyata.
‎Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Monster Pabrik Rambut turut menjadi ko-produksi internasional lima negara, Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Film ini lebih dulu tayang perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival 2026. Monster Pabrik Rambut juga telah tayang di berbagai festival film internasional termasuk Brussels Fantastic Film Festival, Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026, dan yang akan datang Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada.
‎"Keinginan Palari Films membuat film horor adalah sebuah kebutuhan untuk mencoba menghasilkan karya baru, sambil memperkaya khasanah film horor Indonesia. Ide awal film Monster Pabrik Rambut muncul saat Edwin datang dengan pernyataan bahwa sepertinya tempat kerja kita bisa lebih horor dibandingkan film horor itu sendiri. Kita semua pernah merasakan ini, apapun bidang pekerjaan kita. Bagaimana bentuk Monster di tempat kerja kamu?," ujar produser Meiske Taurisia.
‎Rachel Amanda, yang memerankan Putri, mengungkapkan Monster Pabrik Rambut membawa tema yang sangat dekat untuk kelas pekerja di segala lini. Film ini menjadi refleksi terhadap kondisi kerja yang belum ideal.
‎"Paling relate dari film ini adalah kita para pekerja kan sering sekali lembur, bahkan terkadang sampai harus mengorbankan beberapa hal di hidup kita seperti waktu dengan keluarga atau waktu luang. Cerita dan para karakter di film ini memperlihatkan betapa horornya dunia kerja yang terkadang bahkan dinormalisasi, Sakit dianggap kerja keras, tapi apakah sistem kerjanya itu benar?" Ujar Rachel Amanda
‎Sementara Iqbaal Ramadhan, yang memerankan Bona, menyebutkan karakternya sangat unik dan imajinatiĆ„. Untuk menciptakan Bona, Iqbaal banyak berdiskusi dengan Edwin.
‎"Bona adalah karakter yang unik, ajaib, fantastis, dan aneh. Bentuknya berbeda tapi tetap punya keterkaitan yang penting dengan cerita yang diangkat di film ini. Monster Pabrik Rambut adalah horor retro fantastis yang keren dari Edwin, nikmati perjalanannya," ujar Iqbaal.
‎"Bona juga menjadi simbol resistansi terhadap standar produktivitas gila-gilaan yang dipaksakan oleh sebuah sistem kepada diri kita yang banyak terjadi saat ini dan banyak dinormalisasi," tambah Iqbaal.
‎Saksikan Monster Pabrik Rambut yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
‎Sinopsis
‎‎PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
‎Tentang Palari Films
‎Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".
‎Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 120 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesortuk (2022). "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Monster Pabrik Rambut Tayang Mulai Hari Ini di Bioskop! Membawa Horor yang Berani, Mengkritisi Dunia Kerja yang Eksploitatif

Jakarta, 4 Juni 2026 Film terbaru persembahan Palari Films, karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut mulai tayang hari ini d...